BREAKING NEWS
 

Memaknai Sumpah Pemuda di Era Digital

Writer : MUHAMAD ROSIT
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 28 Oktober 2025 21:58 WIB
Muhamad Rosit (Foto: Dok. Pribadi)

Bangsa Indonesia merayakan momentum historis setiap 28 Oktober yang juga menjadi fondasi persatuan nasional. Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku, daerah, dan ragam keyakinan se-nusantara berikrar: bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu untuk Indonesia. Tiga ikrar ini tentu bukan hanya sekadar simbolik, melainkan juga manisfestasi kesadaran kolektif para pemuda yang menyadari bahwa kemerdekaan pasti akan diraih melalui persatuan bangsa.

Hampir satu abad ikrar itu disuarakan para pemuda se-nusantara, kini kita hidup dalam dunia yang berbeda. Perkembangan teknologi dan media digital memunculkan kemudahan akses sekaligus juga menciptakan tantangan baru untuk generasi muda. Ruang publik konvensional telah bergeser menjadi ruang publik virtual dan surat kabar kini berubah menjadi media digital tanpa batas. Ragam informasi menyebar dalam hitungan detik, informasi di media sosial dalam genggaman algoritma dan identitas budaya bernegosiasi dengan dunia globalisasi yang kian mengkhawatirkan. Di tengah disrupsi media yang revolusioner ini, bagaimana makna sumpah pemuda bagi generasi digital saat ini? 

Identitas Nasional dalam Globalisasi Digital

Salah satu nilai vital dari sumpah pemuda yakni pembentukan identitas bangsa. Namun, kini di ruang digital, konsep identitas mengubah menjadi bentuk baru. Pemuda kini tumbuh di dunia global yang sangat cair tanpa batas. Di satu sisi, hal ini menjadi peluang, namun di sisi lain ada kekhawatiran akan lunturnya budaya dan identitas bangsa diri kita.

Baca juga : Semangat Sumpah Pemuda Warnai Wisuda Universitas Budi Luhur

Sebagaimana para pemuda masa itu (1928) menjadikan bahasa Indonesia sebagai simbol pemersatu di tengah keberagaman, generasi muda saat ini harus menjadikan bahasa digital sebagai ruang ekspresi yang etis, santun, terbuka dan mencerdaskan. Bahasa bukanlah alat komunikasi semata, tetapi bahasa juga merepresentasikan logika berpikir dan sarana untuk mengekspresikan bagaimana kita mencintai bangsa ini.

Jika dahulu kala, bangsa kita susah sekali dalam menyatukan nusantara karena sekat geografis dan ego primordial, kini tidak hanya sekadar susah, tetapi justru tantangannya semakin kuat yakni adanya polarisasi dan fragmentasi digital yang kian semakin mengancam. Ruang digital sering kali menjadi medan polarisasi dari berbagai kelompok sosial, pandangan agama hingga ragam preferensi budaya. Algoritma kenyataannya memperkuat “echo chamber”, ketika lebih sering mendengar suara yang sejalan dengan pikiran kita sendiri daripada suara kebenaran. Pada akhirnya semangat persatuan malah terkikis oleh egoisme digital.

Oleh karena itu, sumpah pemuda di era digital menjadi sangat vital karena persatuan bukan hanya soal menyatukan wilayah dan kebhinekaan, tetapi menyatukan narasi dan empati di ruang digital secara kolaboratif. Anak muda dalam perspektif literasi digital termasuk masyarakat berperhatian yang diharapkan mampu menciptakan ruang digital yang sehat, produktif dan dialogis. Sumpah pemuda dimaknai dengan cara membagikan infomasi kebenaran, menghargai perbedaan, serta mengutamakan etika digital. 

Persatuan kini tidak hanya soal satu kongres, tetapi jejaring kolaborasi digital lintas daerah dan primordial. Anak muda dari Sabang hingga Merauke berkreasi dalam proyek edukatif dan konstruktif. Jika demikian, para pemuda masa kini sedang menghidupkan semangat persatuan yang sama nilainya dengan sumpah pemuda tahun 1928.

Baca juga : Islam, Sumpah Pemuda Dan Visi Kebangsaan

Dari Ikrar ke Inovasi

Sumpah pemuda pada dasarnya lahirnya ruang dialog bersama. Para pemuda lintas daerah berkumpul untuk merumuskan visi tetang masa depan bangsa. Dalam konteks digital kikinian, semangat dialog bisa dimaknai ke dalam kolaborasi inovatif.

Kini sumpah pemuda tidak lagi dipahami dengan kata-kata belaka, melainkan dengan karya nyata para pemuda. Mereka menciptakan startup, menggerakkan literasi digital, memproduksi konten edukatif dan membangkitkan semangat ekonomi kreatif. Gerakan nyata di ruang digital merupakan semangat sumpah pemuda yang bereinkarnasi dalam bentuk yang lebih kekinian sesuai dengan konteks zamannya.

Sumpah pemuda tidak boleh berhenti hanya sebatas seremonial belaka, tetapi juga harus menjadi refleksi mental bagi generasi muda di ruang digital. Di tengah tsunami informasi dan distraksi, pemuda perlu mengucapkan “sumpah baru” yakni bersatu dalam literasi (Unity in literacy), berbangsa dalam empati (Nationhood in empathy), dan berbahasa dalam kebenaran (Speaking in truth).

Baca juga : Mendagri Tito: Pemda Wajib Dukung Program Strategis Nasional

Oleh karena itu, makna sumpah pemuda tidak hanya sebatas peringatan, tetapi kita harus mampu menghidupkan nilai-nilai persatuan dalam kehidupan digital. Ketika pemuda melawan hoaks, ujaran kebencian, polarisasi politik dan lebih menghargai keberagaman pendapat, mengoptimalkan media sosial untuk hal-hal yang produktif, inilah nilai sumpah pemuda menemukan bentuk baru di era digital.

Jika tahun 1928 para pemuda bersatu dalam satu ruang kongres untuk membangkitkan bangsa, maka kini generasi digital harus bersatu dalam satu ruang digital untuk menjaga masa depan Indonesia. Dari ikrar menuju aksi nyata, dari sejarah menuju inovasi, maka sumpah pemuda menemukan relevansi pada zamannya.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense