BREAKING NEWS
 

WHO Kagum, Jahe Merah Indonesia Naik Kelas Ke Panggung Dunia

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Sabtu, 1 November 2025 08:17 WIB
dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dalam sebuah siniar menyatakan ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat.

RM.id  Rakyat Merdeka - Jahe merah, rimpang legendaris yang dulu cuma jadi jamu rumahan, kini naik kelas ke panggung dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lewat International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) memberikan apresiasi terhadap ekosistem pengolahan herbal milik PT Bintang Toedjoe.

Kunjungan WHO–IRCH ke fasilitas Bintang Toedjoe pekan lalu bukan sekadar agenda rutin, tapi pengakuan bahwa Indonesia punya potensi besar sebagai produsen obat herbal berstandar global. Negara ini disebut memiliki keanekaragaman hayati dan pengetahuan tradisional yang luar biasa, yang kini makin diperkuat dengan riset ilmiah dan sistem produksi modern.

“Ribuan tumbuhan sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan herbal sejak zaman nenek moyang. Kita bahkan sudah punya farmakope herbal sendiri untuk standarisasi produk. Salah satunya jahe merah yang makin populer sejak pandemi COVID-19,” kata dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dalam sebuah siniar di YouTube.

Jahe merah memang bukan pemain baru di dunia pengobatan alami. Dari Jawa sampai Dayak, dari Bugis sampai Batak, masyarakat sudah lama memanfaatkannya untuk menjaga vitalitas dan daya tahan tubuh. Kini, penelitian modern mengonfirmasi kebijaksanaan lokal itu.

Baca juga : Malam Ini, Persija Bidik 3 Kemenangan Beruntun Di Manahan

Kandungan gingerol, shogaol, dan zingerone di dalamnya terbukti punya sifat anti-inflamasi, antioksidan, antidiabetes, dan antibakteri. Sejumlah studi—termasuk yang dimuat di Phytotherapy Research dan Journal of Ethnopharmacology—menunjukkan ekstrak jahe merah mampu mengurangi gejala arthritis dan membantu mengontrol kadar gula darah.

Namun, menurut dr. Inggrid, potensi besar itu tak akan maksimal tanpa ekosistem yang solid. “Autentisitas, kemurnian, dan mutu adalah tiga aspek yang harus dijaga. Kita perlu ekosistem dari hulu ke hilir agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, aman, berkualitas, dan berkhasiat,” ujarnya.

Adsense

Ekosistem yang dimaksud mencakup semua rantaim. Dari perbenihan, budidaya bersama petani binaan, proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, riset, hingga produk jadi. Model inilah yang diapresiasi WHO–IRCH ketika meninjau fasilitas PT Bintang Toedjoe.

“Mayoritas industri obat herbal kita belum punya ekosistem lengkap, sehingga sulit menelusuri sumber bahan baku. Ini tantangan yang perlu diselesaikan bersama pemerintah dan pelaku usaha agar bisa bersaing di pasar global,” kata dr. Inggrid.

Baca juga : PLN Hadirkan Energi Berdaulat, Ribuan Warga Indonesia Akhirnya Nikmati Terang

Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan WHO–IRCH ke-16. Dalam agenda itu, WHO mengunjungi industri yang dianggap sudah menerapkan praktik terbaik—termasuk Bintang Toedjoe, dengan jahe merah sebagai ikon herbal nasional.

“Kunjungan ini jadi masukan penting bagi WHO dalam penyusunan farmakope herbal internasional. Indonesia bisa menunjukkan kemajuan besar dalam riset dan industri herbal,” ujar dr. Inggrid.

Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe Fanny Kurniati menegaskan, pihaknya konsisten membawa semangat From Nature to Science dalam setiap tahap produksi. “Kami bangga Indonesia punya jahe merah sebagai warisan budaya yang kaya manfaat. Jahe merah yang kami gunakan untuk Bejo Jahe Merah dan Komix Herbal sudah teruji aman dan berkhasiat untuk daya tahan tubuh dan anti-inflamasi,” ujarnya.

Seluruh fasilitas produksi Bintang Toedjoe telah tersertifikasi CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) oleh BPOM, serta ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001.

Baca juga : Gemira Ajak Pemuda Wujudkan Indonesia Adil Dan Disegani Dunia

Kunjungan WHO–IRCH ini menutup rangkaian pertemuan tahunan di Indonesia dan sekaligus menegaskan posisi negeri ini sebagai salah satu pusat riset dan produksi obat herbal berstandar internasional.

“Ini kehormatan besar bagi kami dan bagi Indonesia,” tutur Fanny. “Kami ingin membawa pengetahuan lokal yang dibuktikan sains ke masyarakat global—dimulai dari jahe merah.”

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense