BREAKING NEWS
 

Beban DBD Masih Tinggi, Pemerintah dan Swasta Kompak Tekan Lonjakan Kasus

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Minggu, 2 November 2025 19:42 WIB
Media briefing Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue, di Jakarta, Minggu (2/11/2025). (Foto: Dok. Takeda)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebagai langkah memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di musim hujan, Takeda bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan menggelar media briefing bertajuk “Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue”.

Acara digelar di Jakarta, Minggu (2/11/2025). Acara ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan sebagai dasar penanganan dengue, terutama saat Indonesia dihadapkan pada risiko peningkatan kasus akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2025/2026 akan datang lebih awal, yakni mulai Agustus di sejumlah wilayah, dengan puncaknya antara November–Desember 2025 dan Januari–Februari 2026 di Kalimantan Timur. Kondisi ini berpotensi meningkatkan bahaya hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, sekaligus mempercepat perkembangbiakan nyamuk penyebab dengue.

President Global Vaccine Business Unit Takeda Pharmaceuticals, Derek Wallace, menyebutkan bahwa selama lima tahun terakhir dunia mencatat peningkatan signifikan kasus dengue, terutama di kawasan Amerika.

“Hingga akhir April 2024, lebih dari 7,6 juta kasus telah dilaporkan ke WHO, termasuk 16 ribu kasus berat dan lebih dari 3 ribu kematian. Indonesia sendiri menyumbang sekitar 66 persen kematian akibat dengue di Asia dan menjadi negara dengan kasus tertinggi di ASEAN pada 2024,” ujar Derek.

Namun, katanya, di tengah tren global itu, Indonesia justru berhasil menekan laju kasus dengue secara signifikan pada 2025.

“Pencapaian ini patut diapresiasi dan mencerminkan kuatnya komitmen pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan. Untuk mempertahankan momentum ini dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan,” tegasnya.

Baca juga : CAAIP Dukung Pemerintah Naikkan Status Akademik STIP Jakarta

Pelaksana Harian Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Prima Yosephine, menuturkan bahwa Indonesia terus mengintensifkan penanggulangan dengue melalui pendekatan komprehensif multisektoral sesuai Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021–2025.

“Kami memperkuat surveilans, pengendalian vektor, peningkatan kesadaran masyarakat, serta memperluas akses terhadap langkah pencegahan dan perlindungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kasus dengue di Indonesia terus meningkat: dari 95.279 kasus pada 2005, menjadi 114.720 pada 2023, dan melonjak menjadi 257.271 pada 2024. Hingga 28 Oktober 2025, tercatat 131.393 kasus dengan 544 kematian.

“Dengue masih jadi ancaman serius dan butuh kewaspadaan berkelanjutan. Kemenkes berkomitmen mencapai target Zero Dengue Deaths 2030 lewat kolaborasi di semua sektor,” katanya.

Beban dengue juga terasa di sisi ekonomi. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. Ali Ghufron Mukti, mengatakan bahwa peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang terdiagnosis DBD tetap dijamin penuh oleh program pemerintah.

Adsense

“Masih banyak yang salah paham, mengira DBD tidak bisa dirujuk. Padahal tetap dijamin, bisa ditangani di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan dirujuk jika ada indikasi medis,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembiayaan dengue meningkat tajam. Biaya klaim perawatan pasien dengue naik dari Rp 626 miliar pada 2021, menjadi Rp 1,39 triliun di 2022, Rp 1,26 triliun di 2023, dan melonjak dua kali lipat menjadi Rp 2,9 triliun pada 2024 untuk lebih dari satu juta kasus rawat inap.

Baca juga : Kementerian Komdigi Himpun Aspirasi Lewat Konsultasi Publik

Menurutnya, tren ini menegaskan bahwa pencegahan harus diperkuat. “BPJS Kesehatan berkomitmen mendukung langkah pemerintah bersama Kemenkes dan mitra swasta seperti Takeda untuk memperkuat strategi pencegahan dengue,” katanya.

Dari sisi medis, Penasihat Satgas Imunisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, menjelaskan bahwa dengue pada kelompok dewasa, terutama dengan penyakit penyerta, bisa memicu komplikasi serius.

“Pasien hipertensi bisa alami kondisi 2–3 kali lebih berat, obesitas 1,5–2 kali, diabetes 3–5 kali, bahkan gangguan ginjal kronis bisa sampai tujuh kali lipat lebih berat,” terangnya.

Ia menambahkan, pencegahan dan deteksi dini sangat krusial. “Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI sudah merekomendasikan vaksin dengue dalam jadwal imunisasi dewasa. Pencegahan ini tanggung jawab bersama lintas usia dan harus dilakukan secara kolektif,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, menegaskan bahwa anak-anak tetap kelompok paling rentan. “Di tahun 2024 saja, sekitar 43 persen kasus dengue terjadi pada golong usia < 14 tahun dengan proporsi kematian terbesar yaitu 53 persen terjadi pada golongan usia 5–14 tahun. Orang tua perlu waspada pada fase kritis hari ke-4 hingga ke-5 demam karena risiko syok sangat tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, hingga kini belum ada obat khusus dengue. “Pencegahan terintegrasi, kebersihan lingkungan, 3M plus, serta imunisasi anak usia empat tahun ke atas sangat penting. "Orang tua harus sigap membawa anak berobat segera bila demam,” tegas Prof. Hartono.

Ketua Harian Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, dr. Asik Surya, menilai kepemimpinan kolaboratif menjadi kunci mencapai target Zero Dengue Deaths 2030.

Baca juga : IIF Dorong Kolaborasi Pemerintah Dan Swasta Dalam Pengembangan Energi Terbarukan

“Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang mampu menyatukan lintas sektor — kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan tata ruang — serta menggerakkan masyarakat secara masif dan berkelanjutan,” ujarnya.

dr. Asik juga menyoroti pentingnya streamline data untuk memperkuat strategi penanggulangan dengue.

“KOBAR siap menjadi katalis kemitraan lintas sektor dan mendorong aksi pencegahan seperti Ayo 3M Plus dan vaksinasi, demi Indonesia bebas kematian akibat dengue pada 2030,” katanya.

Sebagai penutup, Derek Wallace menegaskan komitmen Takeda dalam perjuangan ini. “Kami bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan penting melindungi kesehatan masyarakat Indonesia. Takeda siap berdampingan dengan semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian dengue,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense