BREAKING NEWS
 

Pakar Nilai Orasi Tito Karnavian Bangun Narasi Global Yang Visioner

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Sabtu, 8 November 2025 20:58 WIB
Mendagri Tito Karnavian. (Dok. Kemendagri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar Hukum Internasional dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Triyana Yohanes menilai pandangan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tentang tatanan global yang mengalami pergeseran paradigma besar, relevan dengan kondisi saat ini.

“Pandangan Tito menghadirkan narasi strategis berbasis paradigma konstruktivisme yang sejalan dengan tantangan politik internasional modern. Ini bisa menjadi pijakan bagi kebijakan luar negeri Indonesia,” kata Triyana, dalam keterangannya, Sabtu (8/11/2025). 

Triyana menambahkan, Mendagri Tito berhasil membangun kerangka konstruktivisme modern yang berpijak pada riset, data, dan pengalaman empiris. Ia juga mengaitkan gagasan Tito dengan pandangan ekonom Ray Dalio dalam How Countries Go Broke, bahwa negara yang ingin bertahan di tengah siklus utang global harus memperkuat SDM, teknologi, dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

“Pembangunan hukum dan tata kelola bersih harus menjadi fondasi. Tanpa itu, potensi besar yang disampaikan Tito akan sulit diwujudkan,” sebut Triyana.

Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian memaparkan pandangan strategis tentang arah tatanan dunia baru. Paparan itu disampaikan Tito dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-65 Universitas Sriwijaya (Unsri) bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Indonesia Emas 2045". 

Baca juga : Malam Ini, Persija Bidik 3 Kemenangan Beruntun Di Manahan

Dalam orasi ilmiah berdurasi hampir dua jam itu, Tito menjelaskan tatanan global saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma besar. Dunia, menurutnya, telah melewati sejumlah fase perubahan hingga sampai pada era di mana kekuatan tidak lagi ditentukan oleh militer semata, tetapi oleh ekonomi, budaya, dan pengetahuan.

“Saya berada dalam posisi paradigma konstruktivisme. Artinya, banyak hal kini diselesaikan bukan dengan kekuatan militer, tapi melalui ekonomi, perdagangan, sosial, dan budaya. Pertarungan yang paling menentukan saat ini adalah pertarungan ekonomi,” kata Tito. 

Tito menegaskan, dalam tatanan dunia baru, pertarungan ekonomi akan menjadi faktor penentu dominasi global. Negara yang mampu memproduksi barang dan jasa secara masif, menguasai rantai pasok dunia, dan mendistribusikannya ke pasar global akan memegang kendali atas ekonomi dunia.

Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya itu turut mengutip pemikiran Prof. Sait Yilmaz dalam buku State, Power, and Hegemony. Tito menyebutkan empat faktor utama yang menentukan kapasitas produksi suatu negara. 

Adsense

Pertama angkatan kerja besar sebagai mesin utama produksi. Kedua, sumber daya alam melimpah sebagai bahan baku produksi. Ketiga, wilayah luas sebagai ruang penyimpanan dan distribusi hasil produksi. Keempat, letak geografis strategis yang berfungsi sebagai choke point perdagangan internasional.

Baca juga : BI Dorong Kolaborasi Perkuat Ketahanan Pangan Di Sulampua

"Saya menambahkan faktor keempat, yaitu letak geografis strategis. Indonesia berada di jalur vital dunia. Jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik, posisi ini dapat memengaruhi ekonomi negara lain,” tegas Tito.

Dengan empat modal besar itu, Tito menilai hanya segelintir negara yang memenuhi syarat untuk menjadi kekuatan dominan dunia. Yakni China, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Indonesia.

Tito optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi dunia keempat pada 2045. Namun, ia mengingatkan keunggulan sumber daya alam (SDA) saja tidak cukup.

“Negara itu maju bukan karena SDA, tapi karena SDM-nya. Bonus demografi Indonesia sebesar 68,95 persen dari total populasi harus diarahkan melalui pendidikan agar menjadi kekuatan produktif,” jelas eks Kapolri itu. 

Ia mencontohkan kesuksesan Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, yang mampu menjadi negara maju tanpa SDA melimpah, melainkan dengan investasi besar pada pendidikan dan beasiswa bagi generasi terbaiknya.

Baca juga : PLN Nyalakan 8.000 Titik Kehidupan Baru: Energi Berdaulat dari Sabang hingga Bali

Tito juga menilai, arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Terutama melalui program pendidikan dan kesehatan rakyat seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan beasiswa kedokteran.

Tito berpandangan, perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menyiapkan SDM unggul yang mampu beradaptasi dengan perubahan global.

“Perguruan tinggi harus bertransformasi. Dunia berubah cepat, dan kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus jadi pemain utama dalam tatanan global baru,” terangnya. 

Ia mendorong universitas untuk keluar dari paradigma menara gading dan tampil sebagai pusat inovasi, riset, dan teknologi. Tujuannya agar mampu menggerakkan transformasi nasional menuju perekonomian berbasis pengetahuan dan digital.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense