BREAKING NEWS
 

Muktamar Krapyak: Ulama Muda Rumuskan Teologi Kerukunan Kosmik

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 13 Desember 2025 14:26 WIB
Muktamar Pemikiran Ulama Muda untuk Moderasi Beragama dan Eko-Teologi yang digelar di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak menjadi ruang intelektual penting bagi perjumpaan gagasan keagamaan dan krisis ekologis. Hal itu mengemuka dalam Muktamar Pemikiran Ulama Muda untuk Moderasi Beragama dan Eko-Teologi yang digelar pada 12–13 November 2025.

Mengusung tema “Teologi Kerukunan Kosmik: Relasi Tuhan, Manusia, dan Alam”, muktamar ini menghadirkan akademisi, ulama, dan peneliti untuk merumuskan peran strategis agama dalam merespons kerusakan lingkungan dan bencana yang kian masif.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Prof. Marhumah, menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam memahami konsep manusia sebagai khalifah di bumi. Menurutnya, tafsir antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam perlu dikritisi.

“Perlu pergeseran pemaknaan khalifah di muka bumi, di mana manusia harus sejajar dengan bumi dalam aspek peran dan tanggung jawab,” ujarnya. Ia menambahkan, alam semesta harus dipahami sebagai makhluk hidup karena seluruh ciptaan Tuhan memiliki nilai kehidupan.

Baca juga : Sultan Ajak Anak Muda Sukseskan Program Prioritas Presiden

Dalam konteks tersebut, pesantren dinilai strategis untuk mengubah cara pandang relasi Tuhan, manusia, dan alam. Bahkan, Marhumah mendorong agar hifdzul biah atau menjaga lingkungan ditambahkan sebagai tujuan baru dalam maqashid syariah.

Sementara itu, Guru Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Alie Humaidi, berbicara soal Sumatera yang yang disebabkan kerakusan manusia. “Bencana alam di Sumatera adalah potret kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia, terutama korporasi yang mengatasnamakan kebutuhan manusia,” katanya.

Adsense

Ia menilai, umat beragama saat ini mengalami krisis praksis ekologis. “Umat beriman hanya mengejar kepuasan spiritual-ritual, tetapi tidak mempunyai aspek ekologi,” tegasnya.

Prof. Alie juga menyoroti peran pesantren yang secara historis dekat dengan alam. Menurutnya, pesantren dahulu hidup berdampingan dengan sungai, hutan, dan persawahan, serta memiliki kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. “Banyak pesantren mampu mendorong kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Baca juga : Wuling Darion Pakai Platform Baru Dan Teknologi Elektrifikasi Canggih

Dari perspektif fikih dan teologi Islam, KH. Moqsith Gazali dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), menegaskan hubungan ontologis manusia dan alam. “Dalam Al-Qur’an, manusia diciptakan dari elemen bumi. Artinya, manusia bersaudara dengan alam semesta,” terangnya.

Ia menjelaskan, meskipun manusia memiliki fungsi eksploitasi, Al-Qur’an juga menegaskan tugas konservasi atau imarah. Namun, menurutnya, yang terjadi justru ketimpangan. “Manusia lebih ingat fungsi eksploitasi daripada fungsi konservasi,” ujarnya.

Kiai Moqsith juga menyoroti keterbatasan hukum Islam kontemporer dalam merespons krisis lingkungan. “Pandangan hukum kita masih menempatkan manusia sebagai satu-satunya objek hukum. Padahal kerusakan lingkungan dilakukan oleh persekutuan manusia, dan ini belum memiliki rujukan fikih yang memadai,” jelasnya. Karena itu, ia mendorong perluasan tujuan syariat agar isu lingkungan mendapat posisi lebih kuat.

Muktamar ini diselenggarakan oleh Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama sebagai ikhtiar menggali pemaknaan, peran, dan rekomendasi ulama muda terkait moderasi beragama dan eko-teologi.

Baca juga : Survei KedaiKOPI: Kelas Menengah Alihkan Belanja Ke Kebutuhan Pokok

Rangkaian acara dilanjutkan dengan halaqah tematik yang membahas moderasi beragama dan ekoteologi secara mendalam, serta ditutup dengan rekomendasi dan deklarasi bersama untuk penguatan praktik ekoteologi di tengah masyarakat, khususnya dalam konteks Indonesia yang kerap dilanda bencana.

Muktamar Krapyak menegaskan satu pesan utama: agama, pesantren, dan ulama muda tidak cukup hanya berbicara keselamatan spiritual, tetapi juga dituntut hadir dalam upaya penyelamatan bumi sebagai amanah teologis dan tanggung jawab kemanusiaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense