“Yang kita hadapi hari ini bukan sekadar kesenjangan pembangunan, melainkan jurang peradaban.”
Pergantian tahun biasanya riuh. Kembang api. Hitung mundur. Pelukan. Lalu pulang dengan harapan baru yang sering kali sama dengan harapan lama.
Namun malam itu, tempo justru diturunkan. Tidak ada euforia. Yang ada adalah jeda.
Forum Refleksi Akhir Tahun 2025 untuk Membangun Masa Depan yang digelar BACenter dan Prasasti Center for Policy Studies terasa seperti menarik rem tangan sejarah. Kita diminta berhenti sejenak. Menengok ke dalam. Dengan jujur.
Keprihatinan menjadi pembuka. Banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hadir bukan sebagai statistik, melainkan sebagai peringatan. Bahwa pembangunan tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan.
Namun di balik duka itu, ada satu hal yang masih hidup: gotong royong. Orang-orang saling menolong tanpa diminta. Solidaritas bekerja tanpa instruksi. Indonesia, setidaknya, belum kehilangan nuraninya.
Di titik itu, Burhanuddin Abdullah meletakkan fondasi refleksi. Ia berbicara tenang, tetapi datanya keras. Ada capaian yang patut disyukuri, dari ekonomi desa hingga pemenuhan gizi.
Baca juga : PetroChina Perkuat Efisiensi dan Keamanan Operasi Migas Jabung
Namun di balik itu, angka-angka lain berbicara lebih lantang: daya saing yang tertinggal, kualitas SDM yang belum melonjak, produktivitas yang rendah, inovasi yang seret.
Peringkat global turun. Produktivitas kerja tertinggal jauh dari negara tetangga. Paten hanya ribuan, ketika negara lain ratusan ribu bahkan jutaan.
Kesimpulannya sederhana, tapi tidak ringan, ini bukan sekadar soal kebijakan yang kurang rapi. Ini jurang peradaban.
Maka masalahnya bukan tambal sulam. Bukan pula program musiman. Yang dibutuhkan adalah lompatan, dan lompatan hanya mungkin jika cara berpikirnya direkonstruksi.
Di sinilah Yudi Latif mengambil alih panggung kesadaran. Dengan tema Rekonstruksi Peradaban Indonesia, ia mengajak hadirin melihat pergantian tahun bukan sebagai perubahan angka, melainkan perubahan kesadaran.
Manusia, katanya, bukan hanya homo sapiens yang berpikir, tetapi homo imaginatus yang membayangkan. Tanpa imajinasi kolektif, bangsa hanya akan berjalan di tempat, sibuk, tapi tidak bergerak maju.
Bencana alam, menurut Yudi Latif, bukan semata nasib geologis. Api dan air adalah anugerah. Tapi tanpa etika, api menjadi amuk, air menjadi bah. Deforestasi, tata kelola yang serampangan, dan pembangunan yang memutus hubungan manusia dengan alam menjelma bencana yang kita panen hari ini.
Namun ia tidak berhenti pada kritik. Indonesia, katanya, adalah privilege sejarah. Negeri tropis terbesar. Titik temu lempeng bumi dan arus peradaban. Penduduk keempat terbanyak di dunia. Sejarahnya adalah sejarah persilangan. Dunia akan pincang tanpa Indonesia.
Baca juga : BSMI Salurkan Sembako dan Layanan Kesehatan untuk Korban Banjir Sumut
Ironisnya, Indonesia telah memberi banyak pada dunia, tetapi belum sepenuhnya pada dirinya sendiri.
Kekayaan Nusantara pernah membangun Eropa. Ilmu kemaritiman tumbuh ketika dunia masih takut berlayar. Borobudur berdiri dengan presisi yang bahkan hari ini masih dikagumi. Lukisan gua Maros-Pangkep menua lebih tua dari banyak peradaban besar.
Karena itu, kata Yudi Latif, kita perlu “mundur ke belakang untuk melompat ke depan”. Belajar dari akar, tanpa terjebak romantisme.
Peradaban, katanya, berdiri di tiga kaki: nilai (batin), tata kelola (wadag), dan kesejahteraan (material). Negara bisa kaya, tetapi belum tentu makmur. Kekayaan alam tanpa inovasi dan etika hanya melahirkan ketimpangan.
Menariknya, di tengah semua kritik itu, harapan justru muncul dari tempat yang tak disangka. Studi Global Flourishing menempatkan Indonesia sebagai salah satu bangsa paling sejahtera secara holistik.
Bukan karena hartanya, tetapi karena makna hidup, relasi sosial, dan karakter warganya.
Artinya, kita masih punya deposito nilai. Gotong royong. Kepedulian. Kerelaan berbagi.
Refleksi malam itu lalu ditutup dengan cara yang tidak biasa: puisi.
Baca juga : PetroChina Perkuat Efisiensi dan Keamanan Operasi Jabung
Taufiq Ismail, di usia 90 tahun, membacakan “Membaca Tanda-Tanda”. Suaranya lirih, tetapi menancap. Tentang sesuatu yang perlahan lepas dari genggaman kita. Tentang kegagalan membaca isyarat.
Puisi lain menyusul. Hingga “Kupu-Kupu di Dalam Buku”. Tentang orang-orang membaca di stasiun, di desa, di perpustakaan. Tentang ilmu yang seharusnya beterbangan bebas, bukan terkurung di rak.
Malam itu, data bertemu filsafat. Kebijakan bertemu nurani. Angka bertemu puisi.
Pesannya satu: masa depan tidak lahir dari kalender baru, tetapi dari keberanian membaca tanda, mengingat akar, dan menata ulang cara kita membangun.
Dan di sanalah klimaksnya, jika jurang peradaban adalah kenyataan hari ini, maka jembatannya bukan hanya beton kebijakan, melainkan imajinasi, keberanian, dan karakter. Selama kupu-kupu pengetahuan masih mau kita lepaskan dari buku, selama deposito nilai itu masih kita rawat, Indonesia belum selesai. Kita baru bersiap untuk melompat.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.