RM.id Rakyat Merdeka - Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) sukses menggelar diskusi strategis tahunan bertajuk Foreign Policy Outlook 2026: Arah dan Tantangan Politik Luar Negeri Indonesia di Era Multipolar. Forum ini menghadirkan para pakar Hubungan Internasional terkemuka untuk membedah dinamika geopolitik global yang ditandai perebutan pengaruh di antara kekuatan-kekuatan besar dunia.
Ketua Umum AIHII, Dr. Agus Haryanto, menegaskan bahwa forum ini merupakan agenda tahunan strategis sebagai wadah pandangan kolektif akademisi Hubungan Internasional Indonesia.
“Foreign Policy Outlook 2026 adalah bentuk kontribusi ilmiah kami dalam menganalisis respons kebijakan luar negeri Indonesia terhadap tantangan global. Dinamika saat ini sangat cair, sehingga AIHII berkomitmen melanjutkan inisiatif ini dengan berbagai kegiatan respons strategis lainnya,” ujar Agus, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (30/1/2026).
Ia menekankan pentingnya kesinambungan pandangan akademisi agar tetap relevan dan sejalan dengan perkembangan politik global yang terus berubah.
Dari kawasan Asia Timur, Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro dari Universitas Gadjah Mada menilai wilayah tersebut menjadi pusat gravitasi global sekaligus arena utama rivalitas kekuatan besar. Menurutnya, rivalitas tersebut bersifat struktural sehingga Indonesia perlu mengedepankan strategi strategic hedging, bukan balancing atau bandwagoning.
Baca juga : Hasil Kunker Luar Negeri Prabowo Buka Peluang Ciptakan Banyak Lapangan Kerja
“Indonesia harus fokus menjaga otonomi strategis, terutama dalam mengelola ketergantungan asimetris dengan Tiongkok melalui mekanisme managed interdependence,” jelas Prof. Rachmat.
Ia juga menyoroti peran Jepang sebagai jangkar stabilitas dan Korea Selatan sebagai mitra kekuatan menengah yang dinamis di kawasan.
Sementara itu, Dr. Irman G. Lanti dari Universitas Padjadjaran memaparkan munculnya multipolarisme global yang ditandai kembalinya pengaruh Rusia, kebangkitan China, serta menguatnya negara-negara Dunia Selatan. Namun, sejak Januari 2025, dinamika global kembali terguncang oleh era yang ia sebut sebagai “Trump 2.0”.
“Disrupsi ini menggerus tatanan dunia berbasis aturan yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II. Sistem internasional kini lebih menyerupai jigsaw puzzle yang rumit,” ujar Irman.
Ia menilai, Indonesia perlu tetap pragmatis dengan berpegang pada prinsip netralitas, non-intervensi, dan perdamaian abadi, terutama di tengah melemahnya sistem multilateral berbasis Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Baca juga : INDEF Bedah Tantangan Ekonomi 2026 Di Tengah Tekanan Global
Dari perspektif Global South, Dr. Melyana Ratana Pugu, dari Universitas Cenderawasih menekankan peluang Indonesia untuk memainkan peran kepemimpinan baru melalui pemanfaatan soft power. Menurutnya, Indonesia dapat menyuarakan kepentingan negara berkembang di forum-forum global seperti G20.
“Fokus Indonesia harus diarahkan pada kolaborasi ekonomi dan pertahanan, advokasi perubahan iklim, serta penguatan aliansi dalam blok seperti Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS),” katanya.
Ia menilai solidaritas Selatan–Selatan menjadi kunci memperkuat posisi tawar Indonesia di panggung global.
Dr. Makmur Keliat dari Universitas Indonesia dan Laboratorium 45 menyoroti tantangan dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia menilai Amerika Serikat kian menunjukkan praktik bully diplomacy melalui tekanan sepihak, sementara Eropa menghadapi fragmentasi internal akibat menguatnya populisme sayap kanan.
“Sebagai negara middle power, Indonesia harus menyadari keterbatasan leverage diplomatiknya,” ujar Makmur.
Baca juga : Usyk Incar Wilder, Tantangan Terakhir di Kelas Berat
Ia merekomendasikan penguatan koordinasi regional melalui Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) serta optimalisasi forum kawasan Asia Timur sebagai tameng menghadapi tekanan global.
Diskusi AIHII ini menegaskan perlunya politik luar negeri Indonesia yang adaptif, independen, dan transparan, tanpa terjebak dalam politik blok, di tengah konfigurasi dunia yang semakin multipolar dan penuh ketidakpastian.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.