Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Posisi Utang Luar Negeri RI Oktober Turun Jadi Rp 7.063 T
Senin, 15 Desember 2025 15:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2025 tercatat 423,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 7.063 triliun. Jumlah tersebut turun dibandingkan dengan posisi September 2025 sebesar 425,6 miliar dolar AS atau Rp 7.092 triliun.
Sementara, secara tahunan, ULN Indonesia tetap tumbuh sebesar 0,3 persen (year on year/yoy), terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, struktur ULN Indonesia tetap terjaga dengan baik di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca juga : Utang Luar Negeri Indonesia Triwulan III 2025 Turun, Strukturnya Sehat
“Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi BI, Senin (15/12/2025).
Ia menjelaskan, ULN pemerintah pada Oktober 2025 tercatat sebesar 210,5 miliar dolar AS atau tumbuh 4,7 persen (yoy). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, seiring tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel, serta diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.
Baca juga : Cadangan Devisa RI Oktober Naik Jadi Rp 2.505 T
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,2 persen dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 19,6 persen, jasa pendidikan 16,4 persen, konstruksi 11,7 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,6 persen. ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen.
Sementara itu, ULN swasta pada Oktober 2025 tercatat sebesar 190,7 miliar dolar AS, menurun dibandingkan posisi September 2025 sebesar 192,5 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,9 persen (yoy).
Penurunan ULN swasta terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan, yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 4,7 persen (yoy) dan 1,2 persen (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,9 persen dari total ULN swasta.
Baca juga : SIM Keliling Jakarta Jumat 31 Oktober, Hadir Di 5 Lokasi
Ramdan menambahkan rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2025 tercatat sebesar 29,3 persen, dengan dominasi ULN jangka panjang mencapai 86,2 persen dari total ULN.
“Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN agar tetap sehat dan terkendali, sekaligus mengoptimalkan perannya untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Ramdan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya