RM.id Rakyat Merdeka - Gedung Sanggariang di jantung Kabupaten Kuningan, Senin (23/3/2026) siang, memutih. Ratusan alumni SMA Kosgoro Kuningan hadir dengan keseragaman warna busana putih dan abu-abu.
Bukan lagi mengenakan seragam sekolah yang kaku, melainkan sebuah pilihan gaya (dresscode) yang sengaja dipilih untuk membangkitkan memori masa remaja yang paling membekas.
Perayaan bertajuk "Merenda Kasih, Menjalin Silaturahmi" ini menjadi momentum emas memperingati setengah abad berdirinya SMA Kosgoro Kuningan yang dipancangkan sejak 21 Januari 1976.
Sejak angkatan tertua tahun 1979 hingga lulusan tahun 2019, batas usia luruh dalam tawa dan nostalgia yang kental.
Aroma Hucap dan Keakraban Lokal
Suasana akrab langsung terasa begitu peserta memasuki area gedung. Bau harum saus kacang dari stan kuliner khas Kuningan, hucap atau kupat tahu, menyeruak di antara aroma kopi es yang segar.
Baca juga : Reuni Akbar 50 Tahun SMA Kosgoro Kuningan, Alumni Perkuat Kolaborasi
Sambil menggenggam voucher makan siang, para alumni mengantre di deretan stan yang menyajikan kudapan lokal; mulai dari bakso yang mengepul, pisang goreng, kacang rebus, hingga koecang—bacang khas Kuningan yang dibungkus daun bambu.
"Kalau kita menanggalkan semua pangkat, jabatan, dan kesuksesan, maka yang tersisa adalah satu hal: persatuan kita," ujar Bupati Kuningan Dian Rahmat Yanuar dalam sambutannya.
Pesan itu terasa nyata, di mana seorang pejabat teras duduk semeja dengan purnawirawan, pengusaha, guru dan karyawan, semuanya larut dalam obrolan masa muda.
Hadir pula Wakil Bupati Tuti Andriani dan Sekretaris Daerah Kuningan Uu Kusmana. Bagi Uu, acara ini adalah kepulangan.
Sebagai bagian dari keluarga besar alumni, ia mengingatkan bahwa identitas sebagai "kawan lama" adalah aset sosial yang besar bagi pembangunan daerah.
Kekuatan Jejaring dan Spontanitas
Baca juga : Dilarang Menikah Lagi, Kakek 97 Tahun Marah
Di panggung, suasana formal perlahan mencair saat sesi ramah tamah dimulai. Gelak tawa pecah ketika panitia mulai mengundi deretan doorprize hasil sumbangan spontan para alumni.
Mulai dari peralatan rumah tangga, kulkas, hingga mesin cuci berpindah tangan kepada peserta yang beruntung. Namun, di balik keriuhan itu, ada momen hening yang menyentuh sanubari.
Ratusan kepala tertunduk saat doa bersama dipanjatkan untuk para guru yang telah berpulang.
"Walaupun SMA Kosgoro sudah tidak ada, tapi ia akan dikenang sepanjang masa. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," kata Uu Kusmana dengan nada bergetar.
Menenun Masa Depan
Ketua Panitia Reuni Akbar Alumni Kosgoro, Nanang, melaporkan bahwa solidaritas ini tidak berhenti di meja makan. Donasi sukarela yang terkumpul dari tiap angkatan. Mulai dari lulusan dekade awal hingga alumni muda, dialokasikan untuk rangkaian kegiatan sosial dan keberlangsungan program alumni ke depan.
Baca juga : Eks Dirjen Anggaran Kemenkeu Divonis 1,5 Tahun Penjara di Kasus Jiwasraya
Reuni ini membuktikan bahwa sebuah institusi pendidikan tidak hanya berdiri di atas bata dan semen, tetapi hidup di dalam ingatan dan kontribusi orang-orang di dalamnya.
Ketika acara ditutup dengan makan siang bersama, gradasi warna putih dan abu-abu di Sanggariang hari itu menjadi simbol bahwa meski zaman telah berganti, kasih yang direnda sejak masa sekolah tetap terjaga kencang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.