RM.id Rakyat Merdeka - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menegaskan, pergantian presiden di Indonesia hanya dapat dilakukan melalui mekanisme Pemilihan Umum (Pemilu).
Hal itu disampaikan Qodari menanggapi pandangan Founder Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani yang menyinggung kemungkinan pergantian Presiden Prabowo Subianto di tengah masa Pemerintahan.
Kata Qodari, Pemilu merupakan bagian dari proses demokrasi yang diatur konstitusi. Ia bilang, konstitusi mengatur mekanisme pergantian kepemimpinan nasional melalui Pemilu yang terjadwal.
“Yang disampaikan Pak Saiful Mujani tidak sesuai dengan konstitusi. Karena konstitusi kita sudah mengatur bahwa pergantian presiden dilakukan melalui Pemilu. Jadwal pemilu berikutnya sudah jelas, yakni pada 2029. Artinya, gagasan tersebut bersifat inkonstitusional,” kata Qodari kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).
Qodari menyayangkan munculnya wacana pergantian kepemimpinan di luar jalur konstitusi karena dapat menimbulkan ketidakpastian politik yang luas. Menurutnya, tanpa mekanisme yang jelas, akan sulit menentukan siapa yang berhak menggantikan presiden.
Baca juga : Mudik Lebaran 2026 Lancar, Perantau Apresiasi Layanan Transportasi Umum
“Pergantian presiden tanpa melalui mekanisme konstitusi atau pemilu akan menimbulkan ketidakpastian politik yang besar. Ketidakpastian itu berpotensi memicu kekacauan, karena tidak ada kepastian siapa yang berhak menjadi pengganti,” ucapnya.
Dia menambahkan, sekalipun ada upaya merumuskan mekanisme alternatif, belum tentu mekanisme tersebut dapat diterima oleh semua pihak karena perbedaan kepentingan politik.
“Setiap pihak bisa memiliki argumentasi sendiri. Karena itu, pergantian presiden tanpa jalur pemilu sangat berbahaya. Hal itu bisa memicu instabilitas politik, bahkan konflik sosial yang pada akhirnya berdampak pada kemunduran kondisi bangsa, terutama dari sisi ekonomi,” jelas Qodari.
Selain menyoroti aspek konstitusional, Qodari juga mengaku menyayangkan pernyataan Mujani. Sebab, menurutnya, Mujani dikenal akademisi yang selama ini mendorong konsolidasi demokrasi.
Dia menambahkan, dalam berbagai tulisan dan kajian akademik, Mujani kerap menekankan demokrasi akan terkonsolidasi apabila masyarakat dan elite politik sepakat menjadikan Pemilu sebagai satu-satunya mekanisme pergantian kepemimpinan.
Baca juga : Jelang Idul Fitri, DPR Ingatkan Pengawasan Ketat Makanan Kedaluwarsa
“Dalam tulisan-tulisannya, Pak Saiful sering menyampaikan bahwa demokrasi akan terkonsolidasi jika masyarakat dan elite politik menyepakati pemilu sebagai mekanisme utama pergantian kepemimpinan, democracy is the only game in town. Karena itu, pernyataan ini justru bertentangan dengan gagasan yang selama ini beliau sampaikan,” tuturnya.
Dalam konteks situasi global yang dinamis saat ini, Qodari menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional dan menghindari narasi yang dapat memicu instabilitas politik.
“Dalam situasi global seperti sekarang, yang dibutuhkan bangsa ini adalah persatuan dan kesatuan untuk menghadapi berbagai dinamika yang ada,” katanya.
Dia menilai, dorongan untuk mengganti kepemimpinan nasional melalui jalur non-demokratis dan non-konstitusional berpotensi merusak stabilitas negara.
“Pernyataan yang mendorong pergantian kepemimpinan melalui jalur non-demokratis dan non-konstitusional pada dasarnya merupakan upaya mengambil kesempatan dalam kesempitan,” pungkas Qodari.
Baca juga : Menperin: Pertumbuhan Produk Halal Meningkat
Sebelumnya, video Saiful Mujani mengatakan jatuhkan Prabowo tengah ramai di media sosial (medsos). Dalam video yang beredar, Saiful Mujani berbicara soal menjatuhkan Prabowo untuk menyelamatkan bangsa.
"Saya alternatifnya bukan, bukan pada prosedur yang formal impeachment seperti itu, itu tidak akan jalan. Yang jalan hanya ini, bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo, hanya itu. Kalau nasihati Prabowo nggak bisa juga, bisanya hanya dijatuhkan. Itulah menyelamatkan, bukan menyelamatkan Prabowo, tapi menyelamatkan diri kita dan bangsa ini," papar Saiful Mujani dalam video viral seperti dilihat, Minggu (5/4/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.