RM.id Rakyat Merdeka - Profesional pertambangan Edi Permadi meluncurkan buku Direktur di Usia 29 Tahun yang mengangkat perjalanan hidupnya dari penjual kacang hingga menduduki posisi direktur pada usia muda. Buku itu diluncurkan di Sekolah Master (Masjid Terminal), Depok, Senin (1/6/2026).
Buku tersebut mengisahkan perjalanan Edi yang lahir dari keluarga veteran sederhana di Jakarta. Sejak usia delapan tahun, ia membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kacang dan makanan ringan setelah ayahnya meninggal dunia.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Edi berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro di Universitas Indonesia pada 1997.
Ia kemudian meniti karier di industri pertambangan hingga dipercaya menjadi Director of External Relations di PT International Nickel Indonesia (Inco), yang kini bernama PT Vale Indonesia Tbk, sebelum berusia 30 tahun.
Kariernya berlanjut di PT J Resources Asia Pasifik Tbk hingga dipercaya menjadi Direktur Utama. Saat ini, Edi juga menjabat Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia.
Baca juga : Signify Luncurkan Philips UltraBright, 40% Lebih Terang dan Nyaman di Mata
Peluncuran buku tersebut mendapat apresiasi dari berbagai tokoh nasional, akademisi, kalangan bisnis, serta kolega dan keluarga. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menilai kisah hidup Edi menunjukkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang seseorang.
“Kisah hidup Bapak Edi Permadi menunjukkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang ataupun kemudahan yang dimiliki seseorang. Keberhasilan sejati dibangun melalui ketekunan, kedisiplinan, keberanian dalam mengemban tanggung jawab, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang,” ujar Listyo Sigit.
Menurut dia, buku tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menjunjung integritas, kerja keras, dan profesionalisme.
“Semoga buku ini dapat menginspirasi para pembaca, khususnya generasi muda penerus bangsa, untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, kerja keras, dan profesionalisme dalam setiap langkah kehidupan, guna mewujudkan Indonesia yang lebih maju, bermartabat, dan berdaya saing global,” katanya.
Mentor Edi Permadi, Eddie Arsyad, menilai pencapaian Edi menjadi direktur pada usia 29 tahun tidak lepas dari potensi dan kapasitas kepemimpinan yang telah terlihat sejak awal kariernya.
Baca juga : Bank Mandiri Taspen Bikin Masa Pensiun Koeswanto Tenang dan Tetap Produktif
“Ada anggapan bahwa seseorang harus mencapai usia tertentu untuk menjadi direktur. Menurut saya, itu hanyalah mitos. Yang menentukan bukanlah usia, melainkan potensi yang dimiliki individu tersebut,” ujar Eddie Arsyad.
Ketua Umum IAGI Budi Santoso juga menilai Edi memiliki kombinasi kemampuan teknis dan komunikasi yang kuat.
“Cara beliau membawa diri, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan berbagai pihak sangat humanis. Pendekatan profesional yang beliau lakukan selalu dibalut dengan sentuhan personal dan empati yang kuat. Saya bahkan sempat berpikir tidak mungkin ini seorang engineer,” ujar Budi Santoso.
Dalam sambutannya, Edi menjelaskan bahwa penulisan buku tersebut berawal dari dorongan sahabat dan kolega yang meminta dirinya mendokumentasikan pengalaman hidup dan kariernya.
“Buku ini lahir dari dorongan banyak sahabat yang meminta saya menuliskan pengalaman dan perjalanan hidup yang selama ini tersebar dalam berbagai catatan, tulisan, maupun kenangan. Akhirnya saya mencoba mengumpulkannya menjadi satu karya yang dapat dibaca dan dipelajari bersama,” ujar Edi.
Baca juga : Lindungi PMI, Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Migran Aman
Dalam buku tersebut, Edi memperkenalkan konsep “Tujuh E” sebagai fondasi keberhasilan, yakni Ethos (etos kerja), Effectiveness (efektivitas), Efficiency (efisiensi), Empathy (empati), Ethics (etika), Eling (mengingat Tuhan Yang Maha Esa), dan Emak (keberkahan ibu).
“Etos kerja merupakan fondasi utama keberhasilan. Saya melihat bahwa keberhasilan tidak datang secara kebetulan, melainkan melalui kerja keras yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya integritas dan etika dalam perjalanan karier. “Keberhasilan tanpa etika tidak akan bertahan lama. Karena itu, integritas harus menjadi fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil,” ujarnya.
Menurut Edi, keberhasilan juga tidak terlepas dari dukungan keluarga dan doa orang tua.
“Doa seorang ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Restu dan keberkahan orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu faktor penting yang mendukung perjalanan hidup seseorang. Saya percaya bahwa keberhasilan bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga hasil dari doa, dukungan, dan pengorbanan orang tua yang selalu menyertai langkah kita,” tutur Edi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.