BREAKING NEWS
 

Masalah Sampah Harus Segera Ditangani Tuntas

Reporter : OSPI DARMA
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 17 Juni 2026 21:56 WIB
Petugas memasukkan sampah organik ke mesin pengolah sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (11/5/2026). (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono mengingatkan pentingnya pemilahan sampah sebagai langkah kunci untuk mencapai target penurunan emisi sektor limbah yang tercantum dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

"Yang ingin saya soroti adalah pengelolaan sampah seperti waste-to-energy (WTE) dan RDF Plant berisiko tidak berjalan jika tidak ada pemilahan yang baik. Apa yang dilakukan di hulu, seperti pemilahan sampah, mungkin terlihat sepele, tetapi pengaruhnya sangat signifikan, termasuk terhadap capaian NDC kami," kata Diaz, di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Diaz menjelaskan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/BPLH merupakan instansi yang bertanggung jawab atas pencapaian target penurunan emisi sektor limbah dalam NDC. Mengingat besarnya target yang harus dicapai, diperlukan berbagai upaya strategis dari hulu hingga hilir.

"Untuk sektor limbah, pengampunya ada di KLH dan kami memiliki target menurunkan emisi sebesar 40 juta ton dari sektor limbah. Hal ini dilakukan melalui berbagai cara dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Pada tahap hulu, Diaz mengatakan pengurangan emisi subsektor limbah padat dilakukan melalui penguatan praktik pengomposan yang didukung pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

"Pertama, kami lakukan dengan pengomposan dan pemilahan sampah. Di Rorotan ada RDF Plant dan kami mulai memberlakukan program pemilahan di Jakarta Utara. Setelah dipilah, sampah organik bisa dijadikan bubur yang kemudian dibawa ke peternak maggot," tuturnya.

Selain di tingkat rumah tangga, KLH/BPLH juga mendorong penerapan pengelolaan sampah yang baik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Sekolah Rakyat. Menurut Diaz, program-program prioritas nasional tersebut dapat berkontribusi dalam pengurangan sampah dan pengendalian emisi.

"Untuk SPPG dan Sekolah Rakyat, kami mempromosikan composting guna meningkatkan metode pengomposan," imbuhnya.

Untuk menangani timbulan sampah dalam jumlah besar, KLH/BPLH tengah mempersiapkan teknologi seperti waste-to-energy (WTE) dan RDF yang mampu mengelola sampah sebanyak 1.000 hingga 2.500 ton per hari.

"WTE sudah banyak dibahas dan batch pertama sudah selesai. Batch kedua sedang dalam proses lelang di Danantara, termasuk untuk wilayah Yogyakarta, Bogor Raya, dan lainnya. Sementara RDF di Rorotan sudah mulai beroperasi kembali dengan kapasitas 800 ton per hari dan tinggal ditingkatkan," jelas Diaz.

Baca juga : OTT Pegawai BPK, Baru 2 Tersangka Diketahui Identitasnya

Sebelumnya, anggota Komisi XII DPR Ratna Juwita Sari mendorong Pemerintah segera menyusun dan meluncurkan Gerakan Pilah Sampah Nasional. Menurutnya, langkah konkret tersebut mendesak dilakukan untuk mencegah persoalan sampah yang kini menjadi bom waktu bagi lingkungan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.

"Kami meminta Pemerintah segera menyusun Gerakan Pilah Sampah Nasional agar persoalan sampah yang hingga kini belum terselesaikan dapat ditangani secara lebih serius dan terukur. Jangan sampai masalah sampah ini menjadi bom waktu yang berdampak luas bagi masyarakat Indonesia," ujarnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai tata kelola sampah di Indonesia tidak lagi dapat diselesaikan dengan metode konvensional. Pasalnya, volume sampah terus meningkat akibat kegagalan pemilahan sejak dari sumbernya.

"Di sisi lain, kita juga belum memiliki skema pengelolaan sampah yang mampu secara cepat mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti energi, pupuk, atau produk lainnya," katanya.

Menurut Ratna, akar persoalan terletak pada kebiasaan mencampur seluruh jenis sampah. Padahal, jika dipisahkan sejak awal berdasarkan kategori organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu, sebagian besar sampah masih memiliki nilai guna dan dapat didaur ulang.

"Pilah sampah harus menjadi gerakan nasional karena persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara lama. Pemilahan sejak dari sumber akan mengurangi beban tempat pembuangan akhir dan memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional," terangnya.

Ratna memandang regulasi pengelolaan sampah perlu dibenahi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Edukasi dan pemilahan massal harus dimulai dari rumah tangga, sekolah, pasar, hingga kawasan industri, yang kemudian didukung oleh infrastruktur pengangkutan dan daur ulang yang memadai.

Dia juga mendorong Pemerintah menghidupkan kembali semangat gerakan Reduce, Reuse, Recycle (3R) yang pernah masif digalakkan beberapa tahun lalu.

Adsense

"Pengelolaan sampah tidak boleh bergantung pada pergantian kepemimpinan. Harus ada kesinambungan kebijakan dari pusat hingga daerah agar gerakan ini benar-benar menjadi budaya nasional, termasuk melalui edukasi pemilahan sampah di lembaga pendidikan dasar," paparnya.

Ratna turut mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mulai menggalakkan kebijakan pemilahan sampah di tingkat warga. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi di lapangan sudah memasuki fase darurat.

Baca juga : Malam Ini, Garuda Muda Ditantang Tim Paling Tajam

Dia menyoroti kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang menjadi alarm keras bagi tata kelola limbah nasional. Dengan pasokan sampah Jakarta yang mencapai 9.000 ton per hari, kapasitas penampungan Bantargebang kini berada di titik kritis.

Jika dibiarkan, ancaman pencemaran udara, polusi air lindi, dan gangguan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi berpotensi menjadi bencana nyata.

"Jangan sampai persoalan seperti di Bantargebang terus berulang. Kondisi tersebut menjadi alarm serius bahwa Indonesia membutuhkan perubahan besar dalam tata kelola sampah. Gerakan pilah sampah harus dimulai dari rumah sebagai unit terkecil, tetapi juga harus diperkuat dengan kebijakan pemerintah yang menyeluruh," pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa sistem pengelolaan sampah yang efektif dan ideal harus dimulai dari skala terkecil, yakni rumah tangga dan lingkungan warga.

"Pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing. Apa yang ingin kami lakukan adalah menjadikan pilah sampah sebagai perilaku sehari-hari masyarakat, bukan hanya karena ada Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, tetapi benar-benar menjadi gerakan bersama," ujarnya.

Pramono menegaskan bahwa aktivitas memilah sampah sejak dari sumbernya harus bertransformasi menjadi kebiasaan dan gaya hidup baru di tengah masyarakat. Kesadaran tersebut, menurutnya, harus lahir dari kesadaran kolektif, bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi.

Di media sosial X, warganet mendukung langkah pemilahan sampah agar lingkungan tetap terjaga dan pengolahan sampah menjadi lebih efektif. Mereka menilai persoalan sampah merupakan masalah lama yang hingga kini belum terselesaikan.

Akun @Thomass90392754 mengungkapkan bahwa banyak warga sebenarnya sudah memilah sampah, tetapi saat proses pengangkutan, sampah kembali dicampur.

"Warganya sudah memilah sampah, tetapi petugas pengangkutnya tidak. Akhirnya sampah diangkut dengan dicampur lagi. Jadi imbauan memilah sampah seolah tidak terealisasi," keluhnya.

Senada, akun @aeetesboo menilai banyak petugas masih mengangkut sampah secara borongan. "Sampah sudah dipilah, tetapi saat diangkut dijadikan satu lagi dan akhirnya menumpuk di TPA. Karena itu warga bingung, sebenarnya di mana gerakan pilah sampah ini terhambat," tulisnya.

Baca juga : Dirjen Imigrasi Hendarsam Minta Jajaran Fokus Kerja, Hilangkan Budaya Tak Patut

Sementara akun @bellasksksks menekankan bahwa pemilahan sampah akan membuka peluang pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

"Banyak usaha yang mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Misalnya sampah plastik yang diolah kembali menjadi produk plastik. Masyarakat juga harus semakin melek soal pemilahan sampah karena masih banyak yang belum memahami pentingnya hal tersebut," tulisnya.

Akun @seven_tinus menilai sosialisasi pemilahan sampah perlu diperkuat di tempat-tempat keramaian seperti pasar dan lokasi konser.

"Sudah menjadi pemandangan biasa melihat sampah menggunung di pasar atau lokasi konser. Kenapa sampah tidak dipilah terlebih dahulu sebelum dibuang?" ujarnya.

Akun @sritikaindahp menyoroti masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan. "Mari biasakan menegur orang dewasa maupun anak-anak yang membuang sampah sembarangan. Buang sampah pada tempatnya saja masih sulit, apalagi kalau diminta memilah sampah," tulisnya.

Sementara itu, akun @igamawarni_ menyoroti kebiasaan membuang sampah ke saluran air yang masih sering terjadi di berbagai kota besar.

"Hujan deras sebentar saja, kali dan saluran air langsung dipenuhi sampah hingga menumpuk parah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan memang sulit diberantas, padahal banyak sampah yang masih bisa diolah dan memiliki nilai guna," ungkapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense