BREAKING NEWS
 

Wamen Fajar: Buya Syafii Teladankan Kritik Tanpa Permusuhan

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 19 Juni 2026 15:08 WIB
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq (tiga kanan) saat menjadi pembicara dalam Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif di Jakarta, Jumat (19/6/2026). Dok. Kemendikdasmen

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan salah satu warisan terpenting Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii Maarif adalah keteladanan dalam menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat, tanpa memutus komunikasi, dan tanpa menjadikan perbedaan sebagai permusuhan.

Hal itu disampaikan Fajar saat menjadi pembicara dalam forum Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif bertema Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa yang diselenggarakan Maarif Institute bersama Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (19/6).

“Buya mengajarkan bahwa seseorang bisa tetap kritis tanpa memutus silaturahmi kebangsaan. Kritik harus menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan bersama, bukan memperuncing perpecahan dan melahirkan kebencian,” ujar Fajar.

Mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute periode 2010-2016 itu menilai kekuatan Buya Syafii terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara idealisme, akal sehat, dan realitas politik. Menurutnya, Buya tetap membuka ruang dialog dengan berbagai pihak tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Baca juga : Pramono Imbau Aksi Unjuk Rasa di Jakarta Berlangsung Damai Tanpa Perusakan

Dalam paparannya, Fajar juga menyinggung posisi Buya Syafii di antara para pembaru Islam Indonesia yang pernah disebut almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai “Tiga Pendekar dari Chicago”, bersama Nurcholish Madjid dan Amien Rais.

Menurut Fajar, ketiga tokoh tersebut memberikan kontribusi besar terhadap pembaruan pemikiran Islam dan kehidupan kebangsaan Indonesia, meski menempuh jalur perjuangan yang berbeda.

Adsense

“Buya tidak anti terhadap kekuasaan, tetapi juga tidak pernah larut di dalam kekuasaan. Beliau mampu menjaga komunikasi dengan para pemimpin lintas sektor, namun tetap memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kritik ketika melihat ada ketidakadilan,” katanya.

Fajar menambahkan, Buya Syafii juga mendorong kader-kader muda yang memiliki kapasitas dan integritas untuk masuk ke ruang-ruang strategis, termasuk pemerintahan, agar nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Baca juga : Bekasi Fajar Bidik Marketing Sales Rp 600 M, Andalkan Sektor Logistik-Data Center

Dalam kesempatan itu, Fajar turut menyinggung arah kebijakan pendidikan saat ini. Menurutnya, semangat pemerataan dan keberpihakan kepada kelompok rentan diterjemahkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti melalui penguatan pendidikan bermutu untuk semua, peningkatan kompetensi guru, dan pembangunan budaya belajar yang lebih berkeadilan.

“Karena itu, kami tidak berpikir setiap pergantian kepemimpinan harus selalu diikuti perubahan kurikulum. Yang lebih penting adalah memastikan kebijakan berjalan berkelanjutan, guru memiliki kompetensi yang baik, dan setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu hingga ujung negeri,” tegasnya.

Fajar mengatakan salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mendorong peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan mampu menghubungkan ilmu dengan realitas kehidupan.

“Pembelajaran mendalam pada hakikatnya adalah pendidikan yang transformatif. Pendidikan yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi melahirkan kesadaran, karakter, dan tindakan yang membawa kemaslahatan,” ujarnya.

Baca juga : Manohara, Lagi Sibuk Selamatkan Satwa Langka

Ia menegaskan, warisan terbesar Buya Syafii bukan hanya tulisan maupun pidato, melainkan keteladanan dalam menjaga akal sehat, nurani, dan keberanian moral di tengah kehidupan publik.

“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang berani berpikir jernih, bersikap adil, serta tetap mampu membangun jembatan di tengah perbedaan. Itulah salah satu keteladanan terbesar yang saya dapatkan dari Buya,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense