Sebelumnya
Museum ITB membawa standar baru bagi permuseuman nasional karena pemanfaatan teknologi digital dan pengalaman imersif.
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara melihat museum ini dengan tekanan yang berbeda. Ia tidak menempatkan museum terutama sebagai gedung, melainkan sebagai wadah pengetahuan.
“Hari ini tanggal 3 Juli 2026 kita meresmikan Museum ITB. Sebagaimana tadi disampaikan Pak Menteri, ini adalah museum yang bukan hanya sekadar gedung museum saja. Yang lebih penting itu kontennya. Jadi kita bisa melihat sejarah, kemudian belajar di dalamnya, dan juga melihat masa depan,” ujar Tatacipta.
Bagi Tatacipta, Museum ITB harus dapat ditemui oleh berbagai lapisan usia. Anak-anak harus bisa berinteraksi. Orang tua harus bisa belajar. Para senior harus bisa bernostalgia. Museum itu, dengan demikian, menjadi semacam ruang perjumpaan.
Baca juga : Bantai Tunisia 4-0, Samurai Biru Jaga Asa Lolos 32 Besar
“Kita mendesain museum ini untuk semua kalangan. Anak-anak bisa interaktif, orang tua juga bisa belajar, mungkin senior-senior ingin bernostalgia. Jadi ini sebetulnya ruang pertemuan lintas generasi yang juga merupakan ruang belajar,” katanya.
Dalam sambutannya, Tatacipta menyebut museum ini lahir dari mimpi beberapa orang yang kemudian diusahakan bersama-sama. Ia menyebut para penggagasnya sebagai “hobiis”—orang-orang yang bekerja bukan karena honor, melainkan karena dorongan untuk meninggalkan warisan.
“Ini cuma hobiis semua. Ada beberapa orang hobiis. Tidak ada honor, tidak ada apa-apa, tetapi kita ingin punya museum. Ingin menaruh warisan masa lalu dan meninggalkan jejak untuk masa depan bersama-sama. Ini benar-benar kekuatan mimpi,” ujarnya.
Museum ITB tidak lahir dari logika proyek semata. Ia berangkat dari kegelisahan bahwa institusi besar sering kali memiliki arsip besar, tetapi tidak selalu memiliki ruang publik yang mampu menjahit arsip itu menjadi cerita utuh.
Baca juga : Menuju Era Baru Trans Semarang: Hijau, Jalur Khusus, dan Berkeadilan
Tatacipta menyebut banyak pihak membantu, baik dalam bentuk donasi maupun informasi. Salah satu agenda yang disebutnya ialah pengarsipan dan digitalisasi dokumen-dokumen ITB yang tersimpan di Belanda.
“Kita ingin mengarsipkan, mendigitalkan arsip-arsip yang ada di Belanda,” ujarnya.
Ia mencontohkan, ITB telah memperoleh salinan disertasi awal dari masa lama institusi itu, juga jejak-jejak akademik yang menunjukkan betapa panjang perjalanan pendidikan tinggi teknik dan sains di Bandung.
Prof. Dermawan Wibisono menjadi suara yang paling banyak menjelaskan filosofi, arah, dan tantangan Museum ITB. Ia melihat peresmian ini sebagai “starting point” bagi generasi muda.
Baca juga : Dasco: Tak Ada Merger Antara Gerindra Dan NasDem
“Perjalanan sejarahnya bisa dimulai dari peresmian museum ini menjadi starting point bagi generasi muda untuk nantinya menjadi insan-insan yang lebih kompetitif, tangguh, dengan melihat contoh-contoh dari pendahulu mereka, sehingga mereka bisa menciptakan masa depan yang lebih bagus,” kata Dermawan.
Bagi Dermawan, nilai museum tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Museum harus menjadi alat belajar yang lebih konkret dibanding ruang kelas konvensional. Ia membandingkannya dengan pengalaman belajar di kelas yang kerap pasif.
“Selama ini kita belajar hanya dalam kelas saja. Dengan adanya museum ini, siswa-siswa dari SD, SMP, SMA bisa belajar dengan melihat praktisnya, contoh praktisnya,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.