Dark/Light Mode

Remaja Bertopeng Berjalan Merangkak, Bergaya Ala Hewan

Kamis, 5 Maret 2026 06:20 WIB
Seseorang berlaku seperti anjing, melompati temannya yang 
jalan merangkak. Mereka mengidentifikasi diri sebagai therian. (Foto REUTERS/Tomas Cuesta)
Seseorang berlaku seperti anjing, melompati temannya yang jalan merangkak. Mereka mengidentifikasi diri sebagai therian. (Foto REUTERS/Tomas Cuesta)

RM.id  Rakyat Merdeka - DI sebuah plaza di Buenos Aires, Argentina, pemandangan tak biasa terlihat. Sekelompok remaja berkumpul mengenakan topeng dan kostum hewan. Ada yang merangkak dengan empat kaki, berlari di rumput memakai topeng beagle, hingga melompati rintangan meniru anjing.

Sebagian ada juga yang berdandan sebagai kucing atau rubah dan bertengger di atas pohon. Mereka menyebut diri sebagai therian, yakni individu yang merasa secara mental, spiritual atau psikologis memiliki kemiripan dengan hewan tertentu.

Dilansir Associated Press, tren ini melejit di TikTok dengan tagar #therian. Argentina bahkan disebut sebagai negara paling aktif di Amerika Latin dalam tren tersebut.

Baca juga : Raphinha Tegaskan Mental Bangkit Barcelona Jelang Ujian Atletico

“Saya bangun seperti orang normal dan menjalani hidup seperti orang normal. Tapi ada momen ketika saya suka menjadi anjing,” ujar Aguara (15).

Aguara mengidentifikasi dirinya sebagai anjing jenis Belgian Malinois. Meski demikian, dia tetap menjalani kehidupan remaja pada umumnya. Hanya saja, sesekali menikmati perasaan “menjadi anjing”. Popularitasnya pun tak main-main. Dia memiliki lebih dari 125 ribu pengikut di TikTok.

Sementara, Aru (16) mengaku sebagai otherpaw, istilah bagi mereka yang sekadar bermain kostum, memakai topeng dan ekor, atau merangkak tanpa benar-benar mengidentifikasi diri sebagai hewan.

Baca juga : Pramono: Penyebab Kecelakaan TransJakarta Akibat Human Error

Menurut Aru, tren ini berkembang pesat karena Argentina memiliki lingkungan sosial yang relatif bebas dan terbuka. Banyak remaja merasa menemukan komunitas yang menerima mereka apa adanya.

Namun fenomena ini juga memicu perhatian kalangan psikolog. Direktur Pusat Terapi di Buenos Aires Debora Pedace menilai, ada unsur kebingungan identitas dalam sebagian kasus.

Meski begitu, dia menegaskan tren ini masih tergolong aman selama tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Baca juga : Jadi Tempat Berlabuh Kepala Daerah, Gerindra Happy Banget

“Ini menjadi patologis atau mengkhawatirkan hanya ketika berubah menjadi keyakinan yang sangat mendalam. Seseorang sepenuhnya mengambil peran sebagai hewan, yang berpotensi membahayakan diri sendiri atau orang lain,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.