BREAKING NEWS
 

Jelang Muktamar PBNU, KH Zulfa Mustofa Dorong Kebangkitan Tradisi Menulis Kitab

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Rabu, 8 Juli 2026 22:46 WIB
KH Zulfa Mustafa. (Foto: NU Online)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjelang Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa akan meluncurkan sekaligus membedah kitab karyanya berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 19.00 WIB, di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

Mengusung tema "Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa – Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW", acara ini diharapkan menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual ulama, khususnya tradisi menulis kitab di lingkungan NU pesantren, perguruan tinggi Islam, dan lembaga-lembaga keagamaan.

Peluncuran kitab tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap arah kepemimpinan, masa depan keilmuan, serta peran strategis NU dalam menjawab tantangan umat, bangsa, dan peradaban Islam Indonesia.

KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk kembali menghidupkan tradisi menulis kitab sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu dan membangun peradaban Islam.

Menurutnya, sejak masa awal Islam hingga berkembang di Nusantara, kemajuan peradaban tidak hanya ditopang oleh lahirnya ulama yang alim dan berakhlak, tetapi juga oleh karya-karya keilmuan yang mereka wariskan.

Baca juga : Seleksi Terbuka Kemenhaj Dorong Kepemimpinan Berbasis Merit

Kitab-kitab para ulama menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu lintas generasi dan tetap memberi manfaat meski penulisnya telah wafat.

"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujar KH Zulfa Mustofa.

Ia menilai, pesantren selama ini telah menjadi pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman melalui kajian kitab kuning.

Namun, menurutnya, pesantren juga perlu terus melahirkan karya-karya baru sebagai respons terhadap perkembangan zaman dan dinamika kehidupan masyarakat.

"Tantangan umat saat ini semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan dan kemanusiaan.

Adsense

Semua itu membutuhkan jawaban keilmuan yang lahir dari ulama yang memahami tradisi sekaligus mampu membaca realitas," ingatnya.

Baca juga : Peringati 1 Muharram, Adev Natural Perkuat Inovasi dan Kemajuan Generasi Muda

KH Zulfa menegaskan, membaca dan mengkaji kitab para ulama terdahulu tetap penting. Namun, para ulama masa kini juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang.

"Memang penting kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan," jelasnya.

Menurutnya, tradisi keulamaan NU tidak boleh berhenti pada aktivitas pengajaran dan pengajian semata.

Tradisi tersebut harus berkembang menjadi budaya produksi ilmu, penulisan kitab, serta penguatan literasi Islam Indonesia.

Ia menambahkan, menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari dakwah dan khidmat kepada umat. Melalui karya tulis, ilmu dapat diwariskan, dipelajari, dan dikembangkan lintas generasi.

"Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, setiap ulama perlu memiliki semangat untuk meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan," tutur KH Zulfa.

Baca juga : Jelang Wukuf, DPR Dorong Pengawasan Pelayanan Jemaah Di Armuzna

Ia berharap, semangat melahirkan karya-karya keislaman kembali tumbuh di lingkungan NU, baik di pesantren, perguruan tinggi, maupun lembaga bahtsul masail.

Menurutnya, tradisi membaca harus berjalan beriringan dengan tradisi menulis agar khazanah keilmuan Islam Indonesia terus berkembang dan memberi kontribusi bagi dunia.

Semangat tersebut menjadi latar belakang lahirnya kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa. Kitab ini diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi Islam Indonesia melalui karya yang berpijak pada sanad keilmuan, mampu menjawab tantangan zaman, serta tetap berakar pada tradisi keulamaan pesantren.

Kegiatan peluncuran dan bedah kitab akan dihadiri ulama, kiai, akademisi, santri, tokoh masyarakat, serta warga Nahdliyin, dengan Gus Miftah bertindak sebagai moderator.

Momentum ini diharapkan menjadi ajakan terbuka bagi para ulama dan akademisi untuk memperkuat tradisi menulis kitab sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan ilmu, memperkaya khazanah Islam Indonesia, dan membangun peradaban yang berpijak pada sanad, ilmu, dan khidmat kepada umat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense