BREAKING NEWS
 

Perpustakaan, Penjaga Informasi Terpercaya di Era AI

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 4 Agustus 2026 19:56 WIB
Kepala Perpustakaan Nasional Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ledakan pemanfaatan akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memahami, dan memanfaatkan informasi. Di tengah perubahan tersebut, perpustakaan tidak lagi cukup berperan sebagai penyedia akses informasi, tetapi harus menjadi institusi tepercaya yang memastikan masyarakat memperoleh informasi yang sahih sekaligus memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi arus informasi digital.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Prof. E. Aminudin Aziz, mengungkapkan bahwa perkembangan AI menghadirkan perubahan mendasar terhadap ekosistem informasi.

“Tantangan yang dihadapi perpustakaan saat ini bukan lagi sebatas mengelola koleksi dan menyediakan akses informasi, melainkan memastikan masyarakat mampu membedakan informasi yang benar dari informasi yang menyesatkan,” tuturnya, saat membuka Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII, di Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, kini muncul pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan harus kita jawab bersama, bukan lagi sekadar bagaimana informasi disimpan, dikelola, dilayankan, dan diakses. Termasuk, memastikan bahwa masyarakat sebagai pemustaka memperoleh informasi yang sahih, benar, dan valid, sehingga tidak terjerumus pada informasi yang menyesatkan.

Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz. (Foto: Dok. Perpusnas)

Baca juga : TPBIS Sukses Jangkau 13,9 Juta Masyarakat dan Ubah Cara Pandang terhadap Perpustakaan

Prof. Amin menegaskan, kemampuan berpikir kritis merupakan fondasi utama literasi pada era banjir informasi. Karena itu, perpustakaan bersama pustakawan memiliki tanggung jawab strategis membangun kecakapan masyarakat dalam memilah, memverifikasi, dan menilai informasi secara kritis sebelum menggunakannya.

"Ketika kita berbicara tentang literasi, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Inilah salah satu upaya penting yang harus dilakukan oleh perpustakaan dan pustakawan, yakni memastikan bahwa para pengguna informasi memiliki daya kritis yang tinggi," ucapnya.

Ia juga mengingatkan, perkembangan teknologi tidak boleh menggeser nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, AI hanyalah teknologi yang bekerja berdasarkan algoritma. Nilai etika, moral, dan tanggung jawab tetap ditentukan oleh manusia sebagai pencipta sekaligus pengguna teknologi tersebut.

Adsense

"AI atau kecerdasan buatan pada dasarnya tidak memiliki etika, tidak memiliki moral, dan tidak memiliki nilai. Semua itu baru ada ketika manusia sebagai penciptanya memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam algoritma yang dibangun," tegasnya.

Baca juga : Prof. Dadang Kahmad: MPI Jadi Jantung Dakwah Muhammadiyah

Karena itu, ia menilai penguatan literasi menjadi investasi yang tidak dapat ditawar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kunci agar masyarakat mampu memanfaatkan AI secara bertanggung jawab tanpa kehilangan integritas, etika, maupun nilai-nilai kemanusiaan.

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII, di Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (4/8/2026). (Foto: Dok. Perpusnas)

Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi, Prof. Dadang Kahmad. Guru Besar Sosiologi Agama UIN Bandung ini menilai, AI telah mengubah cara manusia mencari, memproduksi, dan memanfaatkan informasi.

Menurutnya, perubahan tersebut menuntut perpustakaan bertransformasi dari sekadar tempat penyimpanan pengetahuan (knowledge storage) menjadi ruang penciptaan pengetahuan (knowledge creation) yang mampu membangun budaya informasi yang sehat.

"Perpustakaan modern harus mampu membantu masyarakat memilah informasi yang benar, memahami informasi secara kritis, menggunakan teknologi informasi secara bertanggung jawab, serta menghasilkan pengetahuan baru yang bermanfaat," ujar Prof. Dadang, dalam forum yang bertema ‘Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan’ tersebut.

Baca juga : Perpusnas Raih Opini WTP ke-10, Perkuat Tata Kelola dan Jaga Kepercayaan Publik

Menurutnya, di tengah melimpahnya informasi yang dihasilkan mesin pencari maupun AI, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memverifikasi setiap informasi. Dalam konteks tersebut, peran pustakawan juga mengalami transformasi. Pustakawan tidak lagi hanya mengelola koleksi, tetapi menjadi pendamping literasi digital yang membimbing masyarakat menyusun prompt yang tepat, memeriksa validitas jawaban AI, sekaligus memahami etika pemanfaatan teknologi. 

"AI hanyalah alat. Manusialah yang menentukan bagaimana alat tersebut dimanfaatkan. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar perpustakaan tetap relevan dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," pungkasnya.

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII diselenggarakan pada 4–6 Agustus 2026 melalui kolaborasi Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Perpustakaan Nasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), serta Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyelenggaraan tahun ini diikuti 281 peserta beragam kalangan dari berbagai daerah di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense