BREAKING NEWS
 

MBG Jalan Rezeki Perajin Tahu Tempe, Karyawan Tambah, Cicilan Lancar

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Senin, 10 Agustus 2026 11:44 WIB
Perajin Tahu Pasok SPPG. Perajin tahu Fatkhul Mujib atau akrab disapa Ipul menyuplai tahu ke SPPG Polda Sulsel di Maros, Sulawesi Selatan. Permintaan MBG ikut mendorong peningkatan produksi dan omzet usahanya. FOTO: KHAIRIZAL ANWAR/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi jalan rezeki baru bagi Haryo, perajin tahu dan tempe di Makassar. Pesanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuat produksi usahanya meningkat, tenaga kerja bertambah, hingga cicilan modal usaha kini lebih lancar.

Haryo merupakan pemilik UD Widya Mandiri, usaha tahu dan tempe yang dirintis sejak 2021. Sebelum menjadi pemasok kebutuhan MBG, usahanya masih berjalan dalam skala kecil. Saat itu, Haryo hanya memproduksi sekitar lima karung tahu dan tempe dengan lima orang pekerja. Pemasaran masih mengandalkan pasar tradisional dan titip jual melalui pedagang sayur. Tak jarang, produk yang dititipkan tidak terserap pasar dan harus dikembalikan.

"Masih susah. Kami masih coba jual ke pasar, masih titip ke pedagang-pedagang sayur," ujar Haryo, saat ditemui di SPPG Polrestabes Makassar, Selasa (4/8/2026).

Kondisi tersebut berubah setelah UD Widya Mandiri menjadi pemasok tahu dan tempe untuk dapur SPPG Polrestabes Makassar. Pesanan yang lebih rutin membuat kapasitas produksi melonjak hingga 50 karung per hari.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Haryo menambah jumlah pekerja. Dari sebelumnya hanya lima orang, kini pabriknya mempekerjakan 25 orang.

Pertumbuhan produksi ikut mengerek pendapatan. Sebelum menjadi pemasok MBG, Haryo hanya memperoleh sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari, itu pun tidak setiap hari. Kini, omzet usahanya mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta per hari.

Peningkatan omzet membuat arus kas usaha lebih sehat. Selain mampu membayar upah 25 pekerja, Haryo mulai lebih leluasa memenuhi kewajiban cicilan modal yang sebelumnya digunakan untuk mengembangkan usahanya.

Baca juga : Menu MBG Diuji Formalin & Nitrit, Tak Lolos Langsung Diganti

"Alhamdulillah sekarang sudah bisa bayar-bayar cicilan dari BRI," tuturnya.

Tak hanya itu, bertambahnya pesanan berarti semakin banyak warga sekitar yang mendapat kesempatan bekerja. Sebagian besar pekerjanya merupakan ibu-ibu yang tinggal di sekitar lokasi usaha. Sebelum direkrut, mereka lebih banyak beraktivitas di rumah sebagai ini rumah tangga.

"Saya rekrut satu-satu, saya tanya mau tidak menjadi pengrajin tempe, bantu-bantu. Alhamdulillah mereka mau," ujarnya.

Dengan tambahan tenaga kerja, Haryo dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memenuhi permintaan dari dapur MBG. Rantai manfaatnya pun meluas dari dapur SPPG hingga ke keluarga para pekerja.

Haryo berharap Program MBG dapat terus berjalan. Menurutnya, keberlanjutan program akan menjaga permintaan produk tahu dan tempe sekaligus mempertahankan lapangan pekerjaan yang telah tercipta.

Adsense

"Banyak juga karyawan kami yang masih mengharapkan terus ada perputaran ekonomi," katanya.

Perajin tahu dan tempe, Haryo saat ditemui Rakyat Merdeka di SPPG Polrestabes Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (4/8/2026). Haryo mampu meningkatkan produksi hingga 50 karung per hari setelah menjadi pemasok MBG di Makassar. Foto: Bambang Trismawan/RM.ID.

Produksi Tahu Ipul Ikut Bertambah

Dampak ekonomi MBG juga dirasakan Fatkhul Mujib, 44, pengrajin tahu di Dusun Pamanjengan, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Baca juga : Dapur Berstandar Restoran Eks Driver Ojol Jadi Relawan

Pria yang akrab disapa Ipul itu merupakan pemilik usaha Tahu Fasa Mandiri yang dirintis sejak 2018. Sejak menjadi pemasok SPPG, produksi tahu miliknya ikut meningkat. Sebelum memasok kebutuhan dapur MBG, Ipul memproduksi sekitar tujuh kuintal tahu per hari. Kini kapasitas produksinya mencapai sekitar delapan kuintal per hari.

"Setelah menjadi pemasok SPPG, ada tambahan produksi," kata Ipul.

Usaha tersebut kini mempekerjakan 10 orang. Delapan orang menangani proses produksi, sementara dua lainnya bertugas mengantarkan tahu kepada pelanggan.

Ipul mulai memasok tahu ke SPPG sejak awal dapur tersebut beroperasi. Untuk SPPG Polda Sulsel, ia rata-rata memasok sekitar 50 kilogram tahu dalam sekali pengiriman.

Harga yang dipatok sekitar Rp110 ribu per ember, sudah termasuk pengantaran ke lokasi. Pengiriman dilakukan tiga hingga empat kali dalam sepekan, menyesuaikan kebutuhan dapur.

Tak hanya SPPG Polda Sulsel, Tahu Fasa Mandiri juga melayani sekitar 10 dapur SPPG lainnya. Jika setiap dapur mengambil sekitar 50 kilogram, total pasokan dalam satu kali pengiriman dapat mencapai sekitar 500 kilogram.

Besarnya permintaan tersebut ikut mengerek omzet usaha. Ipul memperkirakan pendapatannya meningkat sekitar 25 persen sejak menjadi pemasok MBG.

Baca juga : Anak Makan Lahap, Ahli Gizi Ikut Senang

Meski peningkatan produksi belum membuatnya menambah jumlah pekerja, Ipul mulai menyiapkan rencana untuk mengembangkan usaha.

"Setelah menjadi pemasok SPPG, usaha mengalami peningkatan. Ke depan tentu ada rencana untuk mengembangkan usaha," kata dia.

Jarak tempat usaha yang relatif dekat dengan sejumlah dapur SPPG juga membantu kelancaran distribusi. Rata-rata pengiriman tahu ke dapur SPPG berada dalam radius sekitar 5–7 kilometer.

Bagi Ipul, permintaan dari SPPG memberikan pasar tambahan bagi usaha yang sudah dirintis selama bertahun-tahun. Produksi yang meningkat menjadi peluang untuk mengembangkan usaha lebih besar ke depan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense