Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sidak ke Kantor Kemenhaj Jaktim, Dahnil Komit Sapu Bersih Penyimpangan
- Ripal Wahyudi Siap Anggap Setiap Laga Sebagai Final
- Hakim PN Jaksel Tolak Lagi Praperadilan Asrul Azis Taba di Kasus Kuota Haji
- OMC Terkendala Cuaca, Menhut Andalkan Water Bombing Bromo
- MBG Jalan Rezeki Perajin Tahu Tempe, Karyawan Tambah, Cicilan Lancar
Sebelum Berangkat ke Sekolah
Menu MBG Diuji Formalin & Nitrit, Tak Lolos Langsung Diganti
Senin, 10 Agustus 2026 11:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Keamanan pangan menjadi syarat mutlak sebelum makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikirim ke sekolah. Di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Sulawesi Selatan, setiap menu wajib lolos uji keamanan pangan. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi bahan berbahaya, makanan tersebut langsung diganti dan tidak diizinkan didistribusikan.
Jarum jam belum menunjukkan pukul 06.00 WITA. Di sebuah laboratorium sederhana di sudut dapur SPPG Polda Sulsel, Ahli Gizi Ivana Putri sudah bersiap menjalankan rutinitas yang tak pernah dilewatkan setiap pagi. Mengenakan jas laboratorium putih, masker, sarung tangan, dan penutup kepala, ia duduk di depan meja yang dipenuhi tabung reaksi, botol reagen, gelas ukur, dan sejumlah peralatan pengujian.
Di hadapannya tersaji satu paket menu MBG yang beberapa saat lagi akan dibagikan kepada ribuan penerima manfaat. Pagi itu menunya terdiri atas nasi putih, telur bulat, tahu krispi, tumis sawi dan wortel, serta jeruk.
Rakyat Merdeka menyaksikan langsung seluruh tahapan pengujian tersebut. Proses diawali dengan uji organoleptik, yakni pemeriksaan menggunakan indera untuk memastikan kualitas makanan. Ivana mengamati warna makanan, mencium aromanya, serta memeriksa tekstur setiap bahan. Ia memastikan tidak ada makanan yang berlendir, berbau asam, berubah warna, atau menunjukkan tanda-tanda mulai rusak.
Setelah lolos pemeriksaan awal, pengujian dilanjutkan ke tahap laboratorium. Satu per satu komponen makanan diambil dalam jumlah kecil. Nasi, lauk, tahu, sayur hingga buah dicacah, lalu dicampur menjadi satu sampel. Sampel tersebut kemudian direndam dan diuji menggunakan tabung reaksi serta reagen khusus yang disediakan Badan Gizi Nasional (BGN).
Proses itu menjadi bagian dari sistem pengawasan keamanan pangan yang diterapkan SPPG Polda Sulsel. Setiap hari, sebelum 2.946 porsi makanan didistribusikan ke 23 titik layanan, seluruh menu harus dinyatakan aman dari kandungan bahan kimia berbahaya.
Baca juga : Dapur Berstandar Restoran Eks Driver Ojol Jadi Relawan
"Yang kami lakukan adalah uji keamanan pangan. Ada dua jenis pengujian, yaitu untuk mendeteksi kandungan nitrit dan formalin," kata Ivana kepada Rakyat Merdeka.
Menurut Ivana, keamanan pangan sebenarnya sudah dimulai sejak pemilihan bahan baku. SPPG mengutamakan bahan pangan segar dan berupaya menghindari penggunaan bahan beku (frozen), baik daging ayam, daging sapi, maupun telur, selama pasokan segar tersedia.
Namun, pemeriksaan tidak berhenti di situ. Sebelum makanan keluar dari dapur, seluruh menu kembali diuji di laboratorium.
Untuk mendeteksi nitrit, sampel makanan terlebih dahulu direndam. Sekitar dua menit kemudian, petugas mengamati perubahan warna larutan. Jika berubah menjadi merah muda atau ungu, sampel terindikasi mengandung nitrit. Sebaliknya, jika tidak terjadi perubahan warna, hasilnya dinyatakan negatif.
Sementara itu, pengujian formalin dilakukan dengan memindahkan air rendaman sampel ke tabung reaksi, lalu menambahkan beberapa jenis reagen.
"Kalau setelah ditambah reagen larutannya tetap berwarna hijau, berarti aman dan tidak mengandung formalin. Kalau berubah merah, berarti terindikasi mengandung formalin," jelasnya.
Baca juga : Anak Makan Lahap, Ahli Gizi Ikut Senang
Seluruh proses pemeriksaan hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit. Meski singkat, hasilnya menjadi penentu apakah makanan layak didistribusikan atau harus diganti. Ivana menjelaskan, pengujian ini sangat penting karena formalin maupun nitrit tidak akan hilang hanya dengan proses memasak.
"Kalau bahan pangannya memang sudah mengandung formalin atau nitrit, memasak tidak menghilangkannya. Memasak hanya membunuh bakteri, bukan menghilangkan bahan kimia berbahaya," katanya.
Ia mengingatkan, makanan yang mengandung formalin dapat menyebabkan sakit kepala, mual, muntah, hingga keracunan. Sementara kandungan nitrit dalam kadar berbahaya berpotensi memicu sakit perut, kram, dan gangguan pada saluran pencernaan.
Karena itu, pengawasan dilakukan sejak awal, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga makanan siap dikirim ke sekolah.
Ketegasan terhadap aspek keamanan pangan juga diterapkan dalam operasional SPPG. Pengawas SPPG Polda Sulsel, Kompol Deny Ratmodiharjo, mengatakan pihaknya tidak pernah berkompromi jika menemukan bahan pangan yang tidak memenuhi standar.
Ia mencontohkan, pada masa awal operasional, tim pernah menemukan indikasi formalin pada salah satu bahan makanan saat proses pengujian.
Baca juga : MBG Diprioritaskan Untuk Ibu Hamil Dan Daerah 3T
"Kami langsung menarik menu tersebut dan menggantinya dengan telur. Pernah juga ada sayuran yang kami nilai tidak memenuhi standar, langsung kami ganti dengan lalapan timun. Prinsipnya, kalau tidak aman, tidak boleh disajikan," tegasnya.
Menurut Deny, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen SPPG Polda Sulsel dalam menjaga kualitas makanan yang diterima para siswa.
"Keamanan pangan adalah prioritas. Kami ingin memastikan setiap makanan yang keluar dari dapur ini benar-benar aman, sehat, dan layak dikonsumsi," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya