RM.id Rakyat Merdeka - Latihan gabungan multinasional Super Garuda Shield 2026 dinilai menjadi momentum bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk meningkatkan kemampuan profesional sekaligus memperkuat modernisasi taktis dalam menghadapi perubahan karakter peperangan modern.
“Latihan bersama ini tentunya dapat meningkatkan kemampuan profesional, teknis, dan praktis yang dimiliki TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara,” kata Pengamat pertahanan Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
TNI bersama Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) dan 13 negara kontributor pasukan membuka latihan Super Garuda Shield 2026 di Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), Bandung, Jawa Barat, Senin.
Latihan yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 11 September 2026 itu digelar di sejumlah wilayah, antara lain Bandung, Baturaja, Lampung, dan Kalimantan Utara, dengan melibatkan sekitar 5.000 personel angkatan bersenjata gabungan.
Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar AS Joy Sakurai mengatakan Super Garuda Shield mencerminkan komitmen bersama Indonesia, Amerika Serikat, serta negara-negara mitra dalam menjaga keamanan, kemakmuran, dan kedaulatan di kawasan Indo-Pasifik.
“Super Garuda Shield menunjukkan bahwa Amerika Serikat, Indonesia, serta mitra dan sekutu kami lainnya memiliki komitmen yang sejalan dalam menjaga keamanan, kemakmuran, dan kedaulatan di Indo-Pasifik,” kata Joy dalam keterangan pers, Senin (31/8/2026).
Baca juga : Israel Serang Lebanon, Pengamat: Ancaman Serius Bagi Perdamaian
Sementara itu, Komandan Jenderal Divisi Infanteri ke-4 Angkatan Darat AS Mayor Jenderal Patrick Ellis mengatakan latihan tersebut menjadi sarana untuk membangun hubungan sekaligus meningkatkan kesiapan bersama antara pasukan Indonesia dan negara-negara mitra.
“Kami sangat antusias untuk bekerja bahu-membahu dengan mitra kami tahun ini guna memastikan kesiapan kami dalam merespons secara cepat setiap situasi kontingensi atau krisis,” ujar Patrick.
Menurut Susaningtyas, skala latihan multinasional tersebut memberikan kesempatan bagi prajurit TNI untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama dengan pasukan dari berbagai negara dalam sejumlah skenario operasi.
Rangkaian latihan Super Garuda Shield 2026 mencakup latihan staf gabungan, latihan siber, operasi lintas udara, pelatihan perang hutan, latihan amfibi, hingga pelatihan maritim bersama TNI Angkatan Laut, Angkatan Laut AS, dan Penjaga Pantai AS.
Menurut Nuning-sapaan Susaningtyas-menilai, pengembangan kemampuan tersebut relevan dengan kebutuhan modernisasi taktis TNI, terutama di tengah perubahan lingkungan strategis dan perkembangan teknologi dalam peperangan.
Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian dalam latihan tahun ini adalah penanggulangan ancaman pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV).
Baca juga : Nuning: Serangan Ke UNIFIL Langgar Hukum Internasional
Menurut Susaningtyas, pengembangan kemampuan menghadapi ancaman drone menjadi semakin penting karena penggunaan teknologi nirawak kini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi karakter konflik dan peperangan modern.
“Adanya penanggulangan pesawat tanpa awak untuk pertama kalinya sangat relevan dengan karakteristik perang modern yang dapat berkaca dari berbagai konflik yang terjadi saat ini,” ujarnya.
Selain pengembangan kemampuan menghadapi ancaman UAV, latihan gabungan berskala besar tersebut juga dinilai dapat meningkatkan interoperabilitas antarpasukan melalui berbagai latihan dengan dukungan teknologi dan sistem persenjataan modern.
Menurut dia, modernisasi kemampuan TNI tidak hanya berkaitan dengan pengadaan alat utama sistem persenjataan, tetapi juga peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan, mengintegrasikan, dan bekerja sama menggunakan berbagai sistem yang dimiliki.
Karena itu, latihan bersama dengan negara-negara mitra dapat menjadi sarana untuk memperluas pengalaman operasional, mengasah kemampuan taktis, serta meningkatkan kesiapan personel dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman.
Susaningtyas menambahkan, peningkatan interoperabilitas juga perlu didukung penguatan sarana dan prasarana, termasuk pengelolaan akses informasi serta pengaturan kerja sama yang jelas antarpihak.
Baca juga : Penyerahan Jabatan Kabais Dinilai Tepat, TNI Jaga Objektivitas
Meski demikian, ia menegaskan, kerja sama pertahanan dan latihan bersama tersebut harus tetap diarahkan untuk memperkuat kapasitas nasional dan menjaga kepentingan strategis Indonesia.
Keikutsertaan Indonesia dalam latihan multinasional, menurut dia, tidak berarti membentuk komitmen pertahanan kolektif atau menunjukkan keberpihakan kepada blok kekuatan tertentu.
“Indonesia tetap harus memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif. Kerja sama pertahanan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan nasional dengan tetap menjaga kemandirian dan kepentingan strategis Indonesia,” kata Susaningtyas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.