RM.id Rakyat Merdeka - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan menyisakan ancaman serius bagi kelangsungan satwa liar. Selain menghancurkan vegetasi, kebakaran juga menghilangkan habitat, sumber makanan, dan air yang menjadi penopang kehidupan satwa endemik dan langka.
Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, menilai karhutla tidak terlepas dari aktivitas manusia, baik yang dilakukan korporasi maupun perorangan.
Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari pola kebakaran yang terus berulang setiap tahun.
“Pola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal. Respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat ketika kebakaran telah meluas sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya semakin besar,” tuturnya.
Baca juga : RedDoorz Salurkan Bantuan Rp25 Juta untuk Korban Bencana NTT Dan Kalimantan
Dr Mustari menegaskan, karhutla dapat terjadi di berbagai kawasan, mulai dari perkebunan, hutan sekunder, hingga hutan primer yang menjadi habitat penting bagi satwa liar.
“Orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang dapat terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologis ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat,” ucapnya.
Dampak paling langsung adalah kematian satwa akibat terbakar. Sementara satwa yang berhasil melarikan diri harus menghadapi hilangnya habitat, makanan, dan sumber air.
Dalam kondisi tersebut, satwa berpotensi masuk ke kawasan hutan sekunder, perkebunan, hingga permukiman untuk mencari tempat bertahan hidup. Situasi ini kemudian meningkatkan risiko konflik antara satwa dan manusia.
Baca juga : Finnantara Intiga & Pemkab Sanggau Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla
“Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,” jelasnya.
Dr Mustari menambahkan, pemulihan ekosistem pascakarhutla tidak cukup hanya dengan melihat kembali tumbuhnya vegetasi. Pemulihan jaring dan rantai makanan membutuhkan waktu sangat panjang, bahkan bisa mencapai ratusan tahun dan belum tentu kembali seperti kondisi semula.
Karena itu, ia mendorong penegakan hukum tanpa pandang bulu, penguatan upaya pencegahan, serta perlindungan dan perluasan habitat satwa melalui kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa.
“Lebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Baca juga : Trend Hotspot Turun, Menhut: Ketegasan Presiden Dorong Penanganan Karhutla
Menurutnya, kesadaran publik juga perlu diperkuat. Sebab, dampak karhutla bukan hanya mengancam satwa dan ekosistem, tetapi juga manusia melalui penurunan kualitas udara serta gangguan terhadap ketersediaan pangan dan air.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.