RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto kembali membuka meja bundarnya di Hambalang untuk sejumlah jurnalis senior. Banyak pertanyaan diajukan, dan semuanya dijawab tuntas oleh Presiden. Di tengah ancaman bencana, Presiden bertekad meningkatkan kemampuan mitigasi. Badan-badan yang menangani bencana harus diperkuat dan diberi anggaran yang cukup, namun efisien. Korupsi, kata Presiden, bisa melemahkan Pemerintah dalam menghadapi situasi nasional.
Bagi Rakyat Merdeka, ini adalah kesempatan ketiga kalinya ke Hambalang. Tentu senang. Selain karena bisa langsung berdialog dengan Presiden, Rakyat Merdeka juga bisa mencicipi lagi nikmatnya nyeruput kopi Hambalang. Racikan khusus yang hanya ada di sana.
Kali ini, Rakyat Merdeka ikut dalam program Presiden Prabowo Menjawab. Untuk yang pernah nonton video-video program ini, tentu sudah hafal formatnya. Presiden diwawancarai oleh enam orang. Semuanya duduk mengelilingi meja bundar di ruang tengah perpustakaan kediaman Presiden.
Presiden berada di salah satu tepian meja. Di sebelah kanan, duduk berurutan Andromeda Mercury (Jurnalis Senior TVOne), Rivana Pratiwi (Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV) dan Dr Gema Goeyardi (CEO Astronacci International). Sementara di sebelah kiri Presiden, duduk Liviana Cherlisa (moderator), Wahyu Daniel (Pemimpin Redaksi CNBC Indonesia), Ratna Susilowati (Rakyat Merdeka) dan Akbar Faizal (Founder Akbar Faizal Uncensored).
Rakyat Merdeka sebetulnya menyiapkan 6-7 pertanyaan. Namun, beberapa menit sebelum mulai, para pewawancara, auto berbagi tema. Berinisiatif agar tidak ada pengulangan pertanyaan.
Hari itu, Minggu (6/9/2026), abu vulkanik embusan dari erupsi anak gunung Krakatau sedang terbang kemana-mana. Ada sejumlah bandara ditutup, dan ratusan penerbangan di-cancel. Tema ini salah satu yang penting ditanyakan kepada Bapak Presiden.
Pemerintah beberapa bulan ini memang sangat concern menanggulangi bencana yang terjadi di sejumlah tempat. Beberapa pekan lalu, Presiden terjun langsung mengkomandoi penanganan kebakaran hutan di Kalimantan, juga turun ke NTT menjenguk korban gempa.
Baca juga : Ambang Batas Parlemen 4-5%
Pertanyaan terkait ini, bagaimana upaya-upaya dan strategi mitigasi Pemerintah untuk menangani bencana yang saling berkelindan ini? Sepanjang dua tahun Pemerintahan, rasanya ujian bencana di negeri kita cukup berat. Fenomena El Nino telah menyebabkan kebakaran lahan dan hutan yang luas. Lebih dari itu, ada ancaman krisis air dan kekeringan yang kemungkinan baru akan berakhir awal tahun 2027.
Presiden menjawab dengan penuh percaya diri. Sesuai laporan dari Menteri Pertanian, stok beras aman sampai tahun depan. Cadangan sekitar 5 juta ton. “Kita tidak khawatir menghadapi El Nino,” tegas Presiden. Untuk handle krisis air dan kekeringan, ada ribuan pompa yang sudah disiapkan Pemerintah buat petani.
Soal bencana abu vulkanik dan gempa, Presiden bercerita tentang posisi Indonesia yang berada di gugusan ring of fire. Ada risiko tapi ada juga berkahnya. Hidup dibayangi bencana tapi di sisi lain tanah Indonesia kaya mineral dan subur. Begitulah takdir alamnya.
Karenanya, Presiden bertekad meningkatkan kemampuan mitigasi bencana. Caranya, menambah armada-armada helikopter, besar-besaran berinvestasi pada peralatan untuk memitigasi kebakaran, gempa bumi, tsunami maupun erupsi. “Kita kerahkan seluruh kemampuan kita,” tegas Presiden.
Kita, kata Presiden, perlu ratusan helikopter untuk water bombing. “Saya sudah pesan beberapa pesawat-pesawat besar untuk keperluan itu. Kita juga sudah pesan drone-drone yang bisa menerjunkan air,” paparnya.
Menurut Presiden, penting untuk memperkuat badan-badan Pemerintah. Jangan sampai institusi kita lemah. Kalau korupsi tak bisa dibendung, sistem ekonomi tak bisa dikoreksi, dan tak bisa melakukan efisiensi, maka Indonesia akan lemah saat menghadapi situasi yang diperlukan.
Hidup di gugusan ring of fire memang rentan bencana. Namun, di balik segala risiko dan kerugian, ada pula kebaikannya. Kata Presiden, Yang Maha Kuasa memberi kita cobaan, ujian. Tapi juga memberikan kelebihan. Tanah Indonesia menjadi subur. Sumber kemakmuran. Dan karena itulah, sejak lama Nusantara dicari dan menjadi incaran orang-orang. “Vulkanisme dan erupsi, menghasilkan mineral yang luar biasa di tanah Indonesia,” kata Presiden.
Baca juga : KPK Periksa 3 Warek Unsoed
Dengan risiko sekaligus kelebihan inilah, tantangan bagi Indonesia adalah bagaimana memenej-nya dengan baik. Karenanya, negara harus memiliki institusi yang efisien.
Presiden bercerita bagaimana memeriksa anggaran tiap Kementerian, Lembaga dan Institusi. “Saya periksa anggaran itu. Setiap kementerian, ada anggaran untuk hari ulang tahun. Dan itu tidak sedikit. Ya, saya hilangkan. Tidak usah ada perayaan hari ulang tahun. Ya, rayakan di kantor saja. Potong tumpeng, 15 orang, 20 orang, kasih sambutan. Cukup,” katanya.
Juga event-event internasional, Presiden mengatakan, itu dikurangi. “Saya bilang, sudahlah. Kita belum tentu bisa dapat medali emas dari apa yang kita keluarkan ratusan miliar untuk jadi tuan rumah. Ya kan? Kurangi!” kata Presiden.
Belum lagi seminar, grup-grup diskusi, kunjungan kerja, dan lain sebagainya. Dari efisiensi dan penghematan itu, negara bisa mendapatkan tambahan hingga Rp 300-an triliunan.
“Anda bayangkan, Rp 300 triliun. Biaya pembelian alat tulis, percetakan, suvenir, sewa gedung, peralatan rapat, seminar, dan sejenisnya. Dari biaya kajian, dan lain sebagainya. Kita banyak sekali bisa berhemat,” katanya.
Namun, itu saja belum cukup. Menurut Presiden, biaya belanja barang yang terdapat dalam APBN masih bisa dihemat. Apalagi, ada perkiraan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), kebocoran atau tidak efisien sampai sekitar 40-an persen.
“Ini mungkin karena tiap kementerian ada yang belanja sendiri-sendiri, tiap provinsi belanja sendiri-sendiri. Tiap kabupaten belanja sendiri-sendiri. Padahal barangnya mungkin sama. Kalau kita belanja barang sejenis dijadikan satu, beli langsung banyak bukankah malah harusnya dapat diskon kan?” tutur Presiden.
Baca juga : Penanganan Stunting Harus Libatkan Lintas Kementerian
Kebocoran 40 persen itu, kata Presiden, nilainya mencapai Rp 1.200-an triliun. Bayangkan, kalau kebocoran ini bisa dicegah. Coba dikalkulasi saja. “Seluruh program MBG saja tidak sampai Rp 250-an triliun,” kata Presiden.
Jadi, salah satu kunci untuk mengatasi bencana, kata Presiden, adalah efisiensi. Agar anggaran sebaik-baiknya dipergunakan untuk keperluan yang lebih mendesak dan penting. Dengan anggaran yang cukup, Pemerintah juga bisa melakukan edukasi, inovasi dan menggunakan teknologi canggih dalam menangani bencana.
Terkait kebakaran hutan, Presiden mengatakan juga ada peran dan ulah manusia yang diperalat oleh korporasi. “Mereka membuka lahan, cara paling murah dengan membakar,” katanya.
Apakah ada indikasi sabotase? “Ya ini kita sedang melihat (menyelidikinya),” kata Presiden. (Bersambung).
Untuk melihat versi video, silakan lihat di kanal YouTube Rakyat Merdeka TV.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.