BREAKING NEWS
 

Lukman Hakim: Pesantren Gontor Sangat Memuliakan Presiden Prabowo

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : FAQIH MUBAROK
Selasa, 29 September 2026 11:21 WIB
Mantan Menteri Agama (Menag) KH. Lukman Hakim Saifuddin. Foto: Dok Lukman Hakim

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Menteri Agama (Menag) KH. Lukman Hakim Saifuddin meluruskan narasi yang mengaitkan pembacaan Surat Al-Ahzab ayat 70-73 dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dengan teguran khusus kepada Presiden Prabowo Subianto.

Alumnus Gontor tahun 1983 itu menegaskan, ayat yang dibacakan dalam acara tersebut ditujukan kepada seluruh peserta, bukan secara khusus kepada Presiden.

Pesan mengenai amanah dalam ayat tersebut, kata Lukman, bersifat umum dan relevan bagi seluruh alumni Gontor yang mengemban tanggung jawab di masyarakat.

“Kalau dikaitkan dengan pilihan ayat Al-Qur’an yang dibacakan, apakah itu secara khusus ditujukan kepada Pak Prabowo? Tentu tidak. Karena itu berlaku, ditujukan bagi kita semua yang hadir di situ,” kata Lukman dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Menurut Lukman, resepsi satu abad Gontor merupakan reuni akbar yang mempertemukan alumni dari berbagai generasi, mulai angkatan 1950-an hingga 2000-an. Karena itu, pesan dalam Surat Al-Ahzab mengenai amanah harus dipahami dalam konteks yang lebih luas.

“Jadi pilihan ayat itu, tiga ayat itu, Al-Ahzab 70, 71, 72, 73, adalah mengingatkan kita semua. Jadi semua kita yang hadir itu, dan ayat itu berlaku umum, berlaku kepada semua kita bahwa tanggung jawab itu harus diemban dengan sebaik-baiknya, kepercayaan itu harus dijaga dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Baca juga : Prabowo Takziah Ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa Atas Wafatnya Guruh

Lukman juga meminta publik melihat keseluruhan rangkaian kunjungan Prabowo ke Gontor. Menurut dia, sikap pimpinan dan warga pondok justru menunjukkan penghormatan kepada Presiden sebagai Kepala Negara.

“Gontor itu sangat menghormati Bapak Presiden. Bahkan ekspresi disampaikan oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal. Semua Presiden itu diundang secara terhormat oleh Gontor,” ujarnya.

Dia mencontohkan penyambutan terhadap Prabowo sejak memasuki kawasan pondok. Ribuan santri berbaris menyambut kedatangan Presiden dalam momentum peringatan satu abad Gontor.

“Lihat saja penyambutan Presiden itu. Penyambutan dari sisi protokoler ke Gontor, yaitu protokoler nomor satu, yang tertinggi. Disambut sejak masuk ke jalan wilayah Gontor oleh santri-santri yang berbaris. Tidak semua orang disambut seperti itu, hanya Presiden yang disambut seperti itu,” sebutnya.

Karena itu, Lukman menilai pembacaan Surat Al-Ahzab tidak tepat dijadikan dasar untuk menyimpulkan Gontor sedang menunjukkan sikap tidak hormat kepada Prabowo.

Adsense

“Jadi kalau dikatakan Gontor tidak menghormati Presiden, tidak benar. Presiden dimuliakan, bahkan Pak Kiai meminta Presiden lebih lama makan siang di sana dan seterusnya,” beber Lukman.

Baca juga : Pendidikan Gratis dan Relevansinya Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Lukman menambahkan, permintaan Prabowo untuk berbicara secara tertutup juga diterima oleh pimpinan Gontor dan dilanjutkan dengan pertemuan terbatas setelah acara.

“Jadi tidak benar dengan pilihan ayat itu Gontor lalu kemudian seakan-akan ingin tidak menghormati Presiden. Tidak. Bagaimanapun, Gontor sadar betul bahwa Presiden Indonesia adalah Presiden kita semua yang harus dihormati keberadaannya,” tegas Lukman.

Penghormatan tersebut, lanjut Lukman, juga terlihat dari pemberian Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku Gontor untuk Indonesia kepada Prabowo pada puncak resepsi satu abad pondok.

Menurut Lukman, penyerahan mushaf tersebut menunjukkan bentuk penghormatan khusus dari Gontor kepada Presiden. Ia menyebut mushaf tersebut merupakan terbitan khusus Gontor yang sebelumnya belum pernah diberikan kepada tamu lain.

“Jarang sekali, bahkan nyaris tidak ada tamu yang datang ke Gontor itu dihadiahi Al-Qur’an. Berarti Pak Presiden itu sungguh dimuliakan sekali oleh Gontor, secara khusus dihadiahi mushaf Al-Qur’an yang itu terbitan khusus Gontor yang sebelumnya belum pernah ada orang mendapatkan hadiah seperti itu. Ini kehormatan luar biasa,” jelasnya.

Lukman mengakui sebuah peristiwa dapat ditafsirkan dari berbagai perspektif. Namun, menurut dia, tafsir publik tidak serta-merta dapat dianggap sebagai maksud atau sikap resmi Gontor.

Baca juga : MUI Bantah Narasi Gontor Tegur Prabowo: Framing Spekulatif, Tak Sesuai Fakta

“Jadi tafsir itu memang bisa macam-macam. Kita serahkan saja kepada publik, kepada para pihak, untuk kemudian menafsiri sendiri hal-hal seperti itu, punya makna atau punya kesan seperti apa,” tuturnya.

Dia juga mengingatkan pernyataan pimpinan Gontor KH. Hasan Abdullah Sahal mengenai hubungan pondok dengan Presiden. Lukman mengatakan, Hasan secara eksplisit menyampaikan bahwa Gontor senantiasa berhusnuzan kepada Presiden.

“Berhusnuzan itu artinya berbaik sangka, positive thinking terhadap Presiden, selama Presiden juga berbaik sangka kepada Gontor. Itu artinya apa? Artinya secara eksplisit dinyatakan tidak ada kebencian, tidak ada permusuhan, tidak ada ketidaksukaan,” imbuh Lukman.

Menurut Lukman, apabila Gontor menyampaikan masukan atau kritik kepada Pemerintah, hal itu tidak semestinya dimaknai sebagai bentuk permusuhan terhadap Presiden.

“Justru andai pun ada masukan, katakanlah ada kritik, itu bentuk cintanya Gontor kepada Presiden, wujud kasih sayangnya, wujud cintanya, bentuk kepedulian Gontor terhadap Presiden. Jadi selalu positif maknanya,” pungkas Lukman.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense