Dark/Light Mode

Hasil Survei Parpol Terbaru, Gerindra Nyalip PDIP

Kamis, 24 September 2026 07:55 WIB
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro memaparkan hasil survei terbaru mengenai elektabilitas partai politik, di Jakarta, Rabu (23/9/2026). (Foto: YouTube/Poltracking TV)
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro memaparkan hasil survei terbaru mengenai elektabilitas partai politik, di Jakarta, Rabu (23/9/2026). (Foto: YouTube/Poltracking TV)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gerindra menyalip PDIP dalam survei terbaru Poltracking Indonesia. Partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu mencatat elektabilitas 23,2 persen, sementara PDIP berada di posisi kedua di angka 11,6 persen.

Survei Poltracking Indonesia ini dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 dengan 1.200 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen.

Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro menjelaskan, simulasi dilakukan dengan metode bilik suara. Responden ditanya, “Jika Bapak/Ibu/Saudara saat ini datang ke TPS dan berada di dalam bilik suara, partai politik atau caleg DPR RI dari partai politik apa yang akan dipilih?”

Hasilnya, Gerindra berada di posisi teratas dengan elektabilitas 23,2 persen. “Masih unggul dibanding partai-partai lainnya yang mendukung pemerintahan saat ini,” sebut Yoki.

PDIP berada di posisi kedua dengan 11,6 persen. Disusul Golkar 10,4 persen, PKB 6,2 persen, Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen.

Jika dibandingkan dengan tren survei sebelumnya, elektabilitas Gerindra mengalami pasang surut. Pada Oktober 2025, elektabilitas Gerindra tercatat 24,1 persen. Lalu naik menjadi 26,1 persen pada Maret 2026, kemudian turun menjadi 25,9 persen pada Mei 2026, 23,5 persen pada Juli 2026, dan kembali turun menjadi 23,2 persen pada Agustus 2026.

Baca juga : Prabowo Wujudkan Sekolah Gratis Sampai Kuliah Di PTN

Sementara itu, elektabilitas PDIP justru terus menunjukkan tren penurunan. Pada Oktober 2025 berada di angka 15,7 persen, kemudian 15,4 persen pada Maret 2026, turun menjadi 14,4 persen pada Mei 2026, kembali turun menjadi 12,3 persen pada Juli 2026, dan 11,6 persen pada Agustus 2026.

Adapun elektabilitas Golkar berada di angka 9,5 persen pada Oktober 2025. Kemudian turun menjadi 9,0 persen pada Maret 2026, sedikit naik menjadi 9,2 persen pada Mei 2026, kembali naik menjadi 11,4 persen pada Juli 2026, sebelum turun menjadi 10,4 persen pada Agustus 2026.

Merespons hasil survei ini, politisi Gerindra Kamrussamad mengatakan, setiap survei dapat menjadi referensi bagi partai untuk menyusun perencanaan sekaligus mengevaluasi kerja politik dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Namun, dia mengingatkan koleganya agar tidak terlena dengan hasil survei. Menurutnya, elektabilitas bersifat dinamis.

“Betapapun survei bersifat dinamis,” pesan Kamrussamad saat dihubungi Rakyat Merdeka, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, hasil survei Poltracking juga menunjukkan elektabilitas Gerindra mengalami penurunan dibandingkan hasil survei pada 2025. Karena itu, partainya akan terus menerapkan strategi yang adaptif terhadap dinamika masyarakat.

Baca juga : 1 ABK Ditemukan Di Pulau Enggano

Kamrussamad meminta kader Gerindra tetap bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Sehingga keberadaan Gerindra semakin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat,” kata anggota Komisi XI DPR ini.

Sementara itu, politisi senior PDIP Hendrawan Supratikno menganggap fluktuasi elektabilitas dalam survei sebagai hal biasa. Menurutnya, hal terpenting adalah memastikan survei dilakukan lembaga yang kredibel dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kata Hendrawan, hasil survei dapat menjadi bahan bagi partai untuk merespons perkembangan politik secara terukur. Namun, dia mengaku terkadang sulit membedakan lembaga survei yang bekerja secara independen dengan yang bekerja berdasarkan pesanan atau kepentingan sponsor tertentu.

“Jujur. Terkadang kita sulit membedakan mana lembaga yang bekerja secara independen, profesional, dan mana yang atas dasar pesanan atau sponsor tertentu,” keluhnya saat dihubungi Rakyat Merdeka, Rabu (23/9/2026).

Menurut pengalaman Hendrawan, hasil survei juga sangat dipengaruhi dinamika peristiwa politik yang terjadi sebelumnya. Karena itu, perubahan elektabilitas antarsurvei dapat terjadi.

“Ketika masa bulan madu dengan Presiden masih hangat, partai asal Presiden wajar akan naik. Jika bulan madu sudah berlalu, pergeseran juga terjadi,” urai Hendrawan.

Baca juga : Trump Berterima Kasih Kepada Indonesia

Dia mengingatkan masyarakat agar mengikuti perkembangan politik dengan baik dan meningkatkan literasi politik.

“Masyarakat yang cerdas, dengan literasi politik yang tinggi, akan mampu membedakan mana partai yang konsisten dan komit dengan cita-cita proklamasi dan konstitusi,” katanya.

Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO) DPP Partai Golkar Nurul Arifin menghargai hasil survei tersebut. Menurutnya, survei dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk mengukur kinerja partai di tengah masyarakat.

Nurul mengatakan, posisi Golkar dalam survei perlu dilihat secara komprehensif. Konsistensi, komunikasi, serta kemampuan merespons berbagai persoalan masyarakat menjadi bagian penting yang harus terus diperkuat.

Dia berharap hasil survei tersebut menjadi masukan bagi Golkar untuk melakukan evaluasi dan meningkatkan kinerja.

“Dan meningkatkan kinerja yang langsung menyentuh kepentingan publik dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.