Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
MUI Bantah Narasi Gontor Tegur Prabowo: Framing Spekulatif, Tak Sesuai Fakta
Minggu, 27 September 2026 21:59 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluruskan narasi yang mengaitkan pembacaan Surat Al-Ahzab ayat 70–73 dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dengan teguran kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh mengatakan, pembacaan ayat tersebut sebaiknya dipahami sesuai konteks rangkaian acara dan substansi pesan yang terkandung di dalamnya.
Menurut dia, mengaitkannya secara khusus dengan Presiden merupakan interpretasi yang tidak didukung fakta dalam rangkaian acara.
“Informasi tersebut jelas framing yang spekulatif, dan dari sisi qarinah, tidak sesuai dengan fakta di dalam event 100 tahun Gontor tersebut,” kata Niam, Minggu (27/9/2026).
Faktanya, kata dia, acara yang dipublikasikan secara resmi oleh Gontor mencatat Surat Al-Ahzab ayat 70–73 memang dibacakan setelah lagu Indonesia Raya dan Hymne “Oh Pondokku”, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.
Namun, publikasi resmi tersebut tidak menyebut pembacaan ayat itu sebagai teguran kepada Presiden.
Niam justru melihat rangkaian acara menunjukkan suasana yang hangat antara pimpinan pesantren dan Presiden. Kehadiran Prabowo dalam momentum satu abad Gontor, kata dia, telah dipersiapkan dan dinantikan.
Baca juga : Sebut Narasi Gontor Tegur Presiden Hoax, Stafsus Menag: Prabowo Paling Bela Umat
“Dalam sambutan pengasuh pesantren, justru kehadiran Presiden sangat dinantikan, dan direncanakan cukup lama. Sambutan hangat, serta apresiasi atas kunjungan Presiden menunjukkan kebersamaan dan keakraban antara Ulama dan Umara,” tuturnya.
Catatan resmi Gontor menyebut, Presiden tiba sekitar pukul 10.20 WIB dan disambut ribuan santri dengan kibaran Merah Putih serta penampilan marching band.
Pada puncak acara, pimpinan Gontor juga menyerahkan Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku Gontor untuk Indonesia kepada Presiden.
Niam juga menjelaskan konteks Surat Al-Ahzab ayat 70–73 yang kemudian dikaitkan dengan Presiden. Menurutnya, substansi ayat tersebut mengandung pesan moral yang bersifat umum mengenai amanah dan kepemimpinan.
“Dari sisi substansi, ayat yang dibaca, yakni QS Al-Ahzab ayat 70–73 tersebut justru sebagai pesan moral amanah kepemimpinan,” terang Niam.
Pesan tersebut, lanjut dia, tidak ditujukan secara khusus kepada satu orang. Nilai mengenai amanah berlaku bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab, baik dalam lingkungan keagamaan maupun pemerintahan.
“Yang perlu diingat dan dipedomani, bagi siapapun, termasuk bagi pemimpin keagamaan dan pemimpin pemerintahan,” jelasnya.
Baca juga : Satu Abad Gontor, Ibas Dorong Santri Kuasai Teknologi dan Beradab
Niam menjelaskan, ayat tersebut merupakan panduan moral bagi umat Islam dalam menata kehidupan sosial sekaligus menjalankan tanggung jawab yang diemban.
“Ayat ini merupakan petunjuk umum dan panduan moral bagi umat Islam pasca-peristiwa perjuangan di Madinah seperti Perang Ahzab, untuk memperbaiki tatanan sosial kemasyarakatan, sikap, dan komitmen terhadap ajaran Islam untuk mewujudkan kemaslahatan,” beber Niam.
“Ayat ini juga berbicara tentang amanah yang diberikan Allah kepada manusia itu berat, walau demikian harus ditunaikan secara baik,” lanjutnya.
Niam turut menyoroti sikap Presiden Prabowo dalam forum tersebut yang menegaskan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina.
Menurutnya, sikap tersebut sejalan dengan aspirasi masyarakat Indonesia, termasuk kalangan ulama.
“Dalam forum tersebut, Presiden juga menegaskan komitmen dukungan kemerdekaan Palestina. Dan itu juga sejalan dengan aspirasi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk para Ulama,” katanya.
Dalam dokumentasi resmi kepresidenan, Prabowo memang meneriakkan “Free Palestine” saat menyapa Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari.
Baca juga : Pengajar Gontor Pegang Pesan Prabowo Untuk Cetak Generasi Berprestasi
Momen tersebut disambut para hadirin sebelum Dubes Palestina mengalungkan kefiyyeh kepada Presiden. Karena itu, Niam mengajak masyarakat lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi di ruang digital.
Menurutnya, perbedaan pandangan sebaiknya tidak berkembang menjadi narasi yang tidak memiliki dasar yang jelas atau berpotensi merugikan pihak tertentu.
“Masyarakat hendaknya bijak dalam memanfaatkan dan merespons informasi di media digital. Kita harus memastikan konten digital itu bermanfaat dan tidak menebar kebencian kepada seseorang, apalagi narasi yang membunuh karakter seseorang tanpa dasar,” tegasnya.
Ia menilai, ruang publik perlu diisi dengan narasi yang memperkuat persatuan, terlebih ketika bangsa membutuhkan kerja bersama untuk mencapai kemaslahatan.
“Saatnya narasi yang dibangun harus bermuara pada komitmen kebersamaan dan persatuan. Indonesia membutuhkan kebersamaan dalam mewujudkan kemaslahatan. Stop narasi yang memecah belah,” pungkas Niam.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya