Sebelumnya
Sementara itu, Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kaspi Kasim mengatakan, cara sebuah wilayah diperkenalkan kepada publik turut menentukan bagaimana wilayah tersebut diperlakukan. Menurut dia, perkembangan media sosial membuat sebuah tempat dapat menjadi populer dalam waktu singkat.
Namun, popularitas tersebut perlu diikuti dengan pemahaman mengenai masyarakat dan lingkungan setempat.
“Kami ingin mengajak orang datang sebagai pejalan yang mau memahami, bukan sekadar melihat. Kekaguman itu awal yang baik, tapi tidak cukup,” ujar Didi.
Dia mengatakan, Sorong Selatan diharapkan dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai ruang hidup masyarakat.
Semangat tersebut turut diwujudkan melalui pameran foto yang berlangsung pada 1-4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran. Pameran menampilkan kehidupan masyarakat Klaogin, Konda, dan Bariat, sekaligus memperkenalkan bentang alam serta budaya yang berkembang di wilayah tersebut.
Dari sisi pariwisata, CEO Legenda Khatulistiwa Narendra Makes mengatakan pengelola perjalanan memiliki tanggung jawab untuk memastikan aktivitas wisata tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
Baca juga : Tanam Pohon di Dusun Bambu, Menteri Jumhur Minta Izin Ekowisata Dipermudah
Menurut Narendra, pembatasan jumlah wisatawan, pengaturan jalur kunjungan, dan penghormatan terhadap aturan lokal merupakan bagian penting dari pengembangan wisata berkelanjutan.
“Perjalanan yang baik seharusnya meninggalkan manfaat bagi kampung yang dikunjungi, bukan hanya foto di galeri ponsel kita,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar dialog bertajuk “Masa Depan Keanekaragaman Hayati Sorong Selatan”. Dialog mempertemukan perwakilan lembaga konservasi, pemerintah daerah, dan masyarakat kampung.
Papua Program Director Konservasi Indonesia Robeth Mandosir mengatakan pariwisata dapat membuka sumber penghasilan baru bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi menambah tekanan terhadap alam jika tidak dikelola dengan baik.
“Yang membedakan ekowisata dari wisata alam biasa adalah ada tata kelolanya, ada batasnya, dan manfaatnya kembali ke masyarakat,” jelas Robeth.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya Irman Murafer mengatakan hutan, sungai, dan kampung di Sorong Selatan merupakan ruang hidup masyarakat yang sudah ada jauh sebelum wilayah tersebut dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Baca juga : Rendez-vous Rasa Satukan 160 Resto dari 40 Kota dan Chef Michelin
“Pariwisata harus menyesuaikan diri dengan kehidupan itu, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Ia menegaskan masyarakat harus menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat utama dari pengembangan pariwisata di daerah tersebut. Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen juga menekankan pentingnya menghormati aturan masyarakat setempat.
“Hutan dan sungai itu dapur kami, sekolah kami, tempat cerita orang tua kami tinggal,” katanya.
Ia menyambut wisatawan yang ingin datang ke Klaogin, dengan catatan mereka menghormati aturan kampung dan lingkungan yang dijaga masyarakat. Hal senada disampaikan Kepala Kampung Bariat Adrianus Kemeray.
Ia berharap pengembangan wisata tidak menghilangkan ruang hidup masyarakat dan tetap menjaga alam untuk generasi berikutnya. “Kami ingin anak-cucu kami yang lahir di Bariat nanti masih bisa mengenal hutan dan sungai seperti yang kami kenal sekarang,” ujarnya.
Selain dialog, kegiatan juga diisi pertunjukan tari, tur pameran foto, serta demonstrasi memasak pangan lokal oleh mama-mama dari Sorong Selatan. Rangkaian kegiatan berlanjut pada 3 Oktober 2026 melalui dialog bertema “Berbagi Tradisi dan Kearifan Merawat Hutan”.
Baca juga : Dukung Pelestarian Lingkungan Eiger Adventure Land Angkat 6 Ton Sampah di Puncak
Sesi ini menghadirkan Syahlan Machmud dari Konservasi Indonesia, Orpa Sawen dari Kelompok Sadar Wisata Klaogin, Yobolina Sopia Sawor dari Pokdarwis Bariat, serta Didi Kaspi Kasim.
Dialog tersebut membahas pengetahuan masyarakat dalam merawat hutan, tradisi pangan kampung, hingga batasan mengenai hal-hal yang dapat dibagikan kepada wisatawan dan bagian kehidupan masyarakat yang tetap harus dijaga.
Melalui kolaborasi tersebut, Konservasi Indonesia berperan sebagai mitra konten dan konservasi, National Geographic Indonesia sebagai mitra editorial dan media, sedangkan Legenda Khatulistiwa menjadi mitra ekosistem pariwisata sekaligus tuan rumah kegiatan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.