RM.id Rakyat Merdeka - Suara nyanyian para prajurit menggema di halaman Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 880/Banuanta, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Mereka berdiri tegap menyambut kedatangan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin.
Lantang suara prajurit itu membelah suasana pagi. Sesekali derap sepatu lars menghentak tanah secara serempak. Irama langkah kaki berpadu dengan nyanyian yang semakin bersemangat. Di gerbang kesatrian, sejumlah prajurit berdiri gagah dengan senapan laras panjang tersandang di tubuh mereka.
Jumat, 2 Oktober 2026, menjadi hari pertama kunjungan Sjafrie ke sejumlah satuan Batalyon Teritorial Pembangunan (YTP) di Kalimantan Utara. Dari Bulungan, perjalanan dilanjutkan ke Nunukan. Sehari berikutnya, Sabtu, 3 Oktober, Menhan menyambangi YTP 921 di Malinau dan YTP 922 di Tana Tidung.
Empat batalyon itu berada di wilayah yang berbeda karakter geografisnya, tetapi memiliki satu kesamaan penting: semuanya berada dalam kawasan perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nunukan dan Malinau bersentuhan langsung dengan wilayah darat Malaysia. Bulungan dan Tana Tidung menjadi wilayah penyangga dengan akses sungai dan laut yang strategis menuju kawasan perbatasan.
Kunjungan Sjafrie bukan sekadar melihat pangkalan atau memeriksa kesiapan personel. Di balik seragam, senjata, dan barisan yang berdiri tegak itu terdapat konsep baru tentang bagaimana prajurit ditempatkan di kawasan perbatasan: mampu bertempur ketika negara menghadapi ancaman, tetapi sekaligus hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Baca juga : 105 Unit Ranpur Amfibi Buatan AS Perkuat Korps Marinir
Di Tanjung Selor, rangkaian kunjungan dimulai dengan pertemuan Sjafrie bersama Bupati Bulungan Syarwani. Setelah itu, Menhan makan siang bersama prajurit Yonif TP 880/Banuanta.
Seusai makan siang, Danyonif TP 880/Banuanta, Letkol Inf Khabibur Rosyad, S.I.P., M.I.P., menyampaikan paparan mengenai kesiapan operasional satuan dan kondisi pangkalan. Sjafrie kemudian meninjau kawasan kesatrian sebelum berdiri di hadapan seluruh prajurit untuk memberikan pengarahan.
Dia menjelaskan, Yonif TP dibentuk dengan kualifikasi ganda. Prajurit harus tetap memiliki kemampuan dasar sebagai satuan tempur, tetapi pada saat yang sama dibekali kemampuan untuk menjalankan fungsi teritorial pembangunan.
“Sebagai Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan yang memiliki dua fungsi utama. Setiap satuan tempur wajib menguasai kemampuan dasar tempur, yaitu menembak, bela diri, serta patroli taktis untuk mencari dan menemukan sasaran,” kata Sjafrie.
Di luar kemampuan tempur itu terdapat tugas lain. Prajurit harus mampu menjalankan fungsi produksi seperti pertanian, peternakan, dan perikanan. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan konstruksi serta pelayanan kesehatan.
Baca juga : Indonesia-Australia Makin Lengket, Sepakat Jaga Kawasan Tetap Adem
Konsep tersebut, menurut Sjafrie, sejalan dengan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau Sishankamrata serta strategi pertahanan defensif aktif yang dianut Indonesia. Prajurit tidak hanya berdiri sebagai pagar bersenjata, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem masyarakat di wilayah tempat mereka ditugaskan.
“Kalian berada di tempat ini untuk menjaga kedaulatan negara dan membuat rakyat merasa aman serta nyaman. Kalian adalah prajurit TNI yang lahir dari rakyat, dibiayai oleh rakyat, dan bertugas membalas jasa rakyat melalui pengabdian terbaik,” ujar Sjafrie.
Pesan itu menjadi semakin relevan ketika perjalanan Menhan berlanjut ke Sebuku, Kabupaten Nunukan. Di tempat ini, batas negara bukan sekadar garis yang tergambar pada peta. Nunukan merupakan salah satu wilayah Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Di Marshalling Area Yonif TP 881/Baratama Dharma, Sjafrie kembali menerima paparan Danyonif mengenai kesiapan operasional pangkalan dan perkembangan situasi di wilayah perbatasan. Sebelumnya, Menhan bersilaturahmi dengan Bupati Nunukan, Irwan Sabri.
Untuk diketahui, Marshalling Area adalah zona atau pangkalan sementara yang digunakan untuk menampung, mengorganisasi, dan mempersiapkan prajurit, peralatan, serta logistik sebelum mereka ditempatkan ke lokasi tugas atau sambil menunggu pembangunan pangkalan permanen selesai.
Baca juga : Dubes Jess Dutton Pamit Ke Menhan Sebelum Pulang Kampung
Sjafrie kemudian meninjau langsung kawasan kesatrian dan memberikan pengarahan kepada para prajurit. Ia menekankan posisi strategis Yonif TP 881/Baratama Dharma sebagai satuan yang ditempatkan secara permanen di garis depan perbatasan darat negara.
“Kalian harus siap menghadapi tantangan dan ancaman. Kalian adalah batalyon yang ada di perbatasan. Tentara Nasional Indonesia harus siap menghadapi ancaman di manapun untuk mengamankan dan mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia!” tegas Sjafrie.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.