RM.id Rakyat Merdeka - Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah makin menyengsarakan rakyat. Kabut asap pekat dampak karhutla bikin kualitas udara memburuk hingga level berbahaya, penerbangan terganggu, dan warga terancam penyakit pernapasan. Masyarakat pun diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah demi menjaga kesehatan.
Di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, kebakaran lahan di Desa Madara, Kecamatan Dusun Selatan, memicu kabut asap pekat hingga membuat langit di sekitar lokasi tampak menguning. Api bahkan meluas mendekati tepi jalan raya.
Petugas gabungan yang terdiri dari personel Polres Barito Selatan, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), dan Masyarakat Peduli Api telah melakukan pemadaman sejak Kamis (8/10/2026).
Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala karena kondisi lahan yang kering dan bergambut. Meski api di sejumlah titik berhasil dikendalikan, petugas masih harus melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara tersisa di dalam tanah. Bara api di lahan gambut dapat memicu kebakaran kembali meskipun kobaran di permukaan telah padam.
Dampak karhutla terlihat dari memburuknya kualitas udara. Berdasarkan data BPBD Barito Selatan, konsentrasi PM10 pada Jumat (9/10/2026) pukul 07.00 WIB mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, konsentrasi PM2.5 mencapai 659 mikrogram per meter kubik. BPBD setempat menyebut kondisi tersebut berada pada level berbahaya.
Ancaman serupa terjadi di Sumatera Selatan. Data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (Sipongi Kemenhut) mencatat 3.762 titik panas (hotspot) pada 6 Oktober 2026. Jumlah itu menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini, melampaui rekor sebelumnya sebanyak 3.059 titik pada 1 Oktober 2026.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 2.197 titik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.786 titik berada di lahan gambut dan 411 titik di lahan mineral.
Baca juga : Korban PHK Tembus 63 Ribu Orang, Ciptakan Lapangan Pekerjaan Secepatnya
Musi Banyuasin menyusul dengan 860 titik panas, Banyuasin 294 titik, dan Muara Enim 190 titik. Tingginya jumlah titik panas, terutama di kawasan gambut, menjadi perhatian karena kebakaran di wilayah tersebut lebih sulit ditangani dan berpotensi menimbulkan asap berkepanjangan.
Kabut asap juga menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, hingga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Sejumlah pesawat dilaporkan gagal mendarat akibat terbatasnya jarak pandang. Asap yang menyelimuti Pekanbaru disebut berasal dari kebakaran di sejumlah wilayah lain di Pulau Sumatera.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kualitas udara di daerah itu terindikasi memburuk akibat kabut asap dari karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Maros berencana mengeluarkan surat edaran terkait penggunaan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat polusi udara.
“Kita sudah mengimbau masyarakat yang berada di luar rumah untuk menggunakan masker karena kualitas udara sedang memburuk,” kata Bupati Maros AS Chaidir Syam kepada wartawan, Minggu (11/10/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros Yunus juga meminta kelompok rentan mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, warga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan polusi udara.
“Dampak yang perlu diwaspadai di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga pneumonia,” ujar Yunus.
Baca juga : Kasus Motor Listrik MBG, Kejagung Ungkap Nilai Kerugian Rp 863,8 Miliar
Paparan asap karhutla memang bukan sekadar persoalan jarak pandang. Partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan asap berisiko memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, serta memperburuk kondisi penderita asma.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Selain mengancam kesehatan, kabut asap dapat mengganggu perjalanan darat dan penerbangan. Asap berkepanjangan juga berpotensi menghambat kegiatan belajar, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Di tengah ancaman karhutla, kebakaran juga melanda permukiman warga di Dusun Serdang, Desa Jelutung 2, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.
BPBD setempat mencatat sekitar 500 rumah terdampak kebakaran pada Sabtu (10/10/2026) malam. Jumlah warga yang terdampak diperkirakan mencapai 2.000 jiwa.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Agus Afandi mengatakan, penyebab kebakaran belum diketahui. Namun, api diduga berasal dari lahan di dekat permukiman yang kemudian merambat ke rumah-rumah warga.
Sementara itu, Kementerian Kehutanan mencatat 437 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia pada Jumat (9/10/2026). Data tersebut berasal dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlahnya meningkat 50 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 387 titik.
Baca juga : Lucius Karus: Tidak Ada Korelasinya Dengan Tingkat Kinerja
Dari total tersebut, sebanyak 270 titik panas tercatat di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Riau. Namun, dalam pemantauan tersebut, tidak ditemukan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Riau.
Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG, hujan diperkirakan mulai turun paling cepat pada minggu ketiga Oktober dan paling lambat pada minggu ketiga November.
“Selama sebulan ke depan, BNPB beserta seluruh jajaran terkait akan terus bekerja keras melakukan dukungan pemadaman, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca,” ujar Suharyanto dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
BNPB juga melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi asap yang mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Operasi dilakukan dengan menyemai bahan tertentu untuk membantu pembentukan hujan di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.
Terpisah, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan, dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan untuk menjelaskan langkah-langkah pemerintah Indonesia dalam menangani karhutla. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.