BREAKING NEWS
 

Setelah Prasmanan, SPPG Dipantau CCTV

MBG Terus Diperbaiki

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : SISWANTO
Rabu, 21 Oktober 2026 07:35 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (kanan) bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat Rapat Koordinasi Terbatas Menteri Koordinator Bidang Pangan di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Senin (19/10/2026). (Foto: Dok. BGN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Gizi Nasional (BGN) terus membenahi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah menguji coba sistem penyajian prasmanan di sekolah, kini BGN memperkuat pengawasan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan mengintegrasikan kamera pengawas atau CCTV yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh proses pengolahan hingga penyajian makanan berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Meski CCTV telah tersedia di seluruh dapur, selama ini penggunaannya masih terbatas untuk pemantauan internal.

“Ada sekitar 70-an dapur yang kita piloting untuk CCTV-nya kita tarik ke pusat, kita kasih artificial intelligence (AI) sehingga kita bisa memonitor standar operasional prosedur (SOP),” kata Sudaryono seusai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Melalui sistem tersebut, BGN dapat memantau berbagai tahapan operasional dapur, mulai dari persiapan bahan makanan, proses memasak, hingga pencucian wadah makanan atau ompreng. Kebersihan dapur dan kedisiplinan petugas dalam mengolah makanan juga menjadi sasaran pengawasan.

Mas Dar—sapaannya—menegaskan, pengawasan ini tidak hanya menyasar relawan atau petugas pengolah makanan, tetapi juga kepala dapur dan mitra yayasan pengelola SPPG. “Dengan adanya CCTV, kemudian kita bisa benahi semua, ketaatan dari SOP, dari mulai relawannya, kepala dapurnya, kemudian mitra yayasannya,” ujarnya.

Baca juga : Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Tetapkan 2 TSK Baru

Untuk menekan biaya, BGN akan mengutamakan pemanfaatan CCTV yang sudah terpasang di setiap dapur. Integrasi sistem pemantauan ini diharapkan tidak membutuhkan pengadaan perangkat baru dalam jumlah besar.

“Kami berusaha bagaimana mengkoneksikan saja CCTV yang sudah ada di setiap dapur itu. Insyaallah tidak akan ada pengadaan yang bombastis,” tuturnya.

BGN juga membuka peluang agar rekaman atau tayangan CCTV dapat diakses pihak-pihak yang berkepentingan, seperti kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa. Namun, akses tersebut akan dibatasi dengan mempertimbangkan keamanan fasilitas dan privasi operasional dapur.

Adsense

“Nah dalam rangka keterbukaan, dan kita terbuka untuk publik, kami juga ingin kalau nanti sudah bisa, CCTV bisa connect, bisa AI (Artificial Intelligence) dan lain sebagainya, itu mungkin dilihat dalam bentuk video,” tegas politisi Gerindra ini.

Dia memastikan, keterbukaan informasi tetap harus memperhatikan aspek keamanan. Karena itu, akses pemantauan nantinya tidak akan diberikan secara bebas kepada semua orang.

Baca juga : Fahri Bachmid: Jumlahnya Tak Dibatasi, Sesuai Kebutuhan Presiden

“Makanya kami berharap akses bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu, misalnya kepala sekolah, misalnya guru, atau orang tua siswa, sehingga dia tahu bahwa yang akses itu siapa,” jelasnya.

Pembenahan pengawasan dapur ini berjalan beriringan dengan evaluasi BGN terhadap metode penyajian makanan MBG. Salah satunya melalui uji coba sistem prasmanan di sekolah.

Hingga Senin (19/10/2026), sistem tersebut telah diuji coba di 66 SPPG yang tersebar di 10 provinsi. Jumlah itu meningkat dibandingkan 62 SPPG yang tercatat menerapkan metode serupa pada 14 Oktober 2026.

Pemerintah menargetkan penerapan sistem prasmanan dapat diperluas hingga 1.000 sampai 5.000 SPPG pada akhir tahun ini.

Sudaryono menyebut, hasil uji coba selama sepekan menunjukkan tingkat konsumsi makanan yang lebih baik.

Baca juga : Muhamad Riziq Maulana: Sembilan Anggota, Saya Rasa Cukup

Makanan juga dapat disajikan lebih segar dan hangat karena jeda antara proses memasak dan waktu makan bisa dipersingkat. “Antusiasme siswanya juga lebih senang karena selain porsi yang dia dapat, kalau masih ada sisa masih bisa nambah,” katanya.

Dengan sistem prasmanan, siswa bisa mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menambah porsi jika masih lapar. Model ini diharapkan dapat mengurangi makanan tersisa sekaligus membuat penerima manfaat lebih nyaman saat menyantap hidangan.

Meski demikian, BGN masih mengkaji kebutuhan biaya dan tenaga kerja sebelum memperluas penerapan sistem tersebut. Evaluasi dilakukan untuk menghitung potensi efisiensi maupun kemungkinan tambahan biaya operasional dibandingkan dengan metode penyajian yang selama ini digunakan. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense