RM.id Rakyat Merdeka - Udara di Kalimantan yang selama berbulan-bulan tercemar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali bersih. Kabar gembira ini muncul setelah beberapa hari ini, Kalimantan diguyur hujan.
Sejak Minggu (25/10/2026), hujan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), hingga Kalimantan Barat (Kalbar). Di Kalteng, hujan mengguyur Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Utara, dan Pulang Pisau, sedangkan di Kalbar hujan turun di Desa Air Hitam Besar, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang.
Turunnya hujan disambut gembira masyarakat dan petugas gabungan yang selama ini berjibaku memadamkan karhutla. Warga berharap hujan dapat menghilangkan asap kebakaran lahan sehingga udara kembali bersih.
“Sangat bersyukur dengan turunnya hujan, asap kebakaran lahan bisa hilang dan bisa menghirup udara segar kembali,” kata Elem, warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (28/10/2026).
Turunnya hujan di sejumlah wilayah tersebut juga didukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Operasi ini ditujukan untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah yang terdampak karhutla.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Penerbang Hilman LP Ambarita mengatakan, OMC yang dilaksanakan pihaknya berhasil memicu hujan deras di sejumlah wilayah Kalsel dan Kalteng pada Minggu (25/10/2026) dan Senin (26/10/2026). “Turunnya hujan adalah jawaban atas ikhtiar dan sinergi kita bersama di lapangan,” ujar Hilman, Rabu (28/10/2026).
Dalam operasi tersebut, sejumlah pesawat TNI AU dikerahkan dari Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, pada Minggu (25/10/2026). Pesawat digunakan untuk menyemai bahan tertentu ke awan guna mendukung pembentukan hujan.
Dua pesawat NC-212 melakukan empat kali penerbangan untuk menyemai dry ice di wilayah tenggara Palangka Raya. Sementara itu, satu pesawat NC-212 lainnya menyemai natrium klorida (NaCl) di wilayah selatan Palangka Raya.
Baca juga : DPR: Utamakan Keselamatan, Jangan Paksakan Perjalanan
Penyemaian awan juga dilakukan menggunakan pesawat CN-295 dan C-130. Operasi tersebut menjangkau Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, hingga Kotawaringin Timur pada ketinggian 10.000–12.000 kaki.
Hilman memastikan, Lanud Sjamsudin Noor akan terus menyiagakan pesawat dan fasilitas pendukung untuk membantu penanganan karhutla. Upaya tersebut akan dilanjutkan melalui OMC selama masih dibutuhkan untuk mendukung pemulihan kondisi wilayah terdampak.
“TNI AU melalui Lanud Sjamsudin Noor tidak akan berhenti mengawal misi OMC ini sampai seluruh ruang udara Kalimantan benar-benar bersih dan bebas dari asap,” tegasnya.
Peluang turunnya hujan di Kalimantan diperkirakan masih terbuka dalam beberapa hari ke depan.
Forecaster BMKG, Lintang menyebut, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi hingga dua hari ke depan. “Potensi hujan sedang di Pontianak, hujan ringan di Tanjung Sawar dan Palangka Raya, terdapat potensi udara kabur di Samarinda dan juga Banjarmasin,” ujar Lintang, dikutip dari unggahan Instagram BMKG, Rabu (28/10/2026).
Meski hujan membantu penanganan karhutla, Lintang mengingatkan, cuaca kering masih mendominasi sejumlah wilayah. Masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat terjadi secara lokal, sekaligus mengantisipasi risiko kekeringan dan kebakaran.
Seiring turunnya hujan, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan mulai menunjukkan perbaikan. Berdasarkan data BMKG periode 27–28 Oktober 2026, Tanjung Harapan dan Kotabaru mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 yang lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lainnya.
“Kualitas udara sangat bagus dan tidak memberikan risiko bagi kesehatan,” tulis BMKG, dikutip Rabu (28/10/2026).
Baca juga : Hujan Mulai Turun, Penanganan Karhutla Sumatera Fokus di Sumsel
Konsentrasi PM2.5 rata-rata di Tanjung Harapan tercatat sebesar 26 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, di Kotabaru, Kalimantan Selatan, konsentrasinya mencapai 27,4 mikrogram per meter kubik.
Kondisi yang relatif lebih baik juga terlihat di Mempawah dan Kubu Raya. Konsentrasi PM2.5 rata-rata di kedua wilayah tersebut masing-masing mencapai 37,2 dan 46,2 mikrogram per meter kubik.
Prakiraan BMKG untuk periode 29–30 Oktober 2026 juga menunjukkan konsentrasi polutan yang relatif rendah di sejumlah wilayah. Tanjung Selor, Kalimantan Utara, diprakirakan mencatat rata-rata konsentrasi polutan terendah di antara lima wilayah yang dipantau, yakni 5 mikrogram per meter kubik.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, konsentrasi polutan rata-rata diprakirakan mencapai 12,7 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, Samarinda, Kalimantan Timur, mencatat prakiraan rata-rata 14,4 mikrogram per meter kubik.
Namun, kondisi berbeda diprakirakan terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Konsentrasi polutan di ibu kota provinsi tersebut diprakirakan mencapai rata-rata 500,5 mikrogram per meter kubik, dengan angka maksimum 914 mikrogram per meter kubik. Adapun Banjarmasin, Kalimantan Selatan, diprakirakan mencatat rata-rata 86,2 mikrogram per meter kubik.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kualitas udara belum merata di seluruh wilayah Kalimantan. Karena itu, penanganan karhutla tetap perlu dilanjutkan meskipun hujan mulai turun dan konsentrasi polutan di sejumlah daerah menunjukkan angka yang lebih rendah.
Penanganan Karhutla Berlanjut
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Selasa (27/10/2026), sebanyak 1.566 hektare lahan di Kalimantan masih dalam penanganan akibat karhutla. Luas tersebut terdiri atas 1.140 hektare di Kalimantan Tengah, 391 hektare di Kalimantan Barat, dan 35 hektare di Kalimantan Selatan.
Baca juga : Prabowo Minta BRIN Percepat Riset Pencegahan Karhutla hingga Vaksin
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, penanganan terus diintensifkan melalui pengerahan personel, peralatan pemadaman, dan operasi modifikasi cuaca. “Laporan penanganan karhutla di Pulau Kalimantan pada Selasa, luas lahan yang masih dalam penanganan mencapai sekitar 1.566 hektare,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Untuk mempercepat penanganan, sebanyak 51.057 personel satuan tugas darat telah dikerahkan ke empat provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Dari jumlah tersebut, 16.387 personel bertugas di Kalimantan Tengah, 14.458 di Kalimantan Barat, dan 7.927 di Kalimantan Selatan.
Selain personel, penanganan di lapangan didukung pompa pemadam, selang, alat pelindung diri, masker, drone, dan alat berat. Berbagai kementerian dan lembaga juga menyalurkan peralatan sesuai kebutuhan daerah.
“Di Kalimantan Selatan, BNPB mengerahkan 37 pompa jinjing dan 36 unit self-contained breathing apparatus (SCBA). Kementerian Pertahanan mendukung dengan 49 pompa Honda dan 140 dus selang, sedangkan Kementerian Pertanian menyediakan 30 pompa,” tutur dia.
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan inovasi untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla. Salah satunya adalah bahan pemadam berbasis pati singkong yang dikembangkan untuk membantu proses pemadaman api.
Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan, uji coba lapangan bahan tersebut telah dikoordinasikan bersama TNI AU. “Singkong yang merupakan produk lokal saat ini kita campur ya dengan APP tersebut dan kemudian bisa kita manfaatkan untuk mematikan api,” ujar Arif, Rabu (28/10/2026).
Selain bahan pemadam berbasis singkong, BRIN menyiapkan teknologi CoSAT 1000 yang memanfaatkan partikel higroskopis untuk penyemaian awan. BRIN juga mengembangkan penggunaan es kering atau dry ice untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.