RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) memperluas akses pendampingan dan konseling kesehatan mental bagi remaja, termasuk kelompok marjinal, penyandang disabilitas, hingga anak jalanan. Langkah ini dilakukan agar kelompok yang selama ini belum terjangkau layanan secara optimal memiliki ruang aman untuk menyampaikan persoalan dan memperoleh pendampingan.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji mengatakan, pendampingan tidak boleh hanya menyasar kelompok formal atau lingkungan sekolah. Melalui program Generasi Berencana (Genre), kementeriannya melibatkan komunitas dan kelompok masyarakat yang membutuhkan akses konseling.
"Kita turun langsung tidak hanya di kelompok-kelompok formal. Makanya kami mengundang teman-teman disabilitas," kata Wihaji dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Kantor Kemendukbangga, Halim, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta komunitas Genre turut dilibatkan dalam kegiatan pendampingan kelompok marjinal. Di Depok, misalnya, anggota Genre telah berinteraksi dengan anak-anak jalanan untuk memberikan ruang bercerita dan pendampingan.
Wihaji mencontohkan, dirinya pernah mendatangi langsung kelompok penyandang disabilitas untuk mendengarkan persoalan yang mereka hadapi. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah peserta bersedia bercerita, mulai dari persoalan kehidupan sehari-hari hingga pengalaman dimarahi guru karena terlalu sering menggunakan telepon genggam.
Menurut Wihaji, pengalaman tersebut menunjukkan kelompok penyandang disabilitas juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan pribadi tanpa takut dihakimi. Ia menilai keterbukaan untuk bercerita menjadi salah satu pintu awal dalam membangun kesadaran dan menjaga kesehatan mental.
Baca juga : Wihaji Integrasikan 3 Program Pembinaan Remaja
"Kita bahkan turun langsung ke kelompok penyandang disabilitas. Saya tanya mereka apa ada masalah dengan mental mereka," ujarnya.
Wihaji mengingatkan persoalan kesehatan mental remaja membutuhkan perhatian serius karena jumlahnya masih besar. Ia menyebut sekitar 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental dan pemerintah perlu memastikan mereka memiliki akses untuk mencari bantuan.
"Karenanya kami ingatkan pemerintah punya akses untuk mereka bercerita," kata politikus Partai Golkar tersebut.
Angka tersebut merujuk pada hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 yang melibatkan remaja usia 10-17 tahun. Survei nasional itu mencatat sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, sementara 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental.
Untuk memperluas jangkauan pendampingan, Kemendukbangga mengembangkan sejumlah program, antara lain PIK-R, Halo Remaja, Genre, dan Bina Keluarga Remaja. Program tersebut diarahkan untuk memberikan informasi, edukasi, konsultasi, serta pendampingan kepada remaja melalui lingkungan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
PIK-R dikembangkan di sekolah maupun kelompok masyarakat sebagai wadah bagi remaja memperoleh informasi dan konseling. Sementara itu, Halo Remaja menyediakan layanan konsultasi melalui sejumlah saluran komunikasi, termasuk media komunikasi, telepon, dan teknologi virtual reality (VR) atau realitas virtual.
Baca juga : Konsolidasi Menuju Pemilu 2029, Golkar Gelar Rakornis Pemenangan di Bandung
"Ini bagian dari kehadiran negara memberikan akses kepada kelompok remaja," ujar Wihaji.
Kemendukbangga juga memperkuat keberadaan pendidik sebaya dan konselor sebaya untuk membantu remaja mengenali persoalan yang dialami teman seusianya. Mereka mendapatkan pelatihan agar mampu memberikan edukasi, mendengarkan keluhan, serta menjadi penghubung awal bagi remaja yang membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Wihaji menegaskan konselor sebaya bukan pengganti psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental. Peran mereka adalah memberikan pendampingan awal dan membantu mengidentifikasi persoalan sebelum mengarahkan remaja kepada layanan yang lebih tepat apabila diperlukan.
"Konselor sebaya ini bukan psikolog karena rata-rata umurnya sebaya, tapi mereka kami latih menjadi pendidik sebaya," jelas mantan Bupati Batang tersebut.
Di lingkungan keluarga, Wihaji turut menyoroti persoalan komunikasi antara anak dan orang tua yang belum berjalan terbuka. Ia menemukan sebagian remaja enggan menceritakan masalahnya kepada keluarga karena khawatir justru disalahkan ketika menyampaikan keluhan.
"Ada fakta memang seorang anak ini enggan bercerita kepada orang tua karena setiap kali cerita justru disalahkan," ungkapnya.
Baca juga : Komisi IX DPR dan Kemendukbangga Bahas Program 2027
Karena itu, ia meminta orang tua membangun komunikasi yang lebih terbuka dan mengedepankan sikap mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Menurutnya, lingkungan keluarga perlu menjadi tempat yang aman bagi anak untuk menyampaikan perasaan maupun persoalan yang dihadapi.
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian Wihaji, terutama kebiasaan sebagian remaja mencurahkan perasaan melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia tidak mempersoalkan penggunaan teknologi tersebut, tetapi mengingatkan bahwa AI tetap merupakan mesin yang tidak memiliki hati dan perasaan seperti manusia.
"AI itu robot, dia tidak punya hati. Apakah salah? Tidak salah," kata Wihaji.
Ia berharap remaja tetap mengutamakan komunikasi langsung dengan teman, keluarga, dan orang-orang yang dapat memberikan dukungan emosional. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana, tetapi tidak seharusnya menggantikan hubungan antarmanusia.
Di akhir kegiatan, Wihaji mengajak remaja tidak malu mengungkapkan persoalan yang sedang dihadapi, termasuk ketika harus menangis. Ia menilai keberanian bercerita merupakan bagian dari upaya menjaga kekuatan mental, bukan tanda kelemahan seseorang.
"Jangan malu bercerita. Cerita bukan berarti cengeng. Menangis bukan berarti cengeng," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.