RM.id Rakyat Merdeka - Konsorsium perusahaan dan lembaga nirlaba Deep Knowledge Group menempatkan Indonesia di posisi ke 97 dari 100 negara teraman dari ancaman Covid-19. Laporan tersebut menguntungkan Singapura dan Vietnam di sektor pariwisata. Tapi buntung bagi kita.
Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Syahrizal Syarif menilai, indikator studi tersebut banyak dipengaruhi tingkat kemakmuran suatu negara. Dan juga, kebijakan pemerintah dalam mengurangi tekanan disrupsi sosial dan ekonomi.
“Rangking negara wajar umumnya ditempati negara high income country (negara berpendapatan tinggi), kecuali Vietnam,” kata Syahrizal.
Laporan tersebut, kata Syahrizal, menguntungkan Singapura dan Vietnam. Untuk menarik minat turis ke negara mereka. Sementara bagi Indonesia merugikan dalam upaya mempercepat kembalinya kunjungan wisata ke Bali, Lombok, Yogyakarta, dan destinasi wisata lainnya.
Meski di urutan bawah, Syahrizal mengatakan informasi terpenting adalah apakah wabah Covid-19 di negara tersebut sudah menurun dan terkendali atau tidak. “Info sederhana ini jauh lebih berarti untuk turis, travel, dan trade (perdagangan),” ucapnya.
Menurut Syahrizal, pendekatan yang digunakan Deep Knowledge bisa ditiru pemerintah dalam menentukan peringkat kota paling aman di Indonesia. “Bappenas atau Kemenristek punya kemampuan dan sumber daya untuk melakukan ini.”
Laporan lembaga itu mengacu pada 130 parameter kuantitatif dan kualitatif. Dan lebih dari 11.400 data dalam kategori. Seperti efisiensi karantina, pemantauan dan deteksi, kesiapan sistem kesehatan, serta efisiensi pemerintah.
Baca juga : Wabah Corona Di India Seperti Bom Waktu Yang Siap Meledak
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mempertanyakan dan menilai penelitian itu tidak tepat.
Menurutnya, sangat tidak objektif bila Indonesia dibandingkan dengan negara-negara yang ada pada daftar tersebut. Swiss, Jerman, sambungnya, bisa mendapatkan peringkat teratas jika dilihat dari ketahanan ekonominya.
Dia meminta perbandingan PDB dua negara itu dengan Indonesia harus sesuai. Katanya, bila kemampuan ekonomi dikaitkan dengan kemampuan negara mengendalikan Covid-19, maka juga harus dikaitkan dengan jumlah penduduk. “Jadi, dipertimbangkan selu- ruhnya,” kata Wiku, dikutip VOA.
Katanya, pihak lain boleh memakai rumus, tapi harus membuka rumusnya. Dia pun mempertanyakan kebijakan yang dilakukan tiap negara. Untuk Swiss dan Jerman, terdapat perbedaan dengan Indonesia. Kedua negara memberlakukan karantina alias lockdown. Sementara Indonesia tidak.
“Dampaknya? Coba mereka pakai rumus apa? Saya hampir berani jamin cara mereka nggak terbuka dan nggak benar,” ujarnya.
Wiku mengklaim, penanganan Covid-19 di Tanah Air sejauh ini sudah tepat. Dan sesuai dengan karakteristik Indonesia. Menurutnya, kebijakan Indonesia berbeda dengan negara lain. Yang dilakukan di Indonesia, dari sisi data, menurutnya sudah yang terbaik. Demikian pula navigasi, dan pengambilan keputusan saat ini.
“Ini negara besar dengan kemampuan ekonomi tidak sama dengan mereka. Lihat our number of cases, jadi nggak benar,” jelasnya.
Baca juga : Swiss dan Jerman Mantap, Indonesia Peringkat 97
Sedangkan DPR menilai laporan itu harus disikapi secara serius oleh pemerintah. Menurut Anggota Komisi IX DPR Saleh Partohonan Daulay, daftar nomor urut negara aman dari Co- vid-19 perlu dipertimbangkan. Sebab, penilaiannya menggunakan parameter kuantitatif dan kualitatif.
“Indonesia pada nomor urut ke-97 dari 100. Itu artinya, Indonesia berada pada nomor urut tiga terakhir. Kalah jauh dari negara-negara tetangga,” kata Saleh.
Dengan nomor urut seperti itu, lanjutnya, bisa dikatakan ada banyak kekurangan yang dimiliki Indonesia dalam menangani Covid-19. Itu bisa mengkhawatirkan. Kata Saleh, tanpa upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan pelayanan, diperkirakan akan banyak per- soalan yang akan muncul kemudian.
Menurutnya, penyusunan nomor urut itu bisa dijadikan sebagai referensi untuk dikaji secara serius. Sebab, laporan tersebut dibuat Deep Knowledge Group. Sebuah konsorsium perusahaan dan organisasi nirlaba.
“Sebagai konsorsium nirlaba, orientasinya tidak tidak politis dan pragmatis sehingga, evaluasinya bisa objektif dan bebas nilai. ,” terangnya. “Kalau yang melakukan lembaga pemerintah, hasilnya bisa jadi subjektif. Semua bisa saja dianggap baik,” jelasnya.
Dalam laporan yang dirilis Deep Knowledge Group pada 5 Juni 2020, Swiss dan Jerman berada di posisi teratas dari 100 negara teraman dari Covid-19. Keduanya disebut paling aman karena penelitian ini menempatkan berdasarkan kondisi ketang- guhan ekonomi.
Posisi paling berbahaya ditempati Sudan. Sedangkan Amerika Serikat berada di peringkat 58. Tepat di belakang Rumania, dan dua tingkat di atas Rusia. Sementara China di posisi ketujuh.
Baca juga : Nekat Mudik, Sanksinya Urus Pasien Covid Di RS
Negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia, berada jauh di atas Indonesia. Singapura peringkat empat, Vietnam 20, dan Malaysia 30. Sedangkan Thailand 47.
Yang menarik, ada perubahan signifikan dalam peringkat keamanan selama bulan-bulan pandemi. Awalnya, negara yang bereaksi dengan cepat terhadap krisis dan memiliki tingkat kesiapsiagaan darurat yang tinggi menempati peringkat teratas. Saat ini negara dengan ekonomi tangguh berada di peringkat yang lebih tinggi.
Dalam pernyataannya dikutip Forbes.com, lembaga itu menyebut, Swiss dan Jerman mencapai posisi satu dan dua karena ketahanan ekonomi mereka. Mereka juga berhati-hati untuk melonggarkan kegiatan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. “Tanpa mengorbankan kesehatan dan keselamatan masyarakat,” tulis laporan itu.
Deep Knowledge Group adalah lembaga yang dimiliki Deep Knowledge Ventures. Perusahaan investasi yang berdiri pada 2014 di Hong Kong. [PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.