BREAKING NEWS
 

Beri Kuliah Umum di Lemhannas

Bamsoet Ingatkan Pentingnya Indonesia Miliki Angkatan Siber

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 30 Juli 2024 17:34 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR sekaligus Dewan Pengawas Yayasan Pembela Tanah Air Pusat (YAPETA) Bambang Soesatyo (Bamsoet) menekankan kembali pentingnya Indonesia membentuk matra ke-3 TNI dengan menghadirkan Angkatan Siber (AS). Angkatan ini akan memperkuat tiga matra yang sudah ada, yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU).

Hal ini disampaikan Bamsoet saat memberikanKuliah Umum Program Pendidikan Reguler (PPRA) Angkatan 66 dan 67 Tahun 2024 Lemhannas, di Auditorium Lemhannas RI, Jakarta, Selasa (30/7/2024). Hadir antara lain Ketua Umum YAPETA Tinton Soeprapto, Dewan Pengawas YAPETA sekaligus KSAD ke-25 Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo, Deputi Pendidikan Lemhannas Marsekal Muda TNI Andi Heru, dan Direktur Operasional Lemhannas Brigjen TNI Jainudin.

Bamsoet menerangkan, posisi Geopolitik Indonesia sangat rawan. Indonesia berhadapan langsung dengan trisula negara persemakmuran Inggris yaitu Malaysia, Singapura, dan Australia, yang tergabung dalam five power defence arrangement (FFDA) bersama Selandia Baru dan Britania Raya. Indonesia juga berada dalam arena pertarungan geopolitik Rusia, China, dan Amerika.

Baca juga : Makan Bergizi Prabowo Bisa Tingkatkan Konsumsi Protein Anak Indonesia

"Terlebih dunia sudah memasuki era internet of military things/internet of battle-field things, ketika operasi militer semakin dapat dikendalikan dari jarak sangat jauh dengan lebih cepat, tepat, dan akurat. Angkatan Siber akan meningkatkan fungsi perangkat militer menjadi lebih efektif dan optimal, sebagaimana terlihat dalam perang Rusia-Ukraina maupun perang Palestina- Israel," ujar Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.

Adsense

Bamsoet menjelaskan, internet of military things juga menunjukan bahwa dunia semakin larut menghadapi perang generasi V (G-V) Siber dengan center of gravity pada data dan informasi. Menghadapi G-V, Singapura, Jerman, dan Tiongkok merupakan contoh negara yang telah membentuk angkatan siber sebagai matra tersendiri. Pasukan Siber Tiongkok diprediksi yang terbesar di dunia, mencapai 145 ribu personil.

Jika tidak segera diantisipasi, kata Bamsoet, dampak yang dihasilkan dari perang G-V bisa lebih dahsyat dibandingkan empat perang lainnya. Dengan kekuatan siber yang dikendalikan dari jauh, sebuah negara bisa melumpuhkan objek vital negara lainnya seperti pembangkit listrik, cadangan minyak, hingga operasional Alutsista Militer.

Baca juga : Menko PMK Banggakan Keberhasilan Indonesia Entaskan Kemiskinan Ekstrem

“Melalui serangan siber, sebuah negara bisa membuat jaringan telekomunikasi dan internet di negara lain mati total, digital perbankan kacau, radar militer maupun penerbangan sipil tidak bisa digunakan," jelas Bamsoet.

Menurut Alumni Lemhannas KSA XIII 2005 ini bahkan lebih mengerikan, alat tempur seperti pesawat dan kapal selam di remote dari luar negeri untuk melakukan serangan seperti melempar bom tanpa bisa dikendalikan oleh kita. Hal seperti itu bisa saja terjadi. Saat ini saja, jika kita melaporkan kehilangan handphone, dari kantor pusat bisa langsung di-destruct sehingga si pencuri tidak bisa menggunakan. 

"Karena itu, ke depan saat membeli alat tempur atau sarana prasarana critical infrastructure dari luar negeri, beberapa codingnya harus diganti angkatan siber. Sehingga pabrikan asalnya tidak lagi punya kendali penuh. Hal ini untuk meminimalisir anasir jahat dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense