BREAKING NEWS
 

20 Persen Anak Tumbuh dalam Fatherless, DPR Ingatkan Dampak Buruknya

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 28 Agustus 2025 16:22 WIB
Anggota Komisi IX DPR Achmad Ru’yat (Foto: Dok. DPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IX DPR Achmad Ru’yat prihatin atas meningkatnya fenomena ketidakhadiran fisik ayah (fatherless) di Indonesia. Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar isu sosial. Kondisi ini berdampak langsung pada tumbuh kembang anak, termasuk tingginya angka stunting di Tanah Air.

Laporan UNICEF tahun 2021 menyebutkan, 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah. Penyebabnya beragam, mulai dari perceraian, kematian, migrasi kerja, hingga budaya yang menempatkan ayah semata sebagai pencari nafkah.

“Fenomena fatherless bukan hanya soal ketidakhadiran fisik ayah, tetapi juga menyangkut minimnya keterlibatan dalam pengasuhan anak. Hal ini jelas berpengaruh pada kesehatan mental, tumbuh kembang, bahkan gizi anak,” ujar Ru’yat, seperti dimuat di lamam dpr.go.id, Kamis (28/8/2025).

Baca juga : Pekan Ini Masuk dalam DPO, Raja Minyak MRC Bakal Jadi Buronan Kejagung

Peran emosional dan psikologis seorang ayah juga sering diabaikan. Banyak anak tumbuh dengan figur ayah yang hanya hadir secara fisik, tetapi absen dalam pengasuhan dan komunikasi emosional.

Adsense

Menurut Ru’yat, kondisi fatherless memiliki efek domino yang berbahaya. Di antaranya adalah anak akan lebih rentan mengalami gangguan mental dan emosi. Tidak hanya itu, anak juga kesulitan membangun identitas diri dan kontrol perilaku bahkan menimbulkan masalah sosial.

Fatherless juga berpengaruh terhadap tingkat stunting, karena kurangnya perhatian dan peran aktif ayah dalam memastikan gizi dan pola asuh anak.

Baca juga : Dana-Refi Usung Visi Solidaritas Dan Dampak Kolektif

“Anak yang tidak mendapatkan peran utuh dari ayahnya bisa kehilangan arah, mudah terpengaruh hal negatif, bahkan mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Inilah yang membuat masalah stunting semakin kompleks,” terang Ru’yat.

Untuk menekan fenomena fatherless sekaligus mengurangi stunting, Ru’yat mendorong langkah strategis dari Pemerintah, DPR, dan masyarakat. Ia menyodorkan sejumlah solusi antara lain, penguatan edukasi keluarga yang menekankan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan, bukan hanya ibu.

Ru’yat juga mendorong kebijakan cuti ayah harus diperluas agar para ayah bisa hadir pada masa-masa awal kelahiran anak. “Program nasional percepatan penurunan stunting harus mengintegrasikan peran ayah, terutama dalam pemenuhan gizi, pola asuh, dan perhatian emosional anak,” ujarnya.

Baca juga : Kepala Daerah Diingatkan Tidak Main-main Isu Iklim

Ia pun mendorong Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menghasilkan kebijakan konkret untuk memperkuat kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense