Dark/Light Mode

Presiden AS Donald Trump: Tarif Impor China Akan Turun Signifikan

Rabu, 23 April 2025 13:53 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto: Instagram @whitehouse)
Presiden AS Donald Trump (Foto: Instagram @whitehouse)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan perubahan haluan dalam perang dagang dengan China, di tengah berlanjutnya volatilitas pasar. Trump mengatakan, tarif tinggi atas barang-barang China akan turun secara substansial, tapi tak serta merta menjadi nol.

Untuk diketahui, tarif akhir untuk China yang ditetapkan Trump pada 16 April 2025 telah mencapai 245 persen. Naik 100 persen dari angka 145 persen pada 11 April 2025.

"145 persen sangat tinggi, dan tidak akan setinggi itu,” kata Trump dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di Ruang Oval, seperti dilansir CNN International.

“Tidak akan mendekati angka itu. Besaran tarif akan turun secara substansial. Tapi, tidak akan nol," imbuhnya.

Komentar ini disampaikan Trump, menanggapi pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam konferensi pers investasi yang digelar JP Morgan Chase.

Dalam kesempatan itu, Bessent mengatakan, tarif tinggi antara AS dan China telah secara efektif meng-embargo perdagangan kedua negara.

Baca juga : Presiden AS Donald Trump Dan Istri Akan Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus

Sumber CNN International menyebut, Bessent meyakini perang dagang dengan China tidak akan berkelanjutan. Pertempuran sepertinya akan mereda dalam waktu dekat.

Alih-alih pemutusan hubungan yang keras antara AS dan China, Bessent mengatakan kepada para investor, kebijakan tarif ditujukan untuk menyeimbangkan kembali perdagangan.

Pernyataan ini sukses mendorong ketiga indeks saham utama AS mencapai level tertinggi pada hari itu.

Saham Asia juga dilaporkan naik pada Rabu (23/4/2025), dengan Indeks Hang Seng Hong Kong memimpin kenaikan regional. Indeks ini terakhir diperdagangkan 2,5 persen lebih tinggi, sementara Nikkei 225 Jepang naik sekitar 2 persen dan Kospi Korea Selatan naik 1,5 persen.

Perubahan nada bicara Trump tidak luput dari perhatian publik China. Pada Rabu (24/4/2025), tagar "Trump takut" masuk trending topic di platform media sosial China: Weibo, dan telah ditonton lebih dari 110 juta kali.

Dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu sudah jotos-jotosan tarif secara sengit. Tingginya tensi hubungan AS-China kontan mengguncang pasar global, mengganggu rantai pasokan, dan memicu ketakutan munculnya resesi.

Baca juga : Perang Tarif Sama Trump, China Pedekate Ke ASEAN

Sejauh ini, China telah bersikap menantang dan menolak untuk mundur. China bahkan membalas dengan menaikkan tarif atas barang-barang AS menjadi 125 persen. Serta menambahkan lebih banyak perusahaan Amerika pada daftar kendali ekspor dan daftar entitas yang tidak dapat diandalkan, di samping membatasi ekspor mineral penting yang digunakan dalam segala hal, mulai dari iPhone hingga sistem rudal.

Beijing juga bergerak untuk memberikan tekanan pada industri-industri utama AS, dengan membatasi jumlah film Hollywood yang ditayangkan di negara tersebut. Sedikitnya dua jet Boeing yang rencananya akan digunakan oleh maskapai penerbangan China ke AS, bahkan telah dikembalikan.

Selama ini, Trump menganggap dirinya memiliki “hubungan yang sangat baik” dengan Xi Jinping. Dia pede Xi akan menghubunginya. 

Namun, alih-alih menelepon Trump untuk menegosiasikan tarif, Xi malah meluncurkan serangan diplomatik dengan mitra dagang lain, untuk melawan upaya AS menggunakan perang tarif dalam upaya mengisolasi China secara ekonomi.

Selasa (22/4/2025), Trump kembali mengungkapkan harapannya agar Xi datang ke meja perundingan. Trump berjanji akan bersikap sangat baik.

Ketika ditanya apakah AS akan bersikap keras terhadap China untuk mencapai kesepakatan, Trump dengan cepat menjawab: Tidak.

Baca juga : Jalani Tes Kesehatan 5 Jam, Donald Trump Klaim Sehat Jiwa Dan Raga

"Tidak, tidak, kami akan bersikap sangat baik. Mereka akan bersikap sangat baik, dan kita lihat apa yang terjadi,” tutur Trump.

"Pada akhirnya, mereka harus mencapai kesepakatan. Jika tidak, mereka tidak akan dapat bertransaksi di Amerika Serikat, dan kami ingin mereka terlibat," papar Trump.

China sebetulnya sudah membuka diri untuk perundingan atas dasar kesetaraan. Pembicaraan harus didasarkan pada "rasa hormat," serta "konsistensi dan timbal balik" yang lebih besar dari pemerintahan Trump.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.