BREAKING NEWS
 

Digempur Impor Dari China, Tata Niaga Baja Harus Segera Diselamatkan

Reporter & Editor :
RIKY HANDAYANI
Selasa, 30 September 2025 20:38 WIB
Politisi PDI Perjuangan, Evita Nursanty. (Foto: PDIP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tata kelola baja nasional yang saat ini sedang digempur impor baja dari China harus segera diselamatkan. Karena baja adalah sektor strategis bagi kedaulatan ekonomi, sehingga harus dilindungi.

Pandangan itu disampaikan politisi PDI Perjuangan, Evita Nursanty di Jakarta, Selasa (30/9/2025).

"Baja adalah tulang punggung industrialisasi. Jika industri baja runtuh, kedaulatan ekonomi ikut tergerus. Oleh sebab itu, repositioning tata niaga baja bukan pilihan, tapi keharusan untuk menyelamatkan industri strategis nasional,” ujar  Evita.

Baca juga : Masih Ada Kepulan Asap, Damkar Jakbar Siagakan 3 Truk Pemadam Di Tamansari

Evita yang merupakan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi PDI Perjuangan ini merinci, menata ulang tata niaga impor baja itu, meliputi kebijakan safeguard dan tarif atau memberlakukan tarif tambahan untuk baja impor yang melonjak tajam, kebijakan wajib menyerap baja lokal, hingga pengetatan standar terhadap baja impor yang diwajibkan memenuhi standar teknis tertentu untuk menekan dumping baja murah berkualitas rendah.

Adsense

Hal ini demi memastikan penggunaan baja lokal dalam proyek strategis nasional demi menjaga daya saing, lapangan kerja, dan kemandirian industri dalam negeri.

Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) mencatat, impor baja dari China melonjak signifikan dalam satu tahun terakhir. Pada semester I-2024, impor baja China meningkat 34 persen menjadi 2,98 juta ton dari sebelumnya 2,23 juta ton.

Baca juga : Jadi Ketua Harian Pusat, Ahmad Ali: PSI Harus Menang Besar Di Pemilu 2029

Membengkaknya impor ini membuat utilisasi kapasitas produksi domestik anjlok hingga di bawah 40 persen, angka terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini membuat industri baja dalam negeri di titik nadir karena kini menghadapi tekanan berat dari sisi daya saing, utilisasi pabrik, dan ketergantungan terhadap impor.  Apalagi dampak dari tarif impor baru dari Presiden Donald Trump terhadap produk baja akan memicu lonjakan ekspor baja China ke kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

”Ini akan menjadi ancaman bagi industri baja domestik apalagi kita punya proteksi yang relatif lemah. Industri baja mempunyai peran strategis sebagai backbone pembangunan dan industrialisasi. Apalagi pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional 6-8 persen,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense