BREAKING NEWS
 

Defisit APBN 2025 Melebar, Eric Hermawan Ingatkan Tekanan Fiskal

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Selasa, 17 Maret 2026 22:01 WIB
Foto: Fraksi Golkar DPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar, Eric Hermawan, menilai realisasi APBN 2025 yang menunjukkan pelebaran defisit mencerminkan adanya tekanan struktural dalam fiskal nasional.

Ia mengungkapkan, pendapatan negara hanya mencapai Rp 2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target Rp 3.005,1 triliun, sementara belanja negara tetap tinggi sebesar Rp 3.451,4 triliun.

Kondisi ini mendorong defisit melebar menjadi Rp 695,1 triliun atau sekitar 2,92 persen terhadap PDB, mendekati batas maksimal 3 persen sesuai ketentuan undang-undang.

Eric, politisi Golkar dari daerah pemilihan Jawa Timur XI, menjelaskan bahwa shortfall pendapatan, khususnya dari sektor perpajakan, menjadi faktor dominan ketidakseimbangan fiskal.

Baca juga : Kepercayaan Investor Terjaga, SBN Kompetitif

Realisasi penerimaan perpajakan tercatat Rp 2.217,9 triliun atau 89,0 persen dari target, dengan kekurangan sekitar Rp 273 triliun.

Menurutnya, pelemahan ini menggerus fungsi pajak sebagai tulang punggung pembiayaan negara dan meningkatkan ketergantungan pada utang.

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 534,1 triliun atau 104 persen dari target, namun surplus tersebut dinilai belum mampu menutup kesenjangan pada sektor pajak.

Adsense

Di sisi belanja, Eric menyoroti adanya ketidakseimbangan alokasi anggaran. Belanja Kementerian/Lembaga tercatat mencapai Rp 1.500,4 triliun atau 129,3 persen dari target, sedangkan belanja non-K/L yang mencakup subsidi dan perlindungan sosial hanya terealisasi 71,5 persen atau Rp 1.102,0 triliun.

Baca juga : Elkan Baggott Kembali, John Herdman Panggil 41 Pemain Timnas

Ia menilai, kondisi ini tidak hanya mencerminkan lemahnya disiplin fiskal, tetapi juga berpotensi menurunkan efektivitas belanja dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Lebih lanjut, Eric mengingatkan bahwa memburuknya keseimbangan primer dari target surplus Rp 63,3 triliun menjadi defisit Rp 180,7 triliun merupakan indikator meningkatnya tekanan fiskal.

Hal ini menunjukkan bahwa pembiayaan utang tidak sepenuhnya digunakan untuk belanja produktif, tetapi juga untuk menutup kewajiban fiskal.

Di sisi lain, pembiayaan anggaran meningkat menjadi Rp 744,0 triliun atau 120,8 persen dari target, yang berimplikasi pada meningkatnya risiko utang dan biaya pembiayaan di masa depan.

Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Rawamangun Gencarkan Layanan Digital

Untuk itu, Eric menekankan pentingnya konsolidasi fiskal yang kredibel pada 2026. Ia mencatat pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 3.153,6 triliun, dengan peningkatan penerimaan perpajakan menjadi Rp 2.693,7 triliun, serta menurunkan defisit ke level 2,68 persen PDB.

Selain itu, rencana penyesuaian melalui pemangkasan Transfer ke Daerah dari Rp 919,9 triliun menjadi Rp 693,0 triliun dinilai sebagai langkah strategis, namun perlu diantisipasi dampak sosialnya.

Menurutnya, arah kebijakan fiskal ke depan harus menjaga keseimbangan antara disiplin anggaran, stabilitas makroekonomi, dan perlindungan terhadap masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense