BREAKING NEWS
 

Lestari Moerdijat Dorong Mitigasi Potensi Krisis Energi, Lindungi Masyarakat

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Rabu, 1 April 2026 21:45 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. (Foto: Instagram @lestarimoerdijat)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mitigasi potensi krisis energi yang tepat di tengah memburuknya kondisi ekonomi global sangat penting untuk dilakukan, sebagai bagian upaya melindungi setiap warga negara.

"Upaya melindungi masyarakat dari ancaman dampak krisis energi global, harus ditingkatkan dengan kebijakan yang tepat," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam sambutan tertulisnya pada diskusi daring bertema Tantangan Darurat Energi Global Pascakonflik AS-Israel dan Iran yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (1/4/2026).

Diskusi yang dimoderatori Arimbi Heroepoetri (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Sugeng Suparwoto (Wakil Ketua Komisi XII DPR RI), Harris (Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI / EBTKE ESDM) dan Fabby Tumiwa (CEO Institute for Essential Service Reform /IESR) sebagai narasumber. Hadir pula Yayan Satyakti (Pakar Energi dari Universitas Padjajaran /Unpad) sebagai penanggap.

Lestari menekankan bahwa kebijakan yang realistis berdasarkan mitigasi yang tepat diperlukan untuk meminimalisir kekhawatiran masyarakat, terkait potensi dampak krisis energi yang terjadi.

Dalam jangka panjang, Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, mendorong pemerintah untuk mempercepat program diversifikasi energi.

Menurutnya, ketergantungan pada energi fosil membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global.

Baca juga : Waspada Potensi Krisis Energi

"Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan impor energi. Diversifikasi energi adalah keniscayaan untuk mencapai kemandirian energi nasional," ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan, sampai hari ini negara-negara Timur Tengah masih mendominasi produksi migas dunia, sekitar 800 miliar barel. Sehingga, tambah Sugeng, Timur Tengah disebut sebagai jantungnya minyak dan gas dunia.

Menurut Sugeng, perlu adanya peningkatan eksplorasi sumber-sumber minyak baru untuk memperkuat cadangan nasional migas dalam mengantisipasi dinamika politik dan ekonomi global.

Selain itu, Sugeng juga mengusulkan adanya petroleum fund (dana migas) agar Indonesia memiliki kemampuan untuk mengantisipasi gejolak harga migas dunia.

Adsense

Dalam jangka panjang, kata Sugeng, jangan lupa mengembangkan potensi energi baru dan terbarukan yang kita miliki.

Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE ESDM Harris mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi gejolak harga migas dunia.

Baca juga : Antisipasi Krisis Energi, Para Menteri Mulai Lakukan Penghematan

Sejumlah langkah tersebut, ujar Harris, antara lain berupa langkah efisiensi dalam bentuk penerapan work form home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai swasta, efisiensi kendaraan dinas, perjalanan dinas, dan peralihan motor bensin ke motor listrik.

Selain langkah efisiensi, kata  Harris, juga dikedepankan upaya percepatan transisi energi ke arah pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Pada 2025, kata Harris, penyediaan energi nasional 15,75 persen-nya sudah memakai EBT. Pada tahun ini, tambah dia, target pemanfaatan EBT adalah 16-20 persen energi nasional.

Dengan berbagai upaya tersebut, jelas Harris, secara bertahap konsumsi bahan bakar fosil dapat dikurangi.

CEO IESR Fabby Tumiwa berpendapat, yang terjadi saat ini adalah krisis energi fosil dunia.

Fabby menilai, Indonesia saat ini mampu menangani gangguan pasokan migas jangka pendek dampak gejolak di Timur Tengah.

Baca juga : Lestari Moerdijat: Mari Bergerak Bersama Ciptakan Ruang Digital Aman untuk Anak

Pakar Energi dari Unpad Yayan Satyakti berpendapat membangun buffer stock BBM yang didukung dengan peningkatan kapasitas sumber pasokan BBM dari dalam negeri penting untuk diwujudkan.

Langkah ini, ujar Yayan, sangat baik untuk mendapatkan harga yang lebih efisien ketika terjadi gangguan pasokan BBM global.

Wartawan Senior Usman Kansong berpendapat, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran berdampak pada potensi krisis energi berbahan dasar fosil yang berujung pada lahirnya langkah penghematan BBM.

Penghematan konsumsi energi fosil ini, menurut Usman, sejatinya sudah dilakukan pemerintah sebelum terjadinya perang di Timur Tengah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense