RM.id Rakyat Merdeka - Dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik bersenjata, perang dagang, serangan siber, hingga perebutan pengaruh antarnegara terus memanas. Semua pihak merasa mampu menyerang. Namun, belum tentu ada yang benar-benar keluar sebagai pemenang.
Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengingatkan, negara-negara tidak bisa terus memakai cara berpikir lama yang hanya mengenal menang dan kalah.
Menurutnya, dunia perlu beralih dari paradigma kemenangan menuju paradigma koeksistensi atau hidup berdampingan di tengah perbedaan kepentingan.
“Kekuatan tetap penting. Tetapi, dalam dunia yang saling terhubung, kemenangan semakin sulit didefinisikan,” ujar Azis dalam keterangannya, Minggu (26/7/2026).
Azis menjelaskan, perang modern tidak lagi hanya berdampak pada negara atau kelompok yang bertikai. Konflik di satu kawasan bisa membuat harga energi melonjak, mengganggu jalur perdagangan, merusak rantai pasok, dan menekan ekonomi negara-negara yang lokasinya jauh dari medan perang.
Baca juga : Gerindra Serius Perjuangkan Subsidi Transportasi Wilayah 3T
Rakyat yang tidak tahu-menahu soal konflik pun bisa ikut terkena imbasnya melalui kenaikan harga pangan, bahan bakar, biaya produksi, dan kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang, kemenangan militer bisa berubah menjadi kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis juga bisa melahirkan kerugian strategis yang jauh lebih besar,” tegas pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia itu.
Teknologi, lanjut Azis, membuat kemampuan saling menyerang semakin besar. Drone berbiaya murah dapat merusak fasilitas strategis bernilai miliaran dolar. Serangan siber juga dapat melumpuhkan pelayanan publik, perbankan, hingga sistem keuangan tanpa satu peluru pun ditembakkan.
Karena itu, kata dia, kemampuan menyerang tidak selalu diikuti kemampuan mengendalikan dampak serangan. “Semua pihak mungkin bisa saling melukai. Tetapi, semakin sedikit pihak yang benar-benar bisa menang secara mutlak,” katanya.
Azis menegaskan, koeksistensi bukan berarti negara harus menyerahkan kepentingannya atau berhenti bersaing. Setiap negara tetap berhak menjaga kedaulatan, keamanan, dan kepentingan nasionalnya. Namun, persaingan tersebut harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama.
Baca juga : Kapolri Serap Aspirasi Pecalang & Ojol, Perkuat Kemitraan Jaga Bali Tetap Aman
“Koeksistensi bukan berarti semua pihak harus saling menyukai. Ini adalah kesadaran bahwa keberlanjutan jauh lebih penting daripada kemenangan sesaat,” jelasnya.
Pandangan tersebut dinilai relevan dengan ketegangan geopolitik yang berlangsung di berbagai kawasan. Konflik Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Ketegangan di Timur Tengah juga terus memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi dan perdagangan dunia.
Dalam situasi seperti itu, Azis menilai Indonesia perlu konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Indonesia, menurutnya, tidak boleh mudah terseret dalam pertarungan blok kekuatan besar.
Sebaliknya, Indonesia harus aktif mendorong dialog, memperkuat kerja sama internasional, serta melindungi kepentingan ekonomi nasional dari dampak konflik global.
“Indonesia harus tetap berdiri di atas kepentingan nasional. Tidak menjadi alat negara mana pun, tetapi aktif mendorong perdamaian dan kerja sama yang saling menguntungkan,” ucapnya.
Baca juga : Menhut Evaluasi Standar Kebutuhan Personel dan Peralatan Manggala Agni
Azis menambahkan, paradigma koeksistensi juga dibutuhkan untuk menghadapi persoalan lintas negara seperti perubahan iklim, pandemi, keamanan siber, dan perkembangan kecerdasan buatan. Persoalan tersebut tidak mungkin diselesaikan satu negara sendirian, sekuat apa pun kemampuan ekonomi dan militernya.
“Pertanyaan dunia hari ini bukan lagi hanya siapa yang paling kuat. Pertanyaannya, apakah manusia cukup bijaksana untuk hidup bersama tanpa saling menghancurkan,” pungkas Azis.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.