BREAKING NEWS
 

Lestari Moerdijat Usulkan Pembentukan Aliansi Perempuan Bosphorus

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : FAQIH MUBAROK
Sabtu, 7 November 2026 07:33 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ketika menjadi pembicara kunci sesi Woman Leading New Economy: Redefining Influence at The Top pada Bosphorus Summit, di Istanbul, Turki, Kamis (5/11/2026) sore. Foto: MPR RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengusulkan pembentukan Aliansi Perempuan Bosphorus atau Bosphorus Women's Alliance.

Lestari menyampaikan usulan itu ketika menjadi pembicara kunci sesi Woman Leading New Economy: Redefining Influence at The Top pada Bosphorus Summit, di Istanbul, Turki, Kamis (5/11/2026) sore.

Bosphorus Summit ialah konferensi tahunan yang diselenggarakan International Cooperation Platform di kawasan Selat Bosphorus.

"Saya mengundang para pemimpin perempuan dunia dari berbagai negara berkumpul di konferensi ini untuk membentuk Alliansi Perempuan Bosphorus untuk berbagi kebijakan yang sukses dilaksanakan, membimbing generasi muda di berbagai negara, dan bertemu di sini setiap tahun," tutur Rerie, sapaan akrab Lestari.

Baca juga : Pacu Ekonomi Akhir Tahun

Rerie melanjutkan, Aliansi Perempuan Bosphorus kelak bisa mengembangkan kerja sama dengan forum-forum perempuan serupa seperti W20 (Women 20) dari G20.

"Marilah kita kenang Bosphorus Summit tidak hanya apa yang kita diskusikan tetapi juga karena aliansi perempuan yang kita gagas," ajak Rerie.

Selain Aliansi Perempuan Bosphorus, Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu juga mengajukan dua gagasan lain. Pertama, pembukaan akses kepada modal dan pasar digital sehingga perempuan penguasaha bisa bertahan dan bertumbuh.

Adsense

Kedua, kebijakan berbagi tugas antara laki-laki dan perempuan, misalnya dalam menjaga dan mendidik anak dan pekerjaan yang fleksibel bagi perempuan.

Baca juga : BPDP Perkuat Hilirisasi Sawit, UMKM Desa Dibina Hasilkan Produk Bernilai Tambah

Rerie juga mengajukan redefinisi sejumlah konsep terkait peran perempuan. Pertama, redefinisi dari posisi menuju dampak, yakni bagaimana perempuan dengan posisinya masing-masing bisa melakukan perubahan.

Kedua, dari sebagai tangga menjadi sebagai jembatan, yakni bagaimana perempuan tidak hanya menaiki tangga untuk mengejar posisi, tetapi juga membangun jembatan untuk membantu perempuan dan orang lain "menyeberang”.

Maksudnya, perempuan tidak bisa hanya mengurus diri sendiri tetapi harus memerdulikan dan memberdayakan perempuan lain.

Ketiga, dari kemurahan hati (charity) menjadi strategi. Pemberdayaan ekonomi perempuan tidak boleh lagi dipandang sebagai kemurahan hati, tetapi sebagai strategi ekonomi.

Baca juga : UMKM Keripik Tempe Naik Kelas Go Internasional

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengajukan berbagai gagasan tersebut karena perempuan di berbagai belahan dunia masih mengalami diskriminasi.

Padahal, perempuan menjalani berbagai fungsi (multitasking). Perempuan bekerja di sektor energi, jurnalisme, bisnis, dan ilmu pengetahuan.

Perempuan bahkan berperan besar di saat krisis, misalnya ketika pandemi Covid-19. Rerie mengambil contoh di Indonesia, perempuan menjalankan 65,4 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Akan tetapi, hanya 56,6 persen perempuan berpartisipasi dalam lapangan kerja, sementara itu laki-laki 84,4 persen.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense