BREAKING NEWS
 

Gelar Wayang Kulit di HUT ke-61 Golkar, Bahlil: Budaya adalah Pengikat Persatuan

Reporter : HENDRAWAN KOSIM WIJAYA
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Sabtu, 15 November 2025 01:58 WIB
Foto: Golkar.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit bukan hiburan semata, lebih dari itu, wayang juga sarat dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan filosofi kehidupan.

Hal tersebut diutarakan Bahlil saat membuka pagelaran budaya wayang kulit dengan lakon “Semar Mbangun Kahyangan dalam memperingati HUT Ke-61 Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jumat (14/11/2025).

“Wayang memiliki kehalusan seni yang luar biasa. Saya yang berasal dari Papua awalnya tidak memahami wayang secara kaffah, tetapi setelah mempelajari dan melihat langsung prosesnya, apalagi istri saya orang Jawa, saya baru benar-benar mengerti bahwa wayang tidak hanya seni gerak. Ada seni pahat, seni suara, seni tutur, dan seni olah mengolah,” ujarnya.

Bahlil yang juga menjabat Menteri Emergi Sumber Daya Mineral (ESDM) ini turut menuturkan bahwa wayang telah diakui dunia sebagai karya budaya adiluhung bangsa Indonesia.

Baca juga : Rayakan HUT Ke-61, Golkar Merakyat

Menurutnya, seni wayang mengajarkan keluhuran budi, ketelitian, dan keseimbangan yang menjadi dasar kuat pembentukan karakter masyarakat.

Bahlil lantas menceritakan bahwa Partai Golkar memiliki sejarah panjang dengan dunia pedalangan. Wayang, menurutnya, pernah menjadi salah satu media komunikasi politik dan sosial yang sangat kuat di era pemerintahan Presiden Soeharto.

Adsense

“Di masa keemasan Golkar selama 32 tahun di bawah kepemimpinan Pak Harto, wayang menjadi instrumen komunikasi strategis antara pemerintah, partai, dan masyarakat. Banyak program pembangunan, seperti program KB, disosialisasikan melalui pertunjukan wayang karena lebih mudah diterima rakyat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi positif itulah yang kini ingin dihidupkan kembali. Menurut Bahlil, perjalanan panjang Partai Golkar sebagai salah satu pilar politik bangsa tidak dapat dilepaskan dari kedekatannya dengan budaya rakyat.

Baca juga : Tasyakuran HUT ke-61, Bamsoet: Golkar Komit Kawal Pemerintahan Prabowo-Gibran

Sejak awal berdirinya, Partai Golkar tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat di berbagai daerah; dari sabang sampai merauke, dari kampung-kampung kecil hingga kota besar.

Budaya lokal, termasuk seni pertunjukan seperti wayang kulit, menjadi medium yang mempertemukan nilai-nilai partai dengan aspirasi masyarakat.

“Kita tidak sekadar mengulang sejarah. Kita ingin merawat warisan baik dari para senior, melanjutkannya, dan mewariskannya kepada generasi baru Partai Golkar. Budaya adalah pengikat persatuan, dan Golkar ingin tetap berada di tengah-tengah masyarakat melalui pendekatan yang berakar pada kearifan lokal,” tegas Bahlil.

Lebih jauh, Bahlil menjelaskan bahwa lakon “Semar Mbangun Kahyangan” dipilih bukan tanpa alasan. Lakon tersebut menggambarkan peran tokoh Semar dalam membangun kembali tatanan kahyangan melalui kebijaksanaan, kesederhanaan, dan keteguhan moral.

Baca juga : Lamhot Sinaga: HUT ke-61 Golkar Solidkan Dukungan untuk Prabowo-Gibran

“Lakon ini mengajarkan bahwa untuk membangun sebuah tatanan yang baik, diperlukan kearifan, kesabaran, dan keberanian moral. Nilai-nilai seperti inilah yang harus menjadi pegangan kita, khususnya di tengah kondisi sekarang,” ungkapnya.

Acara yang dihadiri oleh sejumlah elite DPP Partai Golkar. Inipun menghadirkan dalang kondang Ki Cahyo Kuntadi, didampingi sinden Niken Salindri dan seniman populer seperti Cak Percil, Proborini dan Cak Slentem, yang membuat suasana acara semakin meriah menghibur ribuan masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense