RM.id Rakyat Merdeka - Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid mengusulkan Partai Golkar agar melakukan pembenahan strategi untuk mendongkrak elektabilitas di Pemilu mendatang.
Usulan itu disampaikan Syakur menyusul temuan lembaga survei yang menempatkan elektabilitas Golkar di posisi ketiga setelah Gerindra dan PDI Perjuangan.
Berdasarkan rilis Parameter Politik Indonesia pada Agustus hingga September 2026, Gerindra memperoleh elektabilitas 18,3 persen. Disusul PDIP 14 persen dan Golkar 13 persen. Begitu juga hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempatkan Golkar dengan elektabilitas 10,4 persen.
Menurut Syakur, Golkar memiliki modal organisasi dan pengalaman politik yang besar. Namun, partai berlambang pohon beringin itu perlu melakukan transformasi.
Baca juga : Golkar: MBG Terbukti Nyata Dongkrak Ekonomi Rakyat
"Golkar harus mampu mentransformasikan gaya komunikasinya agar tetap relevan bagi pemilih milenial dan Gen Z yang mendominasi demografi pemilih saat ini," kata Syakur, dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).
Dia menilai Golkar perlu keluar dari anggapan sebagai partai senior. Golkar perlu menghadirkan inovasi, program yang relevan bagi generasi muda, serta kepemimpinan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menurut Syakur, Golkar sejatinya memiliki infrastruktur organisasi kepemudaan yang cukup lengkap. Di antaranya AMPG, AMPI, SOKSI, MKGR, dan Kosgoro.
Akan tetapi, kekuatan tersebut perlu dioptimalkan untuk memperluas daya tarik partai. Terutama di kalangan pemilih muda dan pemilih yang belum memiliki pilihan politik tetap.
Baca juga : Sarifah Suraidah: Gerakkan Ekonomi Rakyat, Prioritaskan Revitalisasi Pasar
"Untuk tetap kompetitif di era digital, transformasi citra dan reposisi peran kader muda sangatlah krusial," sebutnya.
Syakur juga mendorong Golkar memberikan ruang yang lebih strategis kepada kader-kader muda potensial di daerah. Kader muda, diakuinya, perlu tampil sebagai representasi wajah modern Golkar. Bukan hanya menjadi pelengkap di tengah dominasi politisi senior.
Selain persoalan regenerasi, Syakur menilai soliditas internal juga menjadi faktor penting yang perlu dijaga. Sebagai partai besar dengan sejarah panjang, Golkar harus mampu mengelola dinamika internal agar tidak menguras energi organisasi.
"Kader-kader Golkar yang duduk di kabinet seharusnya mampu menunjukkan performa di atas rata-rata dengan menghadirkan terobosan kebijakan yang menjadi rujukan nasional. Sehingga, arah pemerintahan secara de facto diwarnai oleh ide-ide Golkar," tuturnya.
Baca juga : Arief Rosyid di Usia 40: Politik Islam Harus Beralih dari Identitas ke Karya
Syakur menambahkan, Golkar saat ini menghadapi lanskap politik yang semakin kompleks. Setelah transisi kepemimpinan kepada Bahlil Lahadalia, Golkar dinilai perlu menyiapkan strategi jangka panjang untuk menjaga posisi sebagai salah satu kekuatan politik utama nasional.
Dia menilai Golkar memiliki posisi tawar dan modal politik yang besar untuk memberikan pengaruh lebih kuat terhadap arah kebijakan nasional.
Dengan basis kader yang kuat di parlemen dan pemerintahan, Golkar diharapkan tidak hanya mengikuti agenda politik yang telah ada, tetapi juga aktif menawarkan gagasan dan kebijakan.
"Partai Golkar harus menjadi motor penggerak utama yang mewarnai kebijakan pemerintahan, bukan sekadar menjadi pengikut atau follower yang mengekor agenda pihak lain," pungkas Syakur.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.