RM.id Rakyat Merdeka - Loyalis Anies Baswedan, Geisz Chalifah mengatakan, pendukung Anies tidak mau mendukung duet Ridwan Kamil dan Suswono karena mereka menjadi bagian dari operasi penjegalan Anies maju di Pilgub Jakarta 2024.
"Anies kan digagalkan dan kami marah tapi kami gak bisa ngapa-ngapain. Ya sudah kami diam. Sekarang kondisinya begini, kami mendukung Mas Pram dan Bang Doel. Kalau nggak terima dengan sikap dan pilihan kami ya silakan aja mereka (penjegal Anies) ngobrol sama tembok aja. Tidak usah kami layani," kata Geisz Chalifah kepada wartawan di Jakarta, kemarin.
Menurut Geisz, sikap yang diambil pendukung Anies memberikan pelajaran bagi pihak-pihak yang merusak demokrasi. Juga terhadap mereka yang melakukan berbagai macam cara dan menjadi bagian dari operasi langsung maupun tidak langsung menjegal Anies maju Pilkada Jakarta.
"Dia (Ridwan Kamil) tidak akan maju di Jakarta kalau ada Anies Baswedan maju. Hal itu terungkap dalam pembicaraan di media secara langsung waktu wawancara di Inews TV. Juga pembicaraan di belakang layar dari teman-teman saya di partai politik mengatakan kalau Mas Anies maju maka RK nggak berani di Jakarta," kata Geisz.
Baca juga : Kipasan Siap Dukung Ridwan Kamil-Suswono Menangkan Pilgub DKI
Bahkan, kata Geisz, ketika Anies menyatakan bersedia maju Pilkada Jakarta dan mulai kencang untuk dicalonkan kembali oleh parpol, saat itu Golkar mengembalikan Ridwan Kamil ke Jawa Barat (Jabar).
"Hal itu sudah jelas. Jadi bila pada akhirnya RK maju di Jakarta maka secara langsung dia menjadi bagian dari bagian dari skenario penjegalan Anies," klaim Geisz.
Menurut Geisz yang selama ini mengenal karakter Anies, kalau saja Anies diposisikan seperti Ridwan Kamil, maka dipastikan Anies akan menolak. Bukan justru mengambil itu untuk keuntungan pribadinya. Sebab, kata Geisz, Anies itu konsen terhadap demokrasi.
"Kalau Anies adalah orang berburu jabatan maka dia akan terima tawaran maju jadi Cagub di Jawa Barat (Jabar) tapi faktanya dia tolak kok. Meskipun pada saat itu sudah kencang sekali permintaan dari PDIP tapi karena tidak ada panggilan dari rakyat Jabar, maka Anies tidak bersedia," pungkas Geisz Chalifah.
Baca juga : Rehat Sejenak, Sebelum Maung Bandung Lakoni Jadwal Padat
Sementara itu, Ridwan Kamil menyatakan tidak mempermasalahkan dukungan yang diberikan Anies kepada Pramono Anung-Rano Karno.
"Ya nggak masalah. Saya jawab berkali-kali kan. Namanya dukungan, silakan saja. Itu hak demokrasi," ujar Ridwan Kamil di Balai Kartini, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2024).
Ridwan menilai, Pilkada Jakarta kali ini menjadi ajang rekonsiliasi politik antara pihak-pihak yang sebelumnya berbeda pandangan, terutama sejak Pilpres 2024 lalu.
"Pilkada Jakarta itu rekonsiliatif, betul? Pak Anies dengan PDI Perjuangan dulu berseberangan, dengan Pak Ahok, sekarang bersatu. Dulu Pilpres kita berpisah, PKS-nya bersatu malah jadi wakil, kan," katanya.
Baca juga : CNN Exit Poll: Sebagian Pendukung Trump Tak Percaya Pilpres AS Bakal Jurdil
Baginya, ini mencerminkan keindahan demokrasi di Indonesia. Apalagi, Pilkada kali ini terasa lebih tenang dibanding Pilkada lima tahun lalu.
"Kita berlomba-lomba menawarkam program yang relevan. Siapa yang terbaik dan disukai itu yang Insyaallah jadi pemenang," tuturnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.