RM.id Rakyat Merdeka - Langkah sang juara bertahan, Argentina, untuk mengamankan tiket di fase krusial Piala Dunia 2026 terus dibayangi oleh sorotan tajam terkait kinerja pengadil lapangan. Di tengah derasnya arus kritik dari tim lawan mengenai keputusan teknologi video asisten wasit (VAR), bek tangguh Argentina, Lisandro Martinez, mengambil sikap konfrontatif yang tidak biasa.
Pemain belakang berusia 28 tahun tersebut secara terbuka membela korps baju hitam sekaligus melayangkan kecaman keras kepada awak media yang dinilainya sengaja memproduksi polemik demi kepentingan pemberitaan.
Ketegangan ini mencuat setelah Argentina melewati dua laga penuh drama yang diwarnai protes keras dari kubu lawan terkait kepemimpinan wasit. Setelah sebelumnya Mesir melayangkan protes formal pascakemenangan comeback spektakuler Argentina dengan skor 3-2 di babak 16 besar, giliran Swiss yang meradang setelah ditumbangkan 1-3 melalui babak perpanjangan waktu di Stadion Kansas City. Dalam dua laga beruntun tersebut, intervensi VAR selalu menjadi faktor pembeda yang memicu tuduhan adanya bias yang menguntungkan raksasa Amerika Selatan itu.
Baca juga : Dunia Desak China Patuhi Hukum Laut Internasional
“Saya rasa mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik. Itu adalah cerita Anda (media), yang terkadang menimbulkan kontroversi,” kata Martinez dengan nada ketus seperti dikutip dari ABC, kemarin.
Martinez menambahkan bahwa seluruh elemen di dalam tim nasional Argentina sama sekali tidak memedulikan narasi eksternal yang berkembang di luar lapangan hijau. Baginya, fokus utama skuad asuhan Lionel Scaloni hanyalah memberikan kemampuan terbaik di setiap pertandingan dan berupaya mempertahankan gelar juara, alih-alih memikirkan spekulasi mengenai keberpihakan pengadil pertandingan.
Sebelumnya, atmosfer Piala Dunia sempat memanas ketika Asosiasi Sepak Bola Mesir mengecam keras kepemimpinan wasit François Letexier di babak 16 besar.
Baca juga : Bernadya Punya Dua Rumah, Lebih Suka Ngekos
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan secara terang-terangan menuduh FIFA memberikan perlindungan khusus kepada Argentina dan Lionel Messi setelah gol Mostafa Zico pada menit ke-62 dianulir oleh VAR, ditambah dengan penolakan wasit atas klaim penalti Mohamed Salah. Hassan bahkan harus ditarik menjauh oleh stafnya akibat melakukan protes yang sangat agresif di pinggir lapangan.
Gelombang protes dari benua Afrika tersebut sempat memaksa Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, turun tangan guna meredakan situasi. Collina secara resmi membela integritas tim wasit yang bertugas di North America dan menegaskan bahwa seluruh keputusan diambil secara independen berdasarkan aturan yang berlaku, serta menolak keras segala tuduhan adanya bias institusional demi memenangkan tim tertentu.
Di internal tim Argentina sendiri, upaya untuk mengabaikan kebisingan media sebenarnya sudah ditekankan sejak persiapan menghadapi Swiss di Kansas City. Rekan duet Martinez di lini pertahanan, Cristian Romero, menyatakan bahwa sejak awal Albiceleste hanya berfokus pada evaluasi internal untuk memperbaiki kelemahan taktis mereka sendiri, tanpa memedulikan siapa lawan yang dihadapi maupun intrik di luar teknis.
Baca juga : Prabowo Minta Kepala Daerah Awasi MBG
Kendati demikian, jalannya pertandingan melawan Swiss terbukti kembali menghadirkan situasi serupa yang memicu perdebatan baru. Laga yang berlangsung ketat itu awalnya sempat berimbang lewat gol Alexis Mac Allister yang kemudian dibalas oleh pemain Swiss, Dan Ndoye, sebelum akhirnya berubah total ketika wasit Joao Pedro Silva Pinheiro mengeluarkan kartu kuning kedua bagi penyerang Swiss, Breel Embolo, karena dianggap melakukan simulasi atau diving.
“Jelas tidak ada alasan untuk memberikan kartu kuning. Itu situasi yang tidak berbahaya. Seharusnya dia membiarkan permainan berlanjut,” cetus pelatih tim nasional Swiss, Murat Yakin, dalam sesi jumpa pers selepas pertandingan.
Yakin menilai keputusan wasit yang dipandu oleh intervensi VAR tersebut sebagai sebuah aturan yang merusak esensi sepak bola dan menghancurkan cetak biru permainan timnya yang tampil disiplin. Pria asal Swiss itu meratapi kekalahan menyakitkan tersebut, mengingat setelah bermain dengan sepuluh orang, gawang Swiss akhirnya bobol dua kali di babak perpanjangan waktu melalui aksi Julian Alvarez dan Lautaro Martinez yang sekaligus menyegel kemenangan Argentina. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.