RM.id Rakyat Merdeka - Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Norwegia dan Inggris di Stadion Miami, Amerika Serikat, menyisakan memori kelam sekaligus heroik bagi Andreas Schjelderup.
Pemain sayap berusia 22 tahun itu berhasil mencatatkan namanya di papan skor, sebuah pencapaian individu yang luar biasa bagi kariernya. Namun, kegembiraan tersebut harus berakhir dengan linangan air mata setelah Norwegia secara tragis takluk 1-2 lewat babak perpanjangan waktu akibat serangkaian insiden dan keputusan kontroversial.
Penampilan brilian Schjelderup bermula dari keputusan taktis berani pelatih Stale Solbakken yang menurunkannya sebagai pemain mula di sayap kiri, menggantikan posisi Antonio Nusa. Kepercayaan itu dibayar lunas pada menit ke-36 ketika ia memecah kebuntuan lewat sebuah skema penyelesaian akhir yang tajam.
Tembakan kerasnya dari sisi kiri meluncur deras membentur tiang sebelum akhirnya merobek jala gawang yang dikawal kiper utama Inggris, Jordan Pickford.
Baca juga : Popularitasnya Nyungsep, Netanyahu Pede Menang
Gol tersebut memiliki makna emosional yang sangat mendalam karena menjadi momen “pecah telur” bagi Schjelderup di kancah internasional.
Ia akhirnya sukses mencetak gol perdana bagi negaranya setelah melewati masa paceklik panjang dalam 16 penampilan sebelumnya tanpa mencatatkan nama di papan skor. “Sayangnya, perbedaan keputusan wasit sangat tidak menguntungkan kami. Beberapa keputusan wasit tidak adil,” ujar Schjelderup.
Kekecewaan mendalam yang dirasakan pemuda asal klub Benfica itu turut dialami rekan-rekan setim dan jajaran pelatihnya yang merasa perjuangan mereka dirampas sang pengadil lapangan.
Kapten tim Norwegia, Martin Oedegaard, menuturkan bahwa timnya sama sekali tidak mendapat keadilan dari wasit dan tertimpa kesialan bertubi-tubi di momen krusial.
Baca juga : Celine Evangelista, Tepis Gosip Jadi Wanita Simpanan...
Senada dengan hal tersebut, pelatih Solbakken meratapi nasib malang anak asuhnya sembari menegaskan bahwa rentetan insiden di lapangan ini adalah wujud nyata dari sisi paling brutal dalam olahraga tingkat tinggi.
Jika menilik kembali jalannya pertandingan sejak awal, laga sejatinya berlangsung dengan tempo yang cukup lambat dan penuh kehati-hatian dari kedua kesebelasan. Pada lima menit pertama, baik tim nasional Norwegia maupun Inggris bermain sangat disiplin, saling menunggu celah, membaca taktik lawan, dan tidak ingin terburu-buru mengambil risiko yang fatal.
Situasi saling meraba kekuatan ini membuat pertarungan pada menit-menit awal lebih banyak berkutat di sepertiga tengah lapangan.
Kebuntuan taktik dan kehatihatian tersebut terus bertahan hingga laga memasuki menit kesepuluh, dimana belum ada satu pun tembakan ke arah gawang yang berhasil dilepaskan kedua tim. Skuad Tiga Singa yang mencoba mengambil inisiatif penguasaan bola sejak awal terlihat kesulitan menembus rapatnya barisan pertahanan Norwegia. Sebuah upaya serangan kilat Inggris melalui umpan jauh kepada Noni Madueke pun masih gagal dan melenceng jauh dari sasaran.
Baca juga : Kapolri-Jaksa Agung Mesra Di Senayan
Memasuki menit ke-20, gambaran pertandingan belum banyak berubah, hingga akhirnya intensitas perlahan meningkat seiring lahirnya beberapa peluang berbahaya. Inggris sempat mengancam melalui eksekusi tendangan bebas keras Harry Kane pada menit ke-28 yang masih melambung tipis di atas mistar gawang meski telah dijaga pagar betis lima pemain.
Lima menit berselang, giliran Norwegia yang nyaris menghukum kesalahan operan mundur John Stones, beruntung Pickford tampil sangat sigap mengamankan bola dari kejaran Erling Haaland. Puncak dari segala drama dan runtuhnya momentum Norwegia terjadi pada babak kedua ketika Jude Bellingham mencetak gol penyeimbang kedudukan.
Kubu Norwegia meyakini sepenuhnya bahwa sebelum bola jatuh dan berujung pada gol tersebut, tendangan sapuan dari kiper mereka terlebih dahulu mengenai kabel kamera yang melintang di udara. Insiden yang berujung sahnya gol Inggris ini secara drastis mengubah arah pertandingan dan menghancurkan fokus serta mental penggawa Norwegia.
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) bergerak cepat mengeluarkan bantahan resmi dengan merujuk pada data sensor di dalam bola yang tidak mendeteksi adanya benturan kabel di udara. Meski demikian, kontroversi telanjur menjadi noda besar dalam pertandingan, bahkan media cetak Inggris sekelas Mirror menyoroti kemenangan timnya yang menyisakan rasa pahit akibat kerugian di pihak lawan. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.