Dark/Light Mode

FR PTMA Sebut Kebijakan Akreditasi Rugikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Kamis, 3 Oktober 2024 19:02 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (FR PTMA) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana yang bertema ”Strategi Menuju Indonesia Maju dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045” di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta ( UMJ ) di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Rabu hingga Kamis (2-3/10/2024).

Kegiatan bertajuk ”Sumbang Pemikiran Rektor PTMA untuk Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan Rakernas Forum Rektor PTMA” itu dihadiri para Rektor, Ketua, dan Direktur Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah seluruh Indonesia.

Turut hadir pula Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan Menteri ESDM Bahlil Lahaladia.

Ketua Umum Forum Rektor PTMA, Prof Dr Gunawan Budiyanto mengutarakan tujuan kegiatan ini. Pertama, untuk menyampaikan gagasan pemikiran Rektor PTMA, yang membantu memberikan solusi kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara terkait dengan pendidikan, politik, penegakan hukum, kesejahteraan dan pemerataan pembangunan ekonomi.

Kemudian, ketahanan energi, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam secara hijau dan mandiri, serta peran BUMN dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan UMKM.

Kedua, merumuskan program kerja Forum Rektor PTMA periode 2023-2025.

Baca juga : Gelar Raker 2024, UNAS Jalin Kebersamaan & Kelola Perguruan Tinggi Tetap Unggul

"Rekomendasi dan usulan kami berbentuk naskah akademik kepada pemerintahan baru. Kita sumbangankan dari pemikiran akademisi Muhammadiyah kepada presiden terpilih Prabowo Subianto,” ungkap Gunawan kepada wartawan usai penutupan Rakernas.

Pihaknya juga memberikan sejumlah masukan dan pandangan tentang arah demokrasi Indonesia.

"Tetapi lebih detailnya kepada hal hal yang sangat berhubungan dengan pendidikan,” tegas Gunawan yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Dikatakannya, Forum Rektor PTMA diantaranya menyoroti masih banyak kebijakan yang kurang menguntungkan kalangan swasta, terutama dalam bidang pendidikan.

"Kita melihat Pak Prabowo tokoh yang terbuka maka kami Forum Rektor perguruan tinggi Muhammadiyah melihat masih ada sejumlah hal yang harus diperbaiki, terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan," cetusnya.

Dia mencontohkan Permendikbudristek no. 53 tahun 2023 tentang Akreditasi, dalam hal status institusi universitas atau perguruan tinggi, kriteria unggul, sangat baik, dan baik dihilangkan, dan digantikan menjadi terakreditasi dan tidak terakreditasi.

Baca juga : Persija Banggakan Aksi 3 Pemain Persija Di Timnas

Kata dia, bagi swasta, khususnya bagi perguruan tinggi Muhammadiyah, ini merugikan. Sebab, upaya universitas itu untuk menjadi unggul itu luar biasa besarnya, baik dari sudut biaya, tenaga, pikiran dan sebagainya.

Jika disamakan dengan sebuah perguruan tinggi baru, yang dia juga terakreditasi, terakreditasi itu menjadi tidak spesifik.

Artinya, kata dia, upaya dari perguruan tinggi swasta, khususnya perguruan tinggi Muhammadiyah yang sudah puluhan tahun mengelola dengan sungguh sungguh membantu pemerintah, di dalam menyiapkan masa depan Indonesia yang lebih gemilang, menjadi terabaikan.

"Itu yang akan kita berikan masukan kepada presiden terpilih Prabowo Subianto, " papar Gunawan.

Selain itu, FR PTMA menyoroti kalangan swasta yang mengabdi melalui dunia pendidikan dan berperan membantu pemerintah, tetapi dibebani pajak.

“Padahal kami ini institusi yang mandiri, yang dengan sukarela ikut membantu pelaksanaan program pendidikan sebagai konsekuensi amanat konstitusi kepada pemerintah, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka janganlah kami dianggap sebuah perusahaan" tukasnya.

Baca juga : Terapkan SMK3 di Lingkungan Perusahaan, JIEP Raih Penghargaan Tertinggi Bendera Emas

Secara keseluruhan perguruan tinggi swasta institusi yang nirlaba, yang orientasinya bukan bisnis tetapi pendidikan.

Hal Ini merupakan bagian dari konstribusi rasa kecintaan kepada NKRI ini, walaupun harus mencari biaya sendiri.

“Umumnya perguruan tinggi swasta, khususnya perguruan tinggi Muhammadiyah Aisyiyah, karena kami sudah berbuat jauh hari sebelum republik ini ada," jelasnya.

Gunawan melanjutkan, Forum Rektor PTMA berharap kepada presiden terpilih untuk memilih calon pembantu pembantunya sesuai dengan track record dan jam terbang.

“Janganlah sosok pembantu presiden diambil mereka yang tidak tahu tentang budaya, tidak tahu tentang pendidikan. Jadi kami merekomendasikan agar supaya jam terbang itu diperhatikan,” pungkas Gunawan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.