Dark/Light Mode

WAIC 2026 Jadi Panggung Untuk Tandingi AS

Presiden China Tolak AI Didominasi Satu Negara

Sabtu, 18 Juli 2026 06:30 WIB
Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan saat tiba di upacara pembukaan Konferensi AI Dunia di Shanghai, China, pada 17 Juli 2026. Foto: REUTERS/NG HAN GUAN
Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan saat tiba di upacara pembukaan Konferensi AI Dunia di Shanghai, China, pada 17 Juli 2026. Foto: REUTERS/NG HAN GUAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh dikuasai oleh satu negara saja. AI harus dikembangkan melalui kolaborasi global, bukan persaingan yang saling membatasi.

Pernyataan itu disampaikan Presiden China Xi Jinping saat membuka World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China, Jumat (18/7/2026). Konferensi yang berlangsung pada 17–20 Juli itu, diikuti lebih dari 1.100 perusahaan teknologi dan sekitar 1.400 tamu dari berbagai negara.

Pernyataan Xi muncul di tengah persaingan AI yang makin panas antara China dan Amerika Serikat (AS). Uni Eropa juga memberlakukan pembatasan impor teknologi China dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional.

Xi menegaskan, pengembangan AI tidak boleh menjadi pertunjukan solo oleh satu negara. Dia mendorong simfoni dan kerja sama internasional dalam mengembangkan teknologi AI.

“Kita harus bersama-sama menentang perluasan konsep keamanan nasional berlebihan di bidang AI atau menempatkan keamanan satu negara di atas negara lain,” kata Xi, dilansir Channel News Asia (CNA).

Baca juga : Pemprov DKI Perlu Perluas Bansos Pangan Bersubsidi

Saat ini, model AI buatan China mulai mengejar kemampuan AI asal AS. Bahkan, biayanya lebih murah dan semakin banyak digunakan di berbagai negara.

Dalam pidatonya, Xi mengingatkan bahwa perkembangan AI tetap harus diiringi aturan yang jelas agar teknologinya tidak disalahgunakan. Pengembangan AI harus mengutamakan kepentingan manusia.

“Kita harus membangun regulasi, sistem pemantauan teknologi, peringatan dini dan mekanisme tanggap darurat untuk memastikan AI selalu berada di bawah kendali manusia,” ucapnya.

WAIC dihadiri para pemimpin dunia, termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Manet dan PM Thailand Anutin Charnvirakul. Selain diikuti pejabat dan perusahaan teknologi, konferensi ini juga dihadiri peneliti, pejabat Pemerintah dan pelaku industri.

Sekitar 3.000 produk dipamerkan. Mulai dari chip AI performa tinggi, agen AI, hingga ponsel yang mampu menjalankan berbagai aplikasi secara mandiri.

Baca juga : El Toro Jaga Tradisi Pemain Inter Di Final

Menjelang pembukaan konferensi, China juga membentuk World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WICCO), organisasi kerja sama AI yang bermarkas di Shanghai.

Kesepakatan itu ditandatangani Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan perwakilan dari 29 negara. Indonesia, Rusia dan Pakistan termasuk negara yang sepakat memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan AI di WICCO.

Di saat yang sama, industri AI China terus melesat. Startup Moonshot AI meluncurkan model terbaru Kimi K3 yang diklaim mampu bersaing dengan model AI papan atas asal AS. Sementara perusahaan seperti Huawei, MiniMax, hingga sejumlah startup lain turut memamerkan teknologi AI terbaru mereka di ajang tersebut.

Pengamat dari publikasi analisis Hello China Tech, Poe Xhao menilai, konferensi WAIC adalah acara tahunan terpenting untuk memahami arah industri AI China. Meski AS dianggap unggul dalam teknologi AI, Negeri Tirai Bambu selalu jadi pesaing terdekat dan terlengkapnya.

“Amerika Serikat mempertahankan keunggulan yang jelas dalam chip canggih, infrastruktur komputasi terdepan dan pengembangan model yang paling padat modal,” kata Zhao sebagaimana dikutip AFP.

Baca juga : Kirana Larasati, Nyesel Bikin Tato

Pemerintah China mencatat, nilai pasar AI domestik mencapai 1,2 triliun yuan atau sekitar 177 miliar dolar AS pada 2025. Angka ini diproyeksikan tumbuh lebih dari 30 persen tahun ini.

Selain itu, China juga menjadi negara dengan jumlah pengajuan paten AI generatif terbanyak di dunia menurut World Intellectual Property Organization (WIPO). LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 18 Juli 2026 dengan judul "WAIC 2026 Jadi Panggung Untuk Tandingi AS Presiden China Tolak AI Didominasi Satu Negara"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.