Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 50% Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan
- Masinis KA Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Tabrakan Maut di Bekasi
- RUU Perampasan Aset, Gerindra: Harus Ada Ganti Rugi untuk Korban Salah Sita
- Jutaan Hektare Lahan Rusak di Kalimantan Ternyata Masih Bisa Dipulihkan
- Mega Terharu dengan Perhatian Prabowo Takziah atas Wafatnya Guruh
IHCBS 2026 Tekankan AI dan Talenta Jadi Kunci Produktivitas
Senin, 21 September 2026 15:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), bersama OneGML, QuBisa dan Kontan menempatkan pendekatan human-centric sebagai salah satu pesan utama dalam penyelenggaraan Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026, di NICE PIK 2, Tangerang, pada 15–16 September 2026.
Chairman of Steering Committee GNIK Yunus Triyonggo menyampaikan, tiga pelajaran utama dalam penyelenggaraan tersebut yakni pentingnya kolaborasi, masifnya perkembangan AI dan kebutuhan continuous learning.
Serta, keterkaitan hubungan kecerdasan buatan atau artificial Intelligence (AI) dengan talenta dan produktivitas. Menurutnya, perkembangan kecerdasan artifisial mendorong perubahan besar dalam cara organisasi bekerja, mengelola talenta dan meningkatkan produktivitas.
Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi. Sebab, kesiapan manusia, kepemimpinan, budaya organisasi, serta kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar transformasi digital menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
Artinya; teknologi dipandang bukan sekadar alat untuk menggantikan pekerjaan. “Melainkan, sarana untuk memperkuat kapasitas manusia dan mendesain ulang cara organisasi bekerja,” ujar Yunus dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Adapun, IHCBS 2026 mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity”, dengan menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional.
Sekaligus, mempertemukan sekitar 6.000 peserta dari sektor swasta, Pemerintahan, akademisi dan praktisi human capital. Di kesempatan yang sama,
Baca juga : Kemendikdasmen Kirim 20 Talenta Vokasi Indonesia Ke WorldSkills Shanghai
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengakui, perubahan teknologi dan AI membawa konsekuensi terhadap struktur pekerjaan, sekaligus kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Karena itu, penerapan AI perlu dibarengi strategi pengembangan manusia. Ia pun menekankan, pentingnya kebijakan yang berpusat pada manusia dalam memperkuat daya saing nasional.
Mengingat, ada empat prinsip People-Centric AI, yakni memperkuat kemampuan manusia, melibatkan pekerja dalam proses transformasi, menjaga kendali manusia, serta mempersiapkan pekerja menghadapi perubahan.
“Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai teknologi yang memperkuat manusia,” katanya.
Perubahan yang terjadi di dunia kerja tidak selalu berarti hilangnya pekerjaan, tetapi juga munculnya cara kerja dan tuntutan kompetensi baru.
“Sekadar menggantikan pekerjaan, AI mengubahnya dengan cara-cara yang secara fundamental berbeda,” katanya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Stella Christie menekankan, pentingnya menyiapkan sumber daya manusia seiring pertumbuhan AI yang berlangsung secara eksponensial. Menurutnya, perkembangan AI sekaligus membuka peluang bagi Indonesia, termasuk dalam pengembangan computing power, pusat data dan kebutuhan energi.
Baca juga : 20 Talenta Muda Siap Beri Hasil Terbaik Buat Bangsa
Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan sumber daya manusia agar Indonesia mampu mengambil manfaat dari perubahan teknologi.
“Kita perlu menyiapkan Human Capital saat ini. Kalau tidak, kita akan termarginalisasi, akan kalah dan Indonesia akan mengalami hal yang tidak diinginkan,” katanya.
CHRO Bridgestone Asia Pacific Paul Choo mengungkapkan, AI dapat menjadi enabler untuk mendesain ulang pekerjaan dan organisasi. Karena itu, transformasi perlu mencakup peningkatan kapasitas tenaga kerja, transformasi fungsi HR, desain ulang pekerjaan dan alur kerja, serta perubahan budaya dan kepemimpinan.
“AI tidak sekadar mengubah pekerjaan. Ini mengubah cara alur kerja melalui organisasi. Anda perlu mendesain ulang antara (pekerjaan) Manusia dan AI,” ucapnya.
Sementara itu, Managing Director HC Danantara Aset Manajemen Agus Dwi Handaya, turut memperkenalkan pendekatan PeopleMath untuk melihat kinerja manusia secara lebih menyeluruh.
Menurut dia, pengukuran kinerja tidak cukup hanya berfokus pada angka. Tetapi, juga perlu memperhatikan pertumbuhan manusia dan nilai yang diwariskan dalam organisasi.
“Angka menunjukkan apa yang kita capai, manusia yang bertumbuh menunjukkan apa yang kita wariskan,” katanya.
Baca juga : Aplikasi Anak Bangsa Siap Naik Kelas Ke Pasar Global
Sementara itu, Executive Director ETS for Institutional Programs in Southeast Asia Jonathan Tahir menyoroti, pentingnya menyesuaikan standar global dengan kebutuhan nasional.
Menurut Jonathan, praktik terbaik dari luar negeri tidak selalu dapat diterapkan secara langsung.
“Organisasi perlu menyesuaikan standar global dengan konteks lokal agar menghasilkan daya tahan dan kapasitas yang relevan,” kata Jonathan.
Pembahasan IHCBS 2026 juga diperkuat hasil survei mengenai penggunaan AI di perusahaan yang dipaparkan CEO Impactum Insights Vlad Hatieganu.
Jonathan menuturkan, dalam survei tersebut menunjukkan, perubahan pekerjaan tidak dapat dihindari seiring perkembangan teknologi. “Namun, keterampilan manusia tetap memiliki nilai dalam dunia kerja,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya