Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hoarding disorder adalah gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya merasa sangat sulit membuang atau berpisah dari barang-barang miliknya, terlepas dari nilai atau kegunaan barang tersebut. Penderita kesulitan untuk membuang benda-benda yang dimiliki karena adanya keinginan yang kuat untuk menyimpannya. Penderita kemudian akan merasa stres, cemas, dan bersalah ketika harus membuang barang-barang tersebut. Akibatnya, barang-barang terus menumpuk lebih banyak, padahal sebagian di antaranya cenderung tidak bernilai atau sudah rusak.
Gejala seseorang yang mengidap hoarding disorder seperti menyimpan benda-benda yang tidak berguna, rusak, atau sudah tidak diperlukan seperti koran bekas, pakaian kotor, struk belanja, kardus, hingga sampah makanan. Seiring waktu, tumpukan tersebut membuat fungsi rumah hilang. Kamar tidur tidak bisa dipakai untuk tidur, dapur tidak bisa dipakai untuk memasak, bahkan akses keluar-masuk rumah pun tertutup.
Selama ini, masyarakat sering salah mengartikan hoarding sebagai sifat malas, jorok, atau terlalu sayang barang. Padahal, menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition), hoarding disorder termasuk gangguan obsesif-kompulsif yang membutuhkan intervensi profesional. Penderita bukan tidak mau bersih, melainkan tidak mampu membuang karena adanya keterikatan emosional yang berlebihan dan rasa takut yang tidak rasional jika barang tersebut akan dibutuhkan suatu saat nanti.
Baca juga : Lingkungan Bersih Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Dalam perspektif Ilmu Kesehatan Masyarakat, hoarding bukan lagi urusan privat. Dampaknya meluas dan membahayakan komunitas.
Dari segi kesehatan lingkungan, rumah dengan tumpukan barang yang tinggi menjadi sarang ideal bagi vektor penyakit. Tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk berkembang biak dengan mudah. Sirkulasi udara yang buruk dan debu yang menumpuk memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), alergi, dan pertumbuhan jamur. Risiko kebakaran juga meningkat tajam karena material mudah terbakar menumpuk dekat instalasi listrik yang tidak terawat. Pada lingkungan padat seperti di perkotaan Sumatera Utara, satu rumah hoarding dapat menurunkan kualitas sanitasi satu RT dan menjadi sumber penularan penyakit.
Dari segi kesehatan mental sosial, keluarga yang tinggal serumah dengan penderita mengalami beban psikologis berat, mulai dari stres kronis, konflik, rasa malu sosial, hingga isolasi. Tetangga juga terdampak karena bau tidak sedap, pemandangan kumuh, dan turunnya nilai estetika lingkungan. Hal ini dapat memicu stigma dan pengucilan, bukan bantuan.
Baca juga : Hidup Tanpa Notifikasi: Mungkinkah?
Dari segi epidemiologi, hoarding disorder adalah epidemi tersembunyi. American Psychiatric Association mencatat prevalensi hoarding disorder mencapai 2-6% populasi dunia, meningkat pada usia di atas 60 tahun. Namun di Indonesia, data kasus masih sangat minim. Belum ada sistem skrining di Puskesmas, sehingga kasus sering terlambat terdeteksi dan baru ditangani setelah ada laporan warga karena sudah sangat mengganggu.
Penanganan hoarding disorder tidak bisa hanya dengan aksi bersih-bersih massal. Tanpa terapi perilaku kognitif dan pendampingan psikologis, perilaku menimbun akan kembali dalam hitungan minggu.
Oleh karena itu, diperlukan peran aktif Kesmas melalui deteksi dini berbasis komunitas, edukasi untuk menghilangkan stigma, dan kolaborasi antara tenaga kesehatan jiwa, kesehatan lingkungan, dan aparat desa. Rumah harus kembali menjadi tempat yang sehat dan aman, bukan menjadi sumber penyakit itu sendiri.
IKM10 UINSU Stambuk 2026c
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya