Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri, ReJO Harap Polri Makin Humanis
- Suyudi Ario Seto Kapolri, Sugiono PMK, Bahlil Menko Hilirisasi & Transisi Energi
- Pastikan Antrean Haji Lebih Akurat, Kemenhaj-Kemendagri Padankan Data Jemaah
- Menpora Erick: Nurisa Buktikan Juara Harus Berjuang Sampai Anak Panah Terakhir
- Badan Pengkajian MPR RI Serap Aspirasi Ekonomi Kreatif Karimunjawa
59 Nakes Lulus Pelatihan Epidemiologi
AS Perkuat Garda Kesehatan Indonesia
Selasa, 29 September 2026 07:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sebanyak 59 tenaga kesehatan (nakes) Indonesia kini diperkuat dengan keterampilan investigasi wabah, surveilans dan analisis data setelah menuntaskan pelatihan epidemiologi yang didukung Amerika Serikat (AS).
Para tenaga kesehatan tersebut merupakan peserta Field Epidemiology Training Program (FETP) Frontline Angkatan 11 dan 12. Mereka mengikuti pelatihan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan, Ciloto, Jawa Barat, pada Mei hingga September 2026.
Pelatihan ini mendapat dukungan melalui program Global Health Security (GHS) Departemen Luar Negeri AS.
Sebanyak 59 lulusan tersebut berasal dari berbagai Puskesmas di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Selama pelatihan, mereka mendapat pembekalan berbasis lapangan, termasuk investigasi wabah, surveilans, serta analisis data.
Baca juga : Tren Skincare di Media Sosial dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Kulit Remaja
Keterampilan tersebut dibutuhkan untuk mendukung target 7-1-7 Indonesia dalam penanganan ancaman kesehatan. Target ini mencakup kemampuan mendeteksi ancaman dalam tujuh hari, melaporkannya dalam satu hari, dan merespons dalam tujuh hari.
“Hari ini, kita tidak sekadar menutup sebuah program pelatihan, kita meluluskan 59 penjaga kesehatan masyarakat yang berada di garis depan,” ujar Kepala Unit Kesehatan Kedutaan Besar AS di Jakarta Eni Martin dalam keterangan pers yang diterima Rakyat Merdeka, Senin (28/9/2026).
Menurut Martin, kehadiran para lulusan tersebut merupakan bukti komitmen bersama untuk melindungi masyarakat melalui kemampuan mendeteksi, melaporkan, dan merespons ancaman kesehatan secara cepat dan tepat.
Program FETP Frontline juga mencerminkan kemitraan jangka panjang Indonesia dan Amerika Serikat dalam memperkuat keamanan kesehatan.
Baca juga : Sarapan Pagi dah Pengaruh terhadap Produktivitas Mahasiswa
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Dr. Sumarjaya mengatakan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari selesainya pelatihan.
“Tetapi juga dari sejauh mana kompetensi yang mereka peroleh dapat diterapkan untuk meningkatkan surveilans secara nyata,” ujarnya.
Dia menekankan pentingnya kemampuan mendeteksi, melaporkan dan merespons ancaman kesehatan masyarakat secara cepat dan efektif.
Setelah menyelesaikan pelatihan, para lulusan resmi bergabung dengan Asosiasi Epidemiolog Lapangan Indonesia. Mereka kemudian kembali bertugas melayani masyarakat di Serang, Tangerang, Bogor, Bandung Barat, Surabaya dan Malang.
Baca juga : Menjaga Kesehatan Mental saat Beban Kerja Menumpuk
Dengan bekal kompetensi baru tersebut, para tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat sistem keamanan kesehatan dari tingkat layanan terdepan. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya